Cerita si A dan si B

Aku ingin sedikit cerita —anggap saja ini sebuah cerita fiksi yang dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran — tentang hubungan percintaan. Menurut sudut pandang cerita A (perempuan) dan B (laki-laki). Sedikit banyak aku paham logika-perasaan yang seringkali dibahas.

Mereka pernah menikah, dan sudah memiliki 1 anak. Tetapi mereka memilih berpisah karena ketidakcocokan (menurut si A, si B begini, menurut si B, sia A begitu, dan seterusnya-malah saling menyalahkan). Mengejutkannya, mereka kembali rujuk belum sebulan yang lalu. Aku memang kenal A karena ia memang teman dekatku sejak SMA, dan si B adalah teman main mantanku dulu. (Aku dikenalkan oleh mantanku dari si A dan si B ini-intermezo!) Jadi dulu memang beberapa kali bertemu atau main berempat. Sebagai seorang perempuan, tentu aku lebih mendengarkan cerita si A. Sedangkan mantanku