Apa yang Membuat Kita Bertahan dalam Menjalankan Startup?

Beberapa saat lalu saya diminta untuk menjadi pembicara dalam acara Startuplokal Meetup ke-76 — akhirnya menjadi pembicara juga setelah mengikuti event tersebut berkali-kali dalam beberapa tahun terakhir! :) Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta bertanya hal yang kurang lebih sebagai berikut, “Anda mengembangkan Bukalapak sudah hampir delapan tahun, tentu banyak suka duka, masa sulit maupun senang. Apa yang membuat Anda tetap bertahan untuk terus menjalankan Bukalapak?”

Saya beberapa kali mendapatkan pertanyaan ini, sehingga saya dapat langsung menjawabnya. Namun, saya baru saja membaca buku Grit karangan Angela Duckworth yang saya pikir cocok untuk menambah wawasan terkait pertanyaan ini, sehingga saya coba tuliskan jawaban saya berdasarkan pandangan yang saya baca dari buku tersebut yang saya ramu dengan pengalaman saya sendiri.

Angela adalah seorang Profesor di bidang Psikologi di University of Pennsylvania. Salah satu bidang yang digelutinya adalah menggunakan ilmu psikologi untuk membantu anak untuk maju dan berkembang. Melalui serangkaian riset, Angela mengemukakan bahwa grit — saya coba terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai keuletan atau resiliensi — merupakan salah satu hal terpenting, jika bukan yang paling utama, dalam menentukan kesuksesan seseorang. Grit ini terbagi ke dalam dua elemen, yakni passion (kegemaran) dan perseverance (ketekunan).

Jadi, hal yang pertama yang membuat kita bertahan dalam menjalankan startup adalah memastikan bahwa kita menggemari hal tersebut. Follow your passion mungkin bukan suatu hal yang asing kita dengar. Yang mungkin tidak semua orang tahu adalah, passion bukanlah hal yang serta merta turun dari langit, seolah kita mendapat pencerahan atau aha moment (“Ternyata inilah passion saya!”).

Kegemaran merupakan suatu hal yang tumbuh melalui proses discovery (pencarian), development (pengembangan), dan deepening (pendalaman seumur hidup). Sangat mungkin bidang yang ternyata menjadi kegemaran kita ternyata awalnya tidak kita sukai, namun ternyata setelah melalui proses interaksi, latihan, dan semacamnya, barulah menjadi kegemaran kita.

Jadi, buat Anda yang merasa belum memiliki passion, atau merasa bahwa pekerjaan yang Anda kerjakan sekarang bukan passion Anda, coba renungkan kembali. Jangan-jangan kita sebenarnya menggemari hal tersebut, tetapi karena berbagai hal (kesibukan pekerjaan, hal-hal administratif terkait pekerjaan, dan semacamnya), kita menjadi kurang menyukai pekerjaan kita. Angela menyampaikan bahwa mungkin saran yang tepat buat anak muda atau lulusan yang baru masuk ke dunia kerja bukan follow your passion, melainkan foster your passion, karena kegemaran mungkin sudah ada di sekitar kita, hanya saja mungkin kita tidak menyadarinya.

Nah, bagi Anda yang membangun startup, besar kemungkinannya bahwa Anda memang menggemari startup tersebut — jika tidak, mengapa membangunnya? — namun boleh jadi ada alasan lain selain kegemaran yang menjadi dasar anda membangun startup tersebut, misalnya potensi bisnis. Jika ternyata startup tersebut bukan kegemaran Anda, Anda perlu mengkalkulasi opportunity cost apabila Anda memilih untuk mengembangkan startup baru (dibandingkan dengan meneruskan startup Anda yang sekarang), karena tentunya Anda perlu menginvestasikan waktu dan sumber daya lainnya dari awal.

Saran saya, jika memungkinkan, teruskan startup Anda, karena kegemaran itu sesuatu yang dapat ditumbuhkan. Anda mungkin memulai startup karena hal lain (bukan karena kegemaran), tetapi seiring tumbuhnya startup Anda, bisa jadi Anda menumbuhkan kegemaran akan hal tersebut.

