Catatan Selembar Daun yang Terlepas Lengannya


Pada akhir musim kering kuperhatikan diriku berubah menjadi selembar daun murung.

Aku kesepian di cabang yang ramai. Pohonku tak terasa bagai rumah.

Dan pagi hingga siang hingga petang hingga malam kudapati diriku hanya bergantung pada hasrat ingin mati.

Atau, jatuh cinta, barangkali.

Hingga pada suatu pagi yang basah, kupotong tangkai sendiri agar jatuh ke halaman belakang rumahmu.

Angin mengabari berita buruk setiap hari; perihal hati-hati yang bermigrasi, sajak-sajak yang gagal mencongkel Bima Sakti untuk ditanamkan pada dua mata seseorang, atau dedaunan lain yang kutinggalkan – mereka tengah senang membiarkan kerangkanya lapuk.

Kurasakan bibir-bibir rerumputan berbisik, dan sebuah pertanyaan merayap dari sudut jendela kamar lantai atas; apakah matamu jatuh pada kesedihanku, atau hanya sedang menerka barangkali hujan jatuh malam nanti?

Seperti yang kerap manusia lakukan, aku juga belajar untuk melupakan diri sendiri.

Kuberi jalan pada serangga mana saja yang ingin menggerogotiku. Kubiarkan waktu bercerita tentang persinggahan dan pengingkaran, napas bara yang terasa beku, foto-foto polaroid usang, laut dan langit.

Atau apa saja. Selain tentang hati seseorang yang sungguh mencintaiku.

Kelak saat Tuhan bersedia membiarkanku hijau selamanya, kan kurajahkan puisi-puisi tentangmu di leher dan punggungku.

-Bandung, 17 Maret 2017