Bonus Demografi dan Peluang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2035 mendatang berjumlah 305,6 juta jiwa dan menjadi negara kelima dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Sebagai perbandingan, data statistik menunjukkan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2016 mencapai angka 258 juta jiwa.

Sumber

Umumnya; meningkatnya jumlah penduduk muda berarti meningkatnya biaya yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Akibatnya, sebagian penghasilan yang didapatkan oleh penduduk produktif harus disalurkan untuk mengantisipasi kebutuhan tersebut yang menyebabkan lebih rendahnya angka investasi di aspek-aspek lain.

Sebagai tindak lanjut dari permasalahan penduduk yang terkait dengan pertumbuhan ekonomi, Pemerintah Indonesia menggencarkan program Keluarga Berencana yang membatasi jumlah anak maksimal dua jiwa dalam suatu keluarga. Program tersebut menjadi salah satu faktor yang berperan dalam menekan angka kelahiran Indonesia dan mengubah paradigma masyarakat Indonesia tentang jumlah anak dalam keluarga.

Fenomena serupa ditemukan di negara-negara lain seperti Taiwan dan Korea, di mana terjadi perubahan jumlah penduduk produktif yang melebihi jumlah penduduk nonproduktif. Para ahli kependudukan menamai fenomena tersebut dengan “demographic dividend” atau “demographic bonus”. Secara garis besar, proporsi penduduk produktif yang lebih tinggi akan berdampak pada angka produksi yang lebih tinggi dibanding angka konsumsi.

Menulusuri Bonus Demografi Melalui Rasio Ketergantungan

Berdasarkan produktivitasnya, penduduk dapat dibagi menjadi penduduk usia nonproduktif — meliputi penduduk usia muda (0–15 tahun) dan penduduk tua (65 tahun ke atas) — dan penduduk usia produktif (15–65 tahun). Umur 15–65 disebut sebagai usia produktif karena pendapatan yang diproduksi cenderung lebih tinggi dibanding konsumsinya, sedangkan dikatakan nonproduktif karena kecenderungan biaya konsumsi yang lebih tinggi dibanding pendapatannya.

Berbekal pembagian tersebut, bonus demografi di suatu negara dapat diketahui dengan melihat rasio ketergantungannya. Rasio ketergantungan adalah perbandingan jumlah penduduk nonproduktif dibagi jumlah penduduk produktif. Perbandingan tersebut mencerminkan jumlah penduduk nonproduktif yang kebutuhannya harus ditanggung oleh penduduk produktif.
 
 Badan Pusat Statistik memproyeksikan rasio ketergantungan pada tahun 2016 telah mencapai angka 48,4, yang berarti setiap 100 orang berumur produktif menanggung penduduk berusia nonproduktif sebanyak 48–49 orang. Statistik Indonesia menunjukan bahwa rasio ketergantungan terus mengalami tren penurunan, dari angka 86,8 di tahun 1971 hingga 46,9 di tahun 2028–2031.

Sumber

Kepala Bappenas Armida S Alisjahbana menyatakan bahwa meningkatnya penduduk berusia produktif ini telah berperan dalam stablisasi peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Bahkan, di negara seperti Thailand, Tiongkok, Taiwan, dan Korea; bonus demografi berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 10–15%.

Bagaimana Bonus Demografi Memengaruhi Pertumbuhan Ekonomi

Berikut beberapa penjelasan singkat yang dapat menjelaskan bagaimana bonus demografi dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara teoretis:

  • Meningkatnya penduduk produktif dapat meningkatan jumlah tenaga kerja yang mampu berkontribusi dalam peningkatan produktivitas penduduk Indonesia. Hal tersebut diiringi dengan berkurangnya biaya untuk memenuhi kebutuhan penduduk usia nonproduktif yang terus menurun
  • Menurunnya angka kelahiran berdampak pada tren keluarga kecil pada pasangan muda di Indonesia. Hal tersebut mendorong lebihbanyak wanita untuk turun ke dunia pekerjaan yang secara potensial dapat berperan dalam meningkatkan produktivitas Indonesia. Data statistik menunjukkan pada tahun 2016 jumlah wanita berusia produktif lebih tinggi dibandingkan wanita berusia nonproduktif.
  • Peningkatan investasi di sektor-sektor seperti pendidikan dan kesehatan untuk generasi selanjutnya dapat menjadi modal penting dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja masa depan. Tenaga kerja dengan kesehatan dan pendidikan yang lebih baik akan memiliki produktivitas yang lebih tnggi.

Referensi:

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.