Analogi passion yang menarik (meski mungkin tidak 100% sama) yakni jodoh. Menemukan jodoh atau jatuh cinta kepada jodoh itu mungkin penting, tetapi yang juga tidak kalah pentingnya atau bahkan mungkin lebih penting yaitu berkomitmen atau tetap jatuh cinta kepada jodoh tersebut. Demikian juga dengan passion. Kegemaran itu perlu dilatih, dibina, dan dikembangkan, bukan hanya diterima sejak awal.

Hal berikutnya yang sangat membantu kita bertahan dalam menjalankan startup adalah membangun ketekunan dengan mencari makna di balik kegiatan tersebut. Makna suatu kegiatan/pekerjaan dapat ditemukan di seluruh pekerjaan tanpa kecuali. Sebagai contoh, pekerjaan kasar seperti tukang bangunan. Apabila mereka sedang menyusun batu bata untuk sebuah tempat ibadah dan ditanya, apa yang sedang Anda lakukan? Jawabannya bisa bermacam-macam:

1. Saya sedang menyusun batu bata

2. Saya sedang membangun tempat ibadah

3. Saya sedang membangun rumah Tuhan

Jawaban pertama menandakan aktivitas, jawaban kedua menandakan karir/pekerjaan, dan jawaban ketiga menandakan purpose (makna/panggilan). Hasil riset Angela mengemukakan bahwa orang yang memiliki makna dalam kegiatan yang dilakukannya, plus dia sangat menggemari hal tersebut, memiliki kemungkinan berhasil paling tinggi dibandingkan dengan lainnya.

Jadi, untuk membangun ketekunan, carilah makna yang sebesar-besarnya akan startup yang sedang Anda bangun, meskipun bisa jadi ketika di awal Anda membangun startup, Anda belum berpikir sampai sana. Sebagai contoh, ketika Zuckerberg pertama kali membangun Facebook, mungkin yang ada di dalam benaknya hanya bagaimana menghubungkan mahasiswa-mahasiswa Harvard yang cool dalam suatu tempat. Namun saat ini, makna/panggilan Facebook bagi Zuckerberg adalah bagaimana membuat seluruh umat manusia di muka bumi ini terhubung satu sama lain.

Lihatlah kembali apakah startup Anda memberikan impact positif kepada masyarakat? Sebagai contoh, startup p2p lending atau crowdfunding memberikan manfaat langsung kepada UKM atau lembaga/kegiatan yang diberikan pendanaan. Startup yang menjual produk2 organik tentunya memberikan manfaat langsung bagi petani atau pelaku usaha agraris yang menjadi produsen startup tersebut. Startup edtech memberikan manfaat baik bagi guru maupun murid di seluruh penjuru negeri. Masih banyak lagi contoh lain startup yang dapat kita pelajari.

Apabila Anda sudah menemukan makna tersebut, cobalah untuk dokumentasikan sebagai pengingat untuk dilihat kembali di kemudian hari, terutama ketika Anda sedang kurang bersemangat.

Makna atau alasan kuat ini menjadi penting saat ini karena saya melihat ada kecenderungan startup ini menjadi hype dalam arti (sebagian) orang membangun startup karena ikut-ikutan. Mereka melihat bahwa startup tumbuh cepat selama beberapa tahun terakhir sehingga mereka berpikir ini dapat menjadi kesempatan instan untuk sukses.

Yang mereka kurang melihat adalah, lebih dari 90% startup itu berakhir dengan kegagalan. Yang masih bertahan pun banyak yang belum tentu akan terus bertahan (masih ada risiko akan gagal). Jalan untuk sampai kepada tahap yang terlihat oleh masyarakat pun bukan lurus-lurus saja, melainkan melalui berbagai proses jatuh bangun dan menghadapi berbagai kesulitan.

Seseorang yang ingin membangun startup karena ikut-ikutan dan berharap sukses dengan instan, biasanya ketika menghadapi masalah akan kebingungan atau shocked. Berbeda dengan orang yang membangun startup karena memiliki makna atau alasan yang kuat. Mereka akan lebih tahan banting atau tidak mudah menyerah. Oleh karena itu, sekali lagi, milikilah makna yang kuat dalam membangun startup Anda.

Terakhir, akan lebih mudah apabila Anda tidak membangun startup sendiri, tetapi dengan partner. Apabila ada 2–3 orang pendiri startup, mudah-mudahan dapat saling melengkapi dan memberikan semangat, sehingga ketika ada salah satu yang sedang merasa down, partner lain dapat memberikan motivasi.

Semoga startup kita tetap bertahan! :)