Malam.

Di malam yang dingin, dimana cahaya bintang tertutup oleh tebalnya awan.

diiringi dengan rintik-rintik air yang semakin lama membasahi jendela kamar.

aku pun merekatkan selimut ke tubuhku karena cuaca diluar yang membuat kamar ini terasa semakin dingin.

lantunan lagu terdengar samar-samar didampingi suara rintikan air untuk menghilangkan sepi.

kamar ini rasanya terlalu besar dan terlalu sepi untuk hanya diriku seorang.

kedua tanganku membolak-balikan buku berisi puisi-puisi sendu, yang membuat kamar ini terasa semakin hampa.

tetapi, suara pintu yang terbuka tiba-tiba mengejutkanku. mataku bergerak cepat dari buku, menuju sumber suara itu.

mataku, langsung bertemu dengan mata coklatnya. disana, ia sedang melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar ini.

ia melepas sepatu, kemudian mengganti bajunya dikamar mandi. mataku tidak kembali ke buku berisi puisi-puisi sendu itu.

mataku tetap menunggunya keluar dari kamar mandi.

kini, ia sudah berbaring disampingku. menarik tubuhku lembut kedalam pelukannya dengan ciuman hangat di puncak kepalaku.

seketika, kamar ini tidak lagi terasa hampa maupun sepi.

seketika, kamar ini tidak lagi terasa terlalu besar.

seketika, kamar ini tidak lagi terasa dingin.

seketika, semudah membalikkan telapak tangan, ia menghangatkan dan menghalau hampa dan sepi ini.

sayangnya, kini ia hanya kenangan indah. yang membuat kamar ini terasa semakin sepi dan hampa walau diiringi lantunan lagu dengan volume maksimal.

karena yang terdengar hanya suara isakan.

yang membuat kamar ini terasa semakin dingin, walau tidak ada rintik-rintik air ataupun cuaca dingin yang menemani.

karena yang ada hanya rintikan air mata dan hembusan nafas berat yang terasa sesak di dada.