Narasi Pengabdian

Pernakah kalian menjadi orang tua dalam waktu beberapa hari? Maksudku, apakah kalian pernah melakukan aktivitasnya sehari — hari demi menyambung hidup keluarga?

Selama 10 hari kedepan orang tuaku akan bertolak ke tanah suci untuk menjalani serangkaian ibadah umroh. Kebetulan waktu itu bertepatan dengan adanya kegiatan diklat terpusat. Maka, terpaksa aku harus pulang lebih awal dan meninggalkan kegiatan tersebut. Namun, tepat sehari sebelum orang tuaku berangkat, beliau menulis surat. Tertulis rapi dengan tulisan latin miring yang khas. Tertulis dengan jelas bahwa terdapat kata wasiat dalam lembar tersebut.

Takut, sedih, bingung, deg — degan.

Kenapa? Ya karena lazimnya sebuah surat wasiat ditulis pewasiat untuk mengurusi hartanya apabila meninggal dunia. Namun saat itu aku masih belum siap jika aku ditinggalkan selama — lamanya oleh orang tuaku. Hati ini hanya bisa berpasrah diri ke Yang Di Atas.

Ternyata sekarang aku menyadari, perasaan yang dirasakan teman — temanku ketika harus kehilangan salah satu orang tua mereka sewaktu SMA. Maksudku, diri ini tak pernah se-melankolis ini. Apakah kalian pernah berpikir, akankah kalian bisa tegar saat berada pada posisi mereka yang ditinggalkan orang tua ? Siapa yang akan mencari nafkah jika yang meninggal itu ayah? Siapa uang akan mengatur urusan rumah tangga bila yang meninggal ibu?

Aku yakin kalian sepemikiran denganku yang tidak mau dalam posisi sulit tersebut. Tapi, bangunlah kawanku, nyawa dititipkan tidak untuk selamanya. Begitu juga semesta yang dibuat hanya sementara. Kita hanya menunggu giliran untuk keadaan tersebut tiba.

Dibacanya wasiat tersebut dengan seksama. Banyak tanggung jawab yang terkandung dalam surat tersebut yang harus ditunaikan.

Sedekit demi sedikit amanah yang dititipkan kepada kakak beradik ini dikerjakan, seperti menggantikan posisi ayah dalam rapat dengan kolega bisnisnya, memimpin usaha keluarga, dll. (kebetulan orang tuaku berwirausaha). Atau melakukan peran ibu yang mengatur keuangan dan membersihkan seisi rumah (menyapu, mencuci, mengepel dsb).

Dalam pelaksanaan tanggung jawab tersebut, aku paham betul bagaimana kerasnya untuk mengais rezeki dan lelahnya membereskan rumah. Tak bisa kubayangkan bahwa hal hal diatas dihadapi oleh dua orang hebat setiap hari.

Sungguh menakjubkan bukan, Tuhan menganugerahkan setiap anak dengan dua orang hebat.

Renungan

Betapa menyedihkannya bila orang tua mu menyuruhmu namun tidak dilakukan padahal itu hanya sebagian kecil dari kesibukan beliau . Keegoisan kita terkadang mengubah itu semua. Beda tipis memang antara anak sebagai ujian atau sebagai beban hidup bagi mereka. Sudah semakin tua berarti juga harus semakin bermanfaat, mari perlahan mengubah status penikmat harta orang tua menjadi mengabdi kepada ilahi dan orang tua.

Semoga narasi ini selalu menjadi refleksi dan selamat mengabdi.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.