Kuterangkan secara lapang tentang persoalan yang mengusir tidurku; aku mencintaimu.

Barangkali engganmu pecah, atau tanda tanya, sekali lagi, yang membelahku. Sementara rasa penasaran tak pernah membiarkan puisi-puisi sarapan dengan tenang.

Dan, kamu perlu tahu, hutan yang menjebakmu kini ialah kubah gelap jantungku. Kamu menyuluh unggun untuk menepikan gamang. Matamu, yang semekar embun, menantang ketakutan semata tak ingin kamu lebih dulu diterkam.

Cinta, malam bisa saja tiada putus. Seperti getirmu yang menjauhkan pintu dari langkahku. Namun, kujanjikan padamu: kelak pagi akan singgah dan berkali-kali basah mimpimu merembes di kain tidurku.

Lalu, tiada selain kamu yang melihat pertanyaan di batas langitku: bagaimana bila yang terluka nanti adalah aku?

Like what you read? Give Fajri Maulana a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.