Unitary and Utilitarian

Walau kedua kata pada pembuka salam Archaea tersebut tidak ada KBBI, (mungkin) kita semua paham apa maksudnya:
- Satu
- Bermanfaat
Archaea yang satu, tidak tercerai-berai. Archaea yang bermanfaat dan berguna bagi sekitar. Begitu sederhananya! Tapi memang seharusnya begitu. Pesan yang diestafet tiap tahunnya — yang mungkin kadang kita tidak terlalu memaknainya selama menjadi anggota — menjadi sifat-sifat yang kita teriakkan pada salam yang kita banggakan.
Saya pernah berpikir, bahwa mendefinisikan himpunan juga ngga perlu susah-susah. Cukup dua kata saja. Kekeluargaan dan keprofesian. Itu aja. Itu sudah menjadi hakikat dari himpunan. Dan dua kata tersebut tidak akan lekang. Apalagi, bila ditengarai lebih dalam, dua kata pembuka salam tadi juga linear dengan makna ‘kekeluargaan’ dan ‘keprofesian’.
Percayalah, apabila debat calon ketua himpunan nanti masih ada false dilemma: ‘Mau fokus internal atau eksternal?’ — pertanyaannya tersebut tidak akan membawa himpunan ke mana-mana. Kenapa? Karena dua hal tersebut pada akhirnya harus berjalan beriringan dengan porsi yang paling optimal. Pun, apabila calon ketua himpunan memilih salah satu, rasionalisasinya akan baur. Apa konteks lingkungan yang sedemikian hebatnya sehingga salah satu aspek diprioritaskan? Bagaimana representasi praktikal apabila suatu aspek lebih diutamakan?
Analoginya seperti awak kapal layar yang memilih akan fokus mengerakkan layar agung atau layar haluan — padahal dua-duanya harus tetap diatur agar kapal tetap berjalan menerjang badai.
Lalu, apa yang membedakan satu calon dengan calon lainnya?
Seharusnya, hal itu adalah worldview yang kalian bawa. Weltanschaaung. Bagaimana kalian mempersepsikan dunia? Bila dibongkar lebih dalam lagi, sebuah worldview berisi jawaban dari beberapa komponen berikut [1]:
- “What is world?”
- “Where are we heading?”
- “What should we do?”
- “How should we attain our goals?”
- “What is true, and what is false?”
- “How do world operate? What is its elements?”
Seluruh jawaban ini, menurut saya pribadi, berbeda-beda di tiap individu. Karena, ini adalah hasil dari pendidikan sedari dini hingga pengalaman yang membentuk karakter seseorang. Adalah sebuah tugas dari calon ketua himpunan untuk menarasikan worldview-nya dalam frasa/kalimat sederhana, sehingga massa himpunan dapat memahami dan memaknainya. Dan, adalah sebuah tugas pula dari para massa himpunan untuk menggali worldview dan bagaimana calon mempersepsikan dunia, karena pada akhirnya keputusan ketua himpunan-lah yang akan menggerakkan himpunan. Sebagaimana sebuah domino pertama jatuh ke rangkaian berikutnya, worldview inilah yang akan memengaruhi keputusan ketua terpilih, yang kemudian akan menjadi hal konkret yang dijalankan oleh himpunan.
Worldview yang paling tepat yang seperti apa?
Jawabannya: tergantung konteks. Maka dari itu, bukan hanya tugas calon ketua himpunan yang melakukan analisis kondisi — namun juga dari massa itu sendiri, sehingga mereka dapat tahu apa yang mereka inginkan untuk Archaea di masa depan nanti.
Terima kasih!
Referensi:
[1]Diederik Aerts, Leo Apostel, Bart de Moor, Staf Hellemans, Edel Maex, Hubert van Belle & Jan van der Veken (1994) “”World views. From Fragmentation to Integration” VUB Press. Translation of (Apostel and Van der Veken 1991) with some additions. — The basic book of World Views, from the Center Leo Apostel.