Dia Yang Mati Di Pohon Mangga

Pada air yang gemericiknya sirna pada dangkal yang menenggelamkan ranting yang patah pada pohon yang tumbang pada hutan yang dibakar.

Pada api yang bergejolak pada panas yang menyala pada terang rembulan saat malam pada hari berkabung saat dia menangis pada selain Tuhannya

Pada angin yang berhembus pada gunung yang menjulang pada langit yang kelam pada siang saat dia diperkosa di tengah hutan yang terbakar.

Pada tanah yg keronta di tngah samudra yg membentang pd dunia yg terasa sempit pd rasa yg gamang tak tertahankan pada selaput dara yg robek

Pada petir yang menyengat pada jiwa yang telah kosong yang perih tak berdarah yang terasa pada dada yang tak lagi bahagia.

Pada Tuhan yang katanya ada, dia muntahkan serapah lalu mati seketika di tali rafia yang tegantung pada pohon mangga.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.