Mencari Koruptor; Ibarat mencari Serigala dalam Permainan WereWolf,

Beberapa saat lalu saat-saat awal-awal semester saya sering , dan mungkin cukup intensif bermain werewolf. Sebuah permainan dimana kita dituntut untuk bermain peran yang telah ditentukan secara acak. Permainan ini menentukan kejelian dari para pemain untuk menemukan siapa sebenarnya pemain yang berperan sebagai serigala. Permainan yang mungkin oleh para pembaca sering dengar bahkan sering dimainkan oleh para pembaca. Baik melalui aplikasi di smartphone. Atau gawai yang sering sekali dipegang oelh teman-teman saat ini. Melalui Aplikasi yang di tambah fitur Artificial Intellegence yang biasanya berbentuk bot-chat yang difungsikan sebagai narator dalam permainan WereWolf.

Dalam memainkan permainan ini saya pernah melakukannya dengan dua cara yakni dengan teman-teman melalui jejaring sosial seperi menggunakan LINE. Atau secara langsung bahkan langsung dialam liar, menggunakan kartu, dan berkumpul dibawah naungan bulan serta gemerlapnya api unggun di tengah huta belantara. Jujur ketika bermain secara langsung emosi dan cara saya memerankan berbagai peran yang di tentukan sungguh terbawa oleh sang narator. Iya, walau hanya alur ceritanya hanya itu-itu saja. Namun cara pembawaan dari narator lah yang menentukan jalan cerita yang di rasa cukup menegangkan dan membuat was-was.

Isi dari permainan ini mungkin hanya saling tuduh, dan menebak-nebak saja siapa yang menjadi sang Srgala berkulit rakyat jelata. di balik cara saling tebak ini saya memmperkirakan pasti ada dimana otak dan psikis kita menganalisis gerak-gerik dari teman-teman disekitaran kita. Dari analisis dan permis yang di tentukan ini, berikutnya akan ditantang lagi dengan suara publik yang banyak. Suara atau pendapat publik yang memperkirakan bahwa permis yang disimpan baik-bak dalam pikiran harus di analisis ulang. Atau bahkan akan kalah dan goyah, serta mengindikasikan bahwa pemain hanya ikut-ikutan suara terbanyak.

Dalam analisis sosiologi masyarakat , ini sering terjadi apalagi ketika terjdai perselisihan pendapat. Cara memainkan pernan di kalangan masyarakat yang dimana kita dapat memainkan, masyarakat dalm jumlah massive. Hanya dengan pengaruh atau dipegaruhi oleh suara mayoritas atau bahkan apabila suara minoritas namun teguh dalam menarik pendapatnya bisa saja menang melawan pendapat suara mayoritas.

Cara menyampaikan gagasan dan secara mendlam dengan kuat menentukan Who’s in Our Story is ? , atau siapa sebenarnya cerita yang akan kita bangun. Ketika persuasi , atau pendekatan secara menjelas dan mendalam terlebih kepada masyarakat yang hanya mengikuti kebanyakan suara. Pemanfaatan isu yang belum tentu benar, sering dijadikan alat politik, apalagi ketika alat media, yang kini kebanyakan pemiliknya turut serta bermain dalam kancah perpolitikan. Khususnya di Indonesia.

Kembali lagi ke pembahasan mengenai, pendekatan para serigala yang kadang gelagaknya susah untuk di temukan. Mereka (para serigala) memberikan atau melempar opini kepada Warga Desa (masyarakat/pelaku politik). Menggiring warga desa atau para pelaku lain memilih yang lainnya, bahkan untuk membunuh pemain-pemain kunci seperti mata-mata, pemburu, dan peran lainnya yang di nilai cukup membahayakan keberadaannya.

Cara yang dilakukan oleh para serigala ini dinilai lazim oleh para serigala, bahkan ketika ada salah satu anggota komplotan dicurigai, serta tidak dapat membela dirinya. Dengan kata lain sang serigala berhasil dicurigai dan tak dapat berkilah, maka anggota lain dengan enak akan membunuhnya. Dalam Komplotan ini tidak ada yang biasa disebut sebagai kawan, semua hanya berdasarkan pada kepentingan.

Bahkan ketika para serigala akan mendiskusikan sesuatu hal, mereka hanya akan menggunakan bahasa isyarat tertentu. Tanpa berkumpul atau bertatap muka secara langsung. Mereka sadar ketika mereka melakukan tindakan kongkalikong baik sembunyi-sembunyi atau bahkan secara terbukas megumpulkan komplotannya, mereka akan berdalih bahwa perkumpulan atau pertemuan yang dilakukan hanya sharing, atau hanya sebagai suatu yang tak begitu penting.

Menterjemahkan bahasa politik dari para koruptor sebenarnya susah-susah gampang. Gampang ketika mereka para politisi merasa tertekan dengan keberadaan yang lain dan menjadikan setiap pekerjaan mereka terganggu. Seperti halnya para pemburu, hewan yang diburu akan merasa tak baik-baik saja ketika mengetahui ada yang akan membunuhnya. Baik secara diam-diam maupun secara terang-terangan.

Bagi para serigala yang bermain di dunia di balik malam, ada keramaian dan kelancaran komunikasi ketika mereka akan menerka mangsa mereka. Semua yang dilakukan bergantung pada kegiatan yang tak semestinya di lakukan. Tak seharusnya di komunikasikan seperti akan membunuh ketika pagi menyerang, baik secara fisik langsung atau hanya secara gertakan. Yang bai para pemburu hanyalah nyinyir omong kosong belaka.

Kini mereka berada disekitaran kita, baik disampingmu aau bahakan mereka para serigala adalah teman dekat, bahkan kerabat darah. Mereka siap memberi makan enak namun membunuhmu dengan cara membungkam mu. Mencarikan jalan keluar bagi permasalahanmu, yang sebearnay malah membuka jalan kepada mu untuk jatuh kelubang yang sama. Semua hal itu kini bergantung pada diri kita, bergantung pada keputusan untuk membunuh, dan keputusan untuk menentukan arahan cara berkilah, dan mempertahankan gagasan.

Like what you read? Give Muhamad Fajrul Annas a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.