Pesan Kepada Pejuang

Untuk aku, kamu, dan penjuang millenial lainnya

Foto Angkatan Bhawikarsu 2016

Akhir — akhir ini disaat stagnasi menyerang ku seorang diri di perantauan pikiranku sering dibayangi masa lalu saat berseragam putih abu abu. Kuputuskan untuk membuat beberapa tulisan singkat yang aku tujukan kepada diriku sendiri dan untuk generasi dibawahku. Apalagi sekarang ini adalah waktu yang tepat karena memasuki tahun ajaran baru, yang artinya regenerasi dimulai dengan adanya kegiatan tahunan bernama “MPLS” (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Dan ditengah menurunnya rasa ‘ke-bhawikarsu-an” yang aku dengar dengar dari beberapa orang. Sebagai kaderisasi awal penanaman empat nilai penting, Bhaktya, Widagdha, Karya , Sudhira dan penyebarluasan wawasan wiyata mandala untuk mereka para pejuang baru.

Mungkin aku akan membuat sebuah komparasi antara masa pengenalan sekolah yang aku rasakan dulu dengan sekarang. Untuk menunjukkan perbedaan, mulai dari cara penyampaian nilai tersebut hingga dampaknya. Perlu diingat bahwa perbedaan yang terjadi bukanlah untuk menyalahkan salah satu MPLS pada jamannya melainkan kita dapat mengetahui bahwa perbedaan itu ada karena kondisi yang divergen, latar belakang yang tak serupa, dan input siswa yang tidak bisa dipukul rata sama setiap tahunnya.

Aku menangkap bahwa kakak panitia menyampaikan nilai fundamental secara tersirat seperti kedisiplinan, sopan santun, kebersamaan, ketaatan akan peraturan hingga aturan birokrasi. Setidaknya melalui beberapa peristiwa dibawah ini walaupun pada mulanya aku mengira esensi nya tidak ada.

  1. Kekerasan verbal

Hampir semua orang menganggap bahwa membentak, dimarahi, dsb adalah hal yang buruk atau dianggap perpeloncoan oleh siswa baru dan para wali murid. Namun mari kita lihat dari perspektif yang berbeda, yang dapat aku simpulkan adalah kekerasan verbal itu terjadi karena ada alasannya. Wajar dong jika kita salah dengan hal sepele lalu dilakukan berulang kali dan tidak hanya dilakukan satu orang hingga sudah keterlaluan lalu dimarahi? Memang itu sesuatu yang pantas didapatkan.Namun dari yang aku rasai dampak dari kekerasan verbal adalah bagaimana kita harus bisa berpikir dalam keadaan tertekan, tetap dapat berinteraksi dua arah dengan kakak panitia meskipun dengan suasana tertindas, dapat mengerti kesalahan sendiri dan mencari solusi, serta menghasilkan individu yang tidak manja (dapat menyelesaikan masalahnya sendiri).

2. Tugas aneh — aneh

Tugas untuk membuat tanda pengenal untuk identitas diri sendiri yang cukup rumit memang membuat frustasi ditambah lagi dengan membuat buku angkatan dengan cover yang sulit demi menyamakan satu angkatan. Dan hikmah yang bisa diambil adalah untuk mengerjakan seperti ini harus dilakukan bersama — sama. Agar interaksi sosial diantara siswa baru itu terjadi, membiasakan rasa gotong royong, memupuk rasa tanggung jawab akan amanat yang diperintahkan. Berkat kerjasama dengan satu ton maka tugas tersebut menjadi terasa ringan. Tugas tugas seperti ini pun juga aku jumpai saat kaderisasi di perkuliahan. Jadi jangan berpikiran yang tidak tidak dulu jika diberikan tugas seperti di atas.

3. Mencari tanda tangan

Sungguh malang nasibku dulu mengorbankan jam jam istirahat dengan mengantre meminta tanda tangan puluhan orang di sekolah. Rasa senang setelah mendapat tanda tangan kakak panita yang paling susah dimintai dan rasa susahnya mencari orang yang akan dimintai tanda tangan selalu melikupi hal ini. Menurut persepsiku, justru dengan meminta tanda tangan inilah aku tahu sistem birokrasi yang berlaku bahwa meminta tanda tangan mulai dari jabatan yang terendah terlebih dahulu, dengan meminta tanda tangan kepada kakak panitia disitulah interaksi antara senior dan junior terjadi, saling mengenal dan terbentuk ikatan yang kuat. Sebab para siswa disini membutuhkan kolaborasi antar angkatan untuk menghadapi setiap event — event besar.

Barangkali hal — hal diatas adalah bagian kecil dari memori masa pengenalan sekolah ku dulu. Sebenarnya masih banyak cerita unik yang menarik dan aku yakin kalian akan membuatnya sendiri nanti. Oleh karena, mengenal smanti ini bagiku tak cukup dengan tiga hari melainkan tiga tahun jika perlu, agar engkau tahu bahwa nama besar sekolah ini tidak timbul begitu saja. kau perlu tahu bagaimana seluk beluk kehebatan sekolah ini. Aku menulis seperti itu bukan tanpa alasan.

Lihat saja dengan gelar supporter terbaik DBL 7 tahun berturut — turut, Event PSCS yang mampu menampung audience hingga 4000-an orang, prestasi yang terus ditorehkan oleh pejuang bhawikarsu baik dari sisi akademik maupun nonakademik yang dibacakan setiap upacara. Lagi lagi itu semua hanya sebagian kecil dari yang aku ketahui.

Intinya adalah apa yang sudah kamu berikan kepada nama besar sekolahmu bukan apa yang sudah nama besar sekolah berikan kepadamu.

Maka teruntuk kamu generasi penerus, kepada yang sedang menjadi garda terdepan SMANTI aku harap dapat memberikan 4 nilai itu dengan benar dan menjadi contoh layaknya pejuang.

Kepada mereka yang masih baru dan haus akan pembelajaran aku harap bisa menjadi gelas kosong yang siap terisi penuh, jadilah pribadi yang kritis serta membawa SMANTI lebih hebat lagi.

Kepada teman — teman ku silahkan menjalani kehidupan yang sebenarnya.

Jangan berekspektasi terlalu tinggi pada sekolah ini. Karena menurutku sekolah ini hebat bukan karena fasilitas yang luar biasa, teknologi yang canggih, guru yang sangat jenius, ataupun peringkat sepuluh besar nasional. Namun yang membuat sekolah ini hebat adalah siswa — siswinya yang istimewa. Dari situ juga lahir alumni yang istimewa pula.

Semangat sebagaimana kamu dikatakan pejuang, mulailah membentuk jati diri, kejarlah cita — cita mu, buktikan apabila orang mengatakan masa SMA adalah masa yang paling indah. Aku yakin banyak pembelajaran yang akan kamu dapat disini, lantaran tidak semua kelas dibatasi empat dinding.

Ayo katakan dengan acungkan genggaman!

Bravo? Bhawikarsu!

Muhammad Fakhri Aldin

Ikasmariagitma, Bhawikarsu 2016

)

    Muhammad Fakhri Aldin

    Written by

    coffee enthusiast, have interest in writting and lettering, currently pursuing bachelor degree of civil engineering.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade