Guten morgen.
Semoga doaku tiap saat untuk kali ini terkabul dengan ucapan yang tulus dan ikhlas. Banyak dalam hal berhubungan selalu ada kesalahan, kesalahan yang berakibat fatal dalam berhubungan, tapi kali ini aku salah besar telah melakukan kesalahan, akan tetapi setiap kesalahan aku mulai belajar, mulai mengevaluasi, walaupun secara praktis tidak langsung berubah menjadi apa yang tidak disukai dari aku. Tiap hari sekarang aku mulai menangisi kehilangannya, aku mulai frustasi karena semua yang aku lakukan tidak bisa tersampaikan langsung kepadanya, kepala ini mulai meronta-ronta kesakitan saat diriku belum me-charge tubuh kembali dengan asupan nutrisi yang kian tidak terisi karena orang tua yang tak kunjung memberikan uang bulanan (sedang kondisi tidak punya uang memang dan menyuruhku untuk meminjam sementara, ah hidup. Begini terus pun jadi benalu. Tapi kondisi ekonomi orang tua tidak bisa menjadi batu kesalahan yang ingin diungkapkan ).
Sore itu memang kesalahanku, aku berkata yang menunjukkan "posesif" saat aku dengannya membeli minuman dingin dikala cuaca panas dan diriku selesai berolah raga.
Aku berusaha menyelesaikan segera pertandingan untuk membawanya pulang, membawa dia untuk mengerjakan tugas kuliah yang dijanjikan dan akan dilaluinya jam 15.00 kala itu.
Aku mulai berpikir apakah harusnya kita pulang, mengisi nutrisi kita saat itu dan mengerjakan tugas serta aku ingin berbicara dengan bunda perihal malam tadi aku sudah tertidur atau bahkan terjadi hal seperti ini. Yasudah, aku tunggu dia bermain dan melanjutkan pertandingan yang pada saat itu ibuku sudah menelpon beberapa kali untuk pulang karena ibu mulai berulah rasa kangennya saat beliau sakit hari Minggu itu, aku salah saat di kost sabtu malam sehabis makan dengannya aku meng-cancel telpon darinya yang aku kira hanya menanyakan kabarku dikarenakan aku tidak kuat menahan kantuk. Namun yasudah aku menunggu terlebih dahulu, mana tau aku bisa melakukan kegiatan itu semuanya sehabis dia bermain bola tangan (olahraga). Saat pertandingannya berjalan, aku sudah memperingati untuk tidak mengejar dan menghalangi tim cowo lawan karena aku berpikir badannya yang tidak sepadan untuk melawan, akan tetapi badannya cukup cekatan untuk menghalau bola untuk masuk ke jaring lawan. Hal ini tidak menjadi masalah terhadapku. Namun, kejadian tiba saat badannya dijatuhkan oleh lawan dengan badan yang tidak sepadan dan kemudian membuat tangannya berdarah. Jujur, Aku saat itu langsung kesal dan tidak meredamkan emosi karena aku takut tangannya kenapa dan prinsip dari awal yang selalu aku pegang "aku harus menjaganya gimanapun", memang itu terkesan lebay dan dramatis, tapi dalam hati terdalam aku ingin merawat tangannya, aku ingin langsung membeli betadine atau mencarikan air untuk dibersihkan pada tangan yang selalu aku pegang dan helus tiap harinya, karena aku sadar tangan itu yang telah menemaniku, telah meredamkan emosiku, telah mengelus dadaku, telah membuatku nyaman, telah membuatku selalu menciumnya tiap kali aku bersamanya. Tapi keadaan kesal, yang membuat aku salah bertindak padanya membuat aku seolah2 melarang nya bermain karena perilaku "posesif" yang dia katakan. Sebelum dilanjutkan izinkan aku menjelaskan tanda kutip tersebut.
Posesif, setiap cowo terhadap cewenya atau sebaliknya pasti pernah diawal pacaran bertindak seperti itu, bahkan sampai ada yang tertekan, dan itu dirasakan oleh dia. Posesif selalu dibahas dalam permasalahan kita, akan tetapi tiap saat aku meminta maaf aku mulai belajar, dan memang posesif dari aku tidak bisa dihilangkan begitu saja, butuh perlahan2, kenapa? Karena jujur aku takut kehilangannya, aku takut dekapanku tidak seindah aku mendekapnya waktu awal bertemu. Tapi jujur, posesifku sudah aku kurangi disetiap kita bertengkar, dan bertengkar terakhir pun aku cuma mengingatkan saja yang berbau "posesif" saat kita membeli minuman dingin, tidak seperti dahulu yang aku atur-atur. Bahkan saat kejadian ini sudah tidak ada posesif-an lagi. Karena aku sadar, dia yang seperti ini tidak suka diposesif-kan. Benar, dia benar untuk hal ini. Aku harus percaya dia tidak akan kemana-mana, dan dia tetap bakal bersamaku.
Baik lanjut, setelah dia selesai bermain, dia kesal padaku seolah-olah aku posesif, padahal aku kesal padanya karena dia jatuh dan membuat tangannya terluka. Mungkin dia tidak bisa menerima itu, dikarenakan emosi dan kesal menyelimuti perasannya dan aku. Saat itu semua sifat negatifku, yang seharusnya aku sudah minta maaf dan tidak pernah mengulanginya bahkan disebut-sebut untuk saat itu. Aku merasa sedih sekali, saat dia menyebutkan sisi jelek nya aku dimana aku sendiri tidak mau mengingatnya lagi. Aku tertekan akan hal tersebut. Aku ingin menangis dan meminta maaf aku salah telah membuatnya kesal saat itu tapi mulut berkata lain yang sudah tidak diterima olehnya. Aku setiap detik, selalu bertanya. Apakah aku salah, apakah aku salah, apakah aku salah kesal padanya dengan tangan seperti itu. Akan tetapi, aku mengakui aku salah telah bertindak posesif sedikit setelah membeli minuman tadi. Dan juga aku minta maaf, bertindak sedimikian rupa saat dulu sedang bersamamu. Tapi aku sudah selalu menguranginya. Dan semakin berkurang. Bahkan tidak.
Setelah itu, aku memohon padanya biar aku antarkan pulang, lalu di persimpangan jalan aku berhenti dan sontak menangis seperti aku tidak mau kehilangan ibu. Mengapa tidak, hal pacaran yang seharusnya tidak boleh, tapi Papa dan Bunda memperbolehkannya bahkan Papa rela datang ke Bandung untuk melihat siapakah gerangan genggaman tangan anak lekaki sulungnya. Papa yang setelah malam itu bertemu dengannya betapa senang melihat hal tersebut, beliau yakin dia orang yang tepat, beliau juga yakin aku bisa menemaninya. Betapa senangnya hatiku, saat seorang Ayah yang seharusnya memarahiku untuk berhubungan dengan orang lain, malah sebaliknya memberikan kebebasan. Dan sepulangnya di Padang, Papa begitu antusias meminta foto beliau dengan dia, untuk "entahlah" dipamerkan ke Bunda dan adek-adek, bahkan saudara terdekat. Mengapa? Karena beliau senang dan tersanjung saat mendengar anak lelaki sulung beliau mendapat perempuan yang punya pendidikan dan prestasi yang luar biasa yang sangat diimpikan olehnya. (ucapan Papa Gembul saat di Hotel Regia). Bahkan Bunda pun mengizinkan, karena aku orangnya memang butuh diatur oleh seorang perempuan, dan kamu perempuan yang Bundaku senang untuk dapat mengurus aku yang sudah tidak lagi berumur muda.
Saat di persimpangan jalan tersebut aku merasa kehilangan, dan aku ingin peluk darinya seandainya pelik yang menyiksa setelah ini. Aku menangis dan menunggu didepan rumahnya, hujan pun membuat badanku kedinginan.
Setelah itu aku berusaha untuk menghubunginya, untuk meminta maaf atas kesalahan aku, tetapi semua kontak diblock olehnya. Aku merasa frustasi dan saat itu perut yang mulai keroncongan membuat tidak dihiraukan lagi. Aku berusaha mencarinya. Aku berusaha kemanapun mengusahakan untuk berkata dan meminta maaf. Aku salah dan sekarang izinkan aku bertemu denganmu untuk meminta maaf dan berbicara denganmu. Sampai saat ini niatku untuk masuk kelas, orang tuaku yang mencari, tidak ada satupun aku hiraukan. Entah kenapa, jawabannya hanya aku ingin bertemu dengannya dan memeluknya. Entah aku menunggu hingga jiwa yang tidak lagi waras. Atau bahkan perut yang tidak kuat menahan asam yang sudah meningkat. Atau badan yang sudah lagi kurus. Serta kenangan yang tiap saat aku putar di Hp menjadi asupan makanan pagi siang dan malam. Aku mulai frustasi dan depresi. Karena sahabatku, temanku, pacarku, ibuku, sertanya semuanya hanyalah dia.
Seandainya aku diizinkan untuk tidak bernapas malam ini maka akan aku pergunakan sebaik-baiknya. Lalu kenapa? Kenapa aku begini sekali? Karena aku kehilangan sosok ibu dalam diriku. Aku ingin bertemu dengannya, memeluknya, dan berkata "aku sedang tidak baik-baik saja".
Dan aku telah sadar, kalau aku tidak seharusnya bertindak yang membuatnya sakit hati. Dan aku sekarang hampir menjadi tidak waras lagi. Izinkan aku perbaiki semua ini lagi, karena aku takut aku tidak bisa apa-apa dan tidak kuat lagi bahkan gila. Aku mohon.
Sag mir nicht, ich solle dich später sehen, aber jetzt und hilf mir, damit umzugehen.
lieben
Wassalam, dari orang yang menunduk dipojokan kamar tidurnya. Dan menunggu
- Farhan
