Teknik Sipil, Semester 3

Mother of technics they said. Ya mungkin nggak salah sih, sudah ada sejak zaman dahulu kala mengingat papan adalah salah satu kebutuhan pokok manusia. Ilmu yang long lasting dengan basic yang gitu-gitu aja sulit untuk berkembang secara signifikan tapi akan terus dibutuhkan. Prinsip yang selalu ditanamkan baik di kelas maupun di lapangan adalah: kesetimbangan dan kekakuan! Kesetimbangan berhubungan dengan keamanan, sementara kekakuan berhubungan dengan kenyamanan. Tidak setimbangnya suatu struktur akan sangat berbahaya mengingat struktur akan digunakan oleh publik yang cukup masif. Tidak kakunya suatu struktur akan menimbulkan perasaan tidak nyaman, akan nggak enak kalau berjalan di lantai yang setiap langkah menapak bergetar, melendut, dan bersuara kan? Ya walau pada prakteknya semua hal tersebut akan sangat bergantung pada sumber daya yang tersedia: dana dan SDM. Maka munculah tuntutan untuk efektif dan efisien dalam bekerja.

Teknik Sipil terbagi menjadi 5 minor atau sering disebut kelompok keahlian, yaitu: struktur, geoteknik, transport, air, dan manajemen rekayasa konstruksi. Struktur dan geoteknik dalam pandangan saya secara keseluruhan sama namun berbeda tempat saja. Keduanya membuat kerangka bangunan agar dapat berdiri kokoh namun struktur dengan ranah di atas tanah, geoteknik dengan ranah di bawah tanah. Keduanya saling bergantung dan melengkapi satu sama lain. Transport sudah jelas sesuai namanya, secara umum mengatur sistem pergerakan agar efektif dan efisien. Luas sekali ranahnya mengingat cakupan transportasi adalah daratan, perairan, dan udara. Di darat saja ada jalan raya dan kereta api. Belum lagi pelabuhan dan bandara pun tak luput dari mata Teknik Sipil. Air sebagai kebutuhan umat menjadi salah satu ranah Teknik Sipil pula, hidrologi, sistem drainase, bendung, rekayasa sungai, pantai, bahkan rawa. Manajemen rekayasa konstruksi alias MRK bertugas sebagai pengatur keberjalanan proyek mulai dari keuangan, SDM, penjadwalan, perizinan, dan hukum proyek. MRK yang membimbing agar proyek dapat selesai tepat waktu dan sesuai dengan yang diharapkan. Sebagai mahasiswa S1 Teknik Sipil kami diwajibkan untuk menguasai kelima minor tersebut, walau untuk tugas akhir boleh berfokus pada satu minor yang menjadi minat utama.

Saya adalah mahasiswa semester 5, ya belum masuk kampus sih. Tapi saya sudah officially passed the 3rd and the 4th semester. Di kampus saya 1 tahun pertama adalah Tahap Persiapan Bersama, dimana satu angkatan dari semua fakultas rumpun IPA mempelajari ilmu penopang dasar untuk ke depannya mencakup: Kalkulus, Fisika, Kimia, Bahasa Inggris, Tata Tulis Karya Ilmiah, Pengantar Teknologi Informasi, Olah Raga, dan beberapa muatan yang sesuai dengan fakultas masing-masing. Saya adalah Gambar Teknik. Lalu untuk masuk jurusan yang diinginkan kami semua menjadi peserta Hunger Games. Meskipun pihak kampus mengatakan bahwa penjurusan diutamakan minat mahasiswa, namun ketika jurusan tersebut ramai sekali peminat apalagi yang akan menjadi indikator? Ya Indeks Prestasi alias IP, jadi ada semacam passing grade. Masuk kampus ini ada passing grade, sudah masuk berjuang sekali lagi untuk mendapatkan jurusan yang diinginkan hashtag wo0oah, hahaha. Jadi technically saya baru mengenal Teknik Sipil selama 2 semester saja.

2 semester terakhir ini penuh kejutan membuat saya kaget. I have to work my ass off the limit, everyday is a struggle here. Mata kuliahnya saya bisa katakan sulit, menuntut kecerdasan dan kerajinan secara bersama-sama. “Pinter aja nggak cukup, lo harus rajin juga. Tugas, tugas, tugas. Sayangnya ketika lo rajin tapi kurang pinter juga ngga akan survive.” Petuah yang saya terima dan alami sendiri. Ada dosen struktur saya yang selalu bilang, “Kalian semua pemahaman dan konsepnya sudah bagus, tapi please hands on! Latihan, latihan, latihan, jangan sampai tangan kalah cepat sama otak.” It happened. Suatu hari kelas saya diberikan 1 soal sederhana, menghitung pusat massa dan inersia balok penampang I dengan ukuran tertentu. Satu kelas soalnya sama, dikerjakan dengan cara dan konsep yang sama, namun ada sekitar 30-an angka jawaban yang berbeda. Dosen saya ketawa aja sambil kasih nilai untuk kita semua, hahaha horror.

Walau saya sering menyebut kata struktur di tulisan ini, hari-hari saya di Teknik Sipil tidak melulu struktur. Di semester 3 saya belajar hampir semua minor dari dasar. Matkul semester 3 adalah: Statika, Rekayasa Bahan, Mekanika Fluida dan Hidrolika, Pengantar Rekayasa Transportasi, Matematika Rekayasa, dan Analisis Probabilitas dan Statistik.

Di Statika saya mempelajari dasar-dasar dari struktur, all about sigma force=0 and sigma moment=0. Ujiannya saya tidak pernah bisa 100% dan saya rasa dosen saya tidak murah hati dalam memberikan nilai. Rekayasa bahan memperkenalkan saya kepada bahan-bahan bangunan mencakup sifat, harga, dan kombinasi antarbahan. Ada praktikumnya juga, seru! Membuat beton dengan kualitas tertentu, menguji kekuatan beton, kayu, dan juga baja. Tetapi laporannya nggak seru, untungnya nggak tulis tangan dan udah ada master dari kating hehe. Mekanika Fluida dan Hidrolika, saya selalu K.O. di matkul air. Saya gampang mengantuk mempelajari ini. Entah mengapa saya sulit sekali menyerap ilmu air, walau saya senang di air lol. Not much to tell, tapi secara umum mempelajari sifat-sifat air pada saluran terbuka maupun tertutup. Ada praktikumnya juga, yang seru temen-temennya tapi. Pengantar Rekayasa Transportasi, I have almost zero interest in this. Ini termasuk mudah matkulnya, tapi saya angin-anginan banget. Terkadang semangat banget, tapi lebih sering mengantuk dan mager berusaha. Hal ini saya sesali namun tidak membuat saya lebih rajin di matkul transport semester 4. Jangan ditiru. Matematika Rekayasa, sejujurnya pelajarannya menarik dan aplikatif. Tetapi dosennya mitos. Jarang terlihat namun sayang sekali tugasnya nyata. Saya cukup enjoy di matkul ini walau tetap sering mengantuk. Sering diadakan jam pengganti, namun sayang sekali kepastiannya mendadak seperti 10 menit sebelum dia masuk misalnya. Kami sering dibuat menunggu hingga teler, lalu dijejali dengan banyak sekali materi sesudahnya. Kami mabok hahaha. Belum lagi tugasnya yang menuntut kami menghabiskan minimal 3 kertas HVS bolak-balik. Terakhir, kami lebih sering menyebut matkul ini Probstat. Matkul ini mempelajari metode-metode dalam probabilitas dan statistik, sangat aplikatif untuk pengolahan data terutama hidrologi dan struktur. Dosen saya adalah masternya, senior, dan sangat baik hati! Dia mengajar dengan dedikasi tinggi dan sangat jelas baik ucapannya, tulisannya, dan juga diktatnya. Namun sayang sekali kelas beliau adalah kelas pagi dimana saya sering telat bangun atau terjebak kemacetan atau bahkan kesulitan parkir. Saya pun sering mengantuk melihat catatan kuliah meskipun jelas, sehingga saya sering tertidur. Tapi dengan kerja keras saya mengerjakan tugas dan belajar untuk ujian, saya mendapat nilai dan pemahaman yang cukup baik untuk seorang mahasiswa yang hanya masuk beberapa kali saja selama 1 semester. Terimakasih pak!!

Begitulah cerita saya di semester 3. Buruk, saya akui. Saya tidak sungguh-sungguh menjalani perkuliahan cenderung serampangan. IP saya masih cukup aman walau menurun. Teman-teman memarahi saya karena hanya memahami dan menghayati ilmu, tanpa berusaha yang terbaik ketika ujian ataupun tugas. Ya begitulah kehidupan di Teknik Sipil, nanti saya akan cerita lagi. Saya akui berat, namun saya sangat suka disini:)

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Farah Basellina Safira’s story.