Tiga Puluh Pertama

Selamat malam karena saya mengetik tulisan pertama saya ini pada malam hari, tepatnya pada jam 23.06 WIB. Mungkin sangat terlihat kaku dan sopan karena ini pertama kalinya saya menulis untuk publik (selain dari posting-an Line dan Facebook serta Twitter dan Instagram yang mostly for fun and a little bit of tugas perkuliahan). Ke depannya bisa lah ya membuka tulisan tanpa perlu basa basi seperti ini.

Dan ya, bahkan saya bingung, haruskah memakai format formal atau tidak pada tulisan kali ini. Jadi, campur aduk weh lah ya.


Sebenarnya untuk tulisan pertama dan first attempt untuk menulis bebas ini, saya bingung mau mulai menulis dari mana. I actually am a wild dreamer with a vast and wide fantasy, yang sayangnya tidak pernah saya tuangkan — karena buat apa dituangkan kalau pada akhirnya hanya berserakan di layar laptop/ catatan kecil tanpa ada niatan menyusun dan mengembangkannya — baik dari pemikiran fiksi, hingga hal-hal nyata yang ada di sekitar (nah ini yang sayang pisan kalau ga dicatet kan) dapat saya rekayasa dengan seru dan menarik (ya pastinya buat saya seru dan menarik, kan protagonisnya saya). Saya orangnya cenderung impromptu, seringkali melupakan struktur awal dari alur saya (karena tadi, gak ditulis sok-sokan hafal di kepala), jadilah begini tulisan saya, kurang rapih dan enak penyampaiannya.

Jadi intinya saya bingung mau mulai menulis dari mana.

.

.

.

Sejujurnya saya bilang saya bingung hanya untuk menggiring pemikiran pembaca bahwa saya sempat bingung, bahwa sebenarnya saya sudah tidak bingung. saya membuat paragraf yang berantakan untuk memberitahu pembaca bahwa saya orangnya impromptu dan (masih saja) malas menulis.

I’ll start with the whys. Kenapa tiba-tiba mau menulis?

Kalau mau dipikir keras, ini tidak terjadi secara mendadak. I’ve got this desire to write ever since i was on my junior high year. I’ve got this urge to make a diary where i can be myself, macam sok sok unyu gitu cerita cerita tentang hari ini, tentang sekolah, teman, pelajaran, makan siang yang selalu dibarengi main, perpustakaan yang menemani hingga orang tua saya menjemput. Namun memang saya anaknya extraverted kalau merujuk ke sixteen personalities, jadi faktor eksternal played out a big turn for me. Yep, no one in my class writes so there i am laying off my desire, tetap tertidur entah di mana di pikiran saya….

Sampai hari ini. Eh engga.

Nah, kalau mau dipikir pikir lagi, bangkitnya keinginan untuk menulis tidak mendadak muncul hari ini (sebenarnya, hari ini sih, tapi maksudnya niatan dan bentuk lainnya sudah terlihat dari perjalanan di ITB), namun sudah ada sejak saya memiliki teman teman yang menulis.

ENFP adalah pribadi yang kompetitif, hampir apapun bisa dijadikan pemicu untuk bersaing. Hidup sangatlah seru bila hal ini dilaksanakan dengan bijak, namun petaka bila terlalu masuk ke luapan kompetisi ini. Sesederhana tidak ada yang merespon ajakan/ lelucon pada group chat, pada saat yang tepat, dapat merusak mood saya, bahkan hari. Ya alhamdulillah saya menyadari kuncinya adalah untuk selalu kompetitif dalam hal yang baik dan wajar saja, pun tidak wajarnya yang saya tau pasti tidak akan merusak suasana hati apapun hasilnya. Misalnya, kompetisi makan mi instan :)

Dari competitiveness tadi, saya merasakan urge untuk menulis, takut tertinggal dengan teman teman saya yang sudah mulai berani menulis (untuk umum tentunya). Sebenarnya inilah pemicu utama untuk tulisan ini, karena saya merasa ini saatnya untuk mencoba sesuatu yang sudah sejak lama saya ingin lakoni.

Selanjutnya, saya tiba-tiba ingin menulis karena saya ingin terbiasa menulis, apapun itu. Ingin terbiasa berekspresi walau masih kaku dan pribadi. Dari buku yang saya sedang baca berjudul Better Than Before dari Gretchen Rubin tentang bagaimana membangun suatu kebiasaan, terdapat tiga kelompok/ cara untuk memulai kebiasaan baik yang baru, yaitu first step (mulailah dengan satu langkah awal), clean slate (pembersihan ‘masa lalu’, untuk memulai suatu hal dari titik nol), dan terakhir, lightning bolt (lesatan kilat yang secara tiba-tiba merubah kebiasaan kita). Secara kebetulan, keputusan saya menulis ini muncul akibat ketiga kelompok ini secara berurutan. Pertama, ini adalah awal tahun 2018 yang menurut saya bisa menjadi clean slate saya (gejolak perasaan seru kalau bisa full menulis 365 hari atau menulis perminggu) ditambah adanya kegiatan 30 hari menulis yang bila saya ikuti, saya ‘terpaksa’ harus menulis setiap hari selama tiga puluh hari berturut-turut. Lalu lesatan kilat datang pada saya, ketika saya dihadapkan dengan 2018 yang berarti sudah akan memulai pertarungan yang masih akan dirahasiakan, yang pada liburan ini menampar saya akan kelemahan saya dalam menulis dan membaca. Maka dari itu saya beranikan untuk mengambil langkah awal, menulis hal receh seperti ini, berharap untuk terbiasa di kemudian hari.

Sepertinya karena waktu sudah menunjukkan pukul 23.53 WIB, dan alasan-alasan saya sudah terangkum di atas (walaupun ada alasan yang mendapat penjabaran luas dan ada yang hanya ditampilkan saja), lebih baik saya cukupkan untuk yang satu ini.

Entahlah.

Dengan tulisan ini saja, saya merasa diri saya sangat pemalas karena saya masih merasa tulisan di atas dapat diolah lebih baik, rapih, dan struktural dengan pelebaran-pelebaran yang pas dan berisi. Terlalu banyak yang melintas di pikiran saya mulai dari akan menulis hingga sedang menulis, too much to be processed in a moment.

Tapi terima kasih banyak bila sudah membaca hingga bagian akhir, semoga web akademik kesayangan membawa kebahagiaan untuk kita semua, dan 30 hari bercerita ini saya penuhi dengan baik.


Tiga puluh pertama, untuk selamanya.

Dari saya, yang masih bingung harus memakai saya atau aku.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.