“Gitu aja baper..”

Sering dengar ungkapan kayak gitu? 
Gimana perasaan kalian ketika kalian marah kepada seseorang karena perbuatannya, terus dikatain “gitu aja baper..” ??
Kalo kalian kesal karenanya, YAK ! kita sama. Seolah olah KITA yang menjadi
salah karena kita ‘marah’ atas perbuatan salah yang telah orang lain lakukan kepada kita. Padahal kita sangat berhak buat marah kepada mereka, karena bagaimana pun juga, yang salah adalah mereka yang telah berbuat salah, bukan yang marah atas perbuatan tersebut. Setuju?

Memang ada sebagian orang yang dapat menanggapi dengan santai perbuatan/perkataan buruk yang diberikan orang lain kepadanya, tetapi, tidak semua orang dapat bersikap demikian. Setiap orang punya jalan pemikirannya masing-masing. Setiap orang punya perasaannya masing — masing. Setiap orang punya pengalaman dalam bersikap yang berbeda beda. Dan orang orang yang mengatakan “Gitu aja baper..” seolah — olah memukul rata perasaan semua orang, seakan — akan mereka ‘harus’ bersikap sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Perbuatan ini seperti anak kecil, yang ingin semua orang melakukan apa yang dia inginkan, tanpa benar benar memahami perasaan orang lain.

Sekitar seminggu lalu, dalam ajang kompetisi badminton yang disponsori oleh Bank Central Asia di Indonesia, sempat dihebohkan dengan jumpa pers yang dilakukan oleh pemain asal Denmark, Mathias Boe (Semoga penulisan nama tidak salah, hehe). Boe menuturkan, selama ia di Indonesia, ia kerap kali menerima ancaman pembunuhan terhadap dirinya. Ia mengatakan, ia tidak masalah jika itu hanya sekadar teror bahwa ia akan kalah, ia akan bermain buruk, dan hal lain seputar permainannya, karena itu merupakan bagian dari permainan psikologi. Namun, yang ia permasalahkan adalah ancaman terhadap hidupnya. Ancaman seperti ini jika di negaranya, dapat ditindak secara hukum, ungkap Boe.

Hal yang mengejutkan saya adalah ketika berita diatas turun melalu berbagai media sosial, dan saya melihat tanggapan — tanggapan dari para netizen Indonesia, saya melihat tanggapan yang benar benar tidak ada rasa empati sama sekali. Banyak sekali saya melihat tanggapan seperti :
“ Gitu aja baper”
“ Ini merupakan bagian dari permainanlah. Jangan suka baper.”
“ Mental tempe”
“ Tahu bulat” ( Hah, apaan ini )
dsb.
Dari sini saya menilai bahwa Indonesia krisis rasa empati. Padahal, rasa empati inilah yang dapat menjadikan manusia, seorang manusia. Oleh karenanya krisis empati ini jika dibiarkan, dapat mengikis rasa kemanusiaan antar sesama. Ini sama sekali bertentangan dengan Ideologi Indonesia yang kita agung — agungkan, sila kedua, ‘Kemanusiaan yang adil dan beradab’.

Oleh karenanya, mari kita buang jauh jauh tradisi menyebut orang lain ‘baper’, mari kita melangkah lebih jauh untuk sesuatu yang lebih berkelas, dengan memahami perasaan orang lain lebih dalam, lebih cerdas memberikan tanggapan kita kepada orang lain, dan lebih berempati terhadap perasaan orang lain.

Kalo kalian kesal karenanya, YAK ! kita sama. Seolah olah KITA yang menjadi
salah karena kita ‘marah’ atas perbuatan salah yang telah orang lain lakukan kepada kita. Padahal kita sangat berhak buat marah kepada mereka, karena bagaimana pun juga, yang salah adalah mereka yang telah berbuat salah, bukan yang marah atas perbuatan tersebut. Setuju?
Mungkin

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Faridl Gifari’s story.