mencari Berlin di Semarang

gambar di rujuk kepada sumber yang tidak diketahui, gambar bukan milik penulis

senja masih saja mengirngi rasa gelisah yang kian menjadi, rasa yang makin tak keruan. ranum rasanya dalam diriku, memekarkan seteko air menjadi teh hangat yang penuh dengan aroma khas jasmine. ruang kosong beranda apartemen pas-pasan memperlihatkan angin sore yang makin sepoi-sepoi meniup gorden putih. “ah mungkin barangkali hanya sore yang hangat” begitu aku rasakan dalam hati. begitu memikat memang ketika di luar langit cerah yang indah. rona warnanya seakan memanggilku untuk keluar dari peradauan kursi dan meja yang tepat menghadap beranda.

sembari membuka catatan-catatan masa lampau ku bersama membuka foto album, memoar akan rasa itu pun kini mengiringi detik demi detik jam yang pelan namun setia menunjukan waktu. rasa kesal memang kadang muncul pada memoar-memoar itu. mengapa dan selanjutnya bagaimana ketika memoar itu muncul.

begitu sempitnya dunia kini malah membuat gairah para petualang semakin menciut. gairah untuk menemukan jalan-jalan baru, tempat baru yang eksotis tanpa di ekspose kedunia luar. hanya karangan tulis yang membuat rindu saja mungkin bagiku sudahlah cukup. seperti halngya aku sendiri yang malah terjebak oleh berurat dan beradu cepat untuk menyelesaikan tulisan ini. entah semangat apa yang menjadikan diriku ini makin pandai menciptakan romantika yang sesungguhnya adalaha kekosongan.

teh hampir aku teguk setengah cangkir yang aku nikmati, menjadi semakin jengkel dengan apa yang telah terlintas dalam benak pikiran. dia muncul kembali dalam kehidupanku, entah mengapa, apakah memang untuk aku selesaikan dan sesalkan dalam tulisan ini. bahkan hingga mimpikupun pagi tadi aku rasai dia menghampiri aku lalu dengan lindap dan samar dia mengatakan sesuatu yang aku tak bisa menangkapnya.

semua panca inderaku hanya terdiam ketika bertemu dengannya bahkan dialam imajinasipun aku selalu melayang tak tahu akan apa yang harus aku lakukan. menghitung bagaimanapun juga setiap gerak-gerik yang aku lakukan. tapi di kehidupan nyata rupanya aku begitu sulit untuk tidak jauh dengannya. bagaimana bisa seorang yang masih saja seperti aku ini tak jauh darinya. ah mungkin ini hanya ujian,begitu surgawi rupamu yang mampu memadamkan segala bentuk amarahku. entah angin darimana yang seperti biasa dahulu aku, gampang marah dan memincimkan bahwa setiap jengkal dari kesalhanku mungkin adalah kesalahan orang lain pula yang mereka tak mau mengakuinya.

setiap inchi dari jalur kereta api yang setiap kali menjadi incaran untuk mempertaruhkan segalanya, untuk masa yang lebih baik.

hanya sekedar menjelajah setip sudut kota memang membosankan bagiku, ya walau hanya mahasiswa tak berpenghasilan. malah dinilai hanya menghamburkan uang, hanya untuk menata hidup, katanya menata hidup, bahkan tak sejengkalpun main-main aku disini.

disisi jauh sana walau aku pernah berkenalan pernah menjajaki bagaimana kehidupanmu dan kehidupan orang tuamu yang mana aku ketahui adalah seorang jaksa dan dosen. aku tak pandai berbicara di muka umum.

begitu menjadi dosa ketika ada suatu gagasan yang indah bukan hanya untuk diriku saja namun untuk bangsa ini. kandas, kandas tepat di lidah,

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Muhamad Fajrul Annas’s story.