Sisi Gelap

Manusia diciptakan untuk bersalah, itulah sebabnya Tuhan menjadi Maha Pengampun

Mungkin kalimat itu yang selama ini menjadi mantra, menjadi kata-sakti dalam hidupku. Setiap kali melihat segala hal, setiap kali melihat ke dalam diri sendiri, aku hanya yakin satu hal: Bahwa hidup memang merupakan konfigurasi harmonis dari segala hal yang baik dan segala hal yang buruk. Tak ada manusia yang sempurna, manusia tempat khilaf dan dosa. Kita semua tahu pepatah itu. Namun kita juga tahu, betapa gagapnya kita untuk mampu memaknainya, memahaminya.

Dalam hidup, kita bersinggungan dengan segala hal yang baik dan yang buruk. Kita bertemu banyak orang yang patuh pada kebaikan dan kebenaran, yang takzim dan khusyuk pada bau bangkai dan bau busuk. Tapi kita harus menjalaninya, kita harus menemuinya. Berat memang, tetapi mesti kita lalui sebagai upaya berkhidmat pada hidup. Pada lesat waktu yang mengajari kita terus-menerus bergerak agar hidup tak berakhir sebagai madah yang buntu. Aku hanya selalu yakin, di ujung sana kita akan menemui “Cahaya”. Seberapa pu busuknya kita!
Tentu aku tahu, aku bukan orang yang baik. Aku hanya orang yang ingin berusaha dan terus menerus menjadi baik. Ya, “berusaha”. Pada level itu, aku belum baik. Tentu saja banyak kejahatan dan kedosaan yang aku lakukan. Namun, aku sedang mengusahakan kebaikan-kebaikan sejauh apapun apapun yang bisa kutempuh, sebanyak yang bisa kulakukan. Soal dosa dan kebusukanku? Banyak sekali tentu. Lebih banyak dari daftar (ke-)dosa(-an) yang mungkin aku tahu.

Taka da orang yang tahu bagaimana rasanya berdosa, kecuali diri kita sendiri. Sakit, terkucil, galau. Perasaan-perasaan itulah yang biasanya muncul. Hingga pada saatnya mantra itu kuucapkan berkali-kali: Manusia diciptakan untuk bersalah, itulah sebabnya Tuhan menjadi Maha Pengampun.
Aku tak bermaksud membela diri dengan kalimat itu. Aku tahu taka da yang baik dari dosa-dosa, tetapi berkuat dengan rasa bersalah yang mematikan tak pernah baik, bukan? Kita harus keluar dari kubangan lumpur dan memulai hidup yang baru, yang lebih hidup, yang lebih bercahaya.

Tanpa kita sadari dosalah yang membuat manusia bertumbuh dan semakin dewasa. Bahkan, tanpa bermaksud berlebihan, kadang-kadang institusi dosalah yang membuat manusia menjadi kreatif dalam merumuskan langkah-langkah baru yang akan ia tempuh. Bayangkan jika tak pernah ada institusi “salah” dan “dosa”, tentu hidup kita lempang. Sebab, seringkali untuk tak mengatakan selalu salah dan dosalah yang membuat kita merenung, berintropeksi diri, bertanya-tanya dan perenungan, intropeksi, serta pertanyaanlah yang membuat kecerdasan kita berkembang, kedewasaan kita tumbuh, dan kemanusiaan kita menemukan maknanya.
Apakah kita benar-benar diciptakan untuk bersalah dan berdosa? Entahlah. Orang-orang suci selalu berkata: Tidak. Tetapi, pertanyaanya, mengapa Tuhan menghendaki kita bertaubat? Bukankah taka da permohonan maaf tanpa rasa bersalah? Mengapa ia menyifati dirinya sendiri dengan kata Maha Pengampun? Bukankah taka da pengampunan tanpa kesalahan?
Entahlah. Yang jelas, Tuhan menginginkan kita menjadi orang baik, mungkin itulah sebabnya ia membuat sebagian orang (jadi) jahat. Sebagai contoh? Agar kita tidak menirunya? Mungkin. Sayangnya, yang buruk selalu menyenangkan.

Like what you read? Give Farhan Muhammad a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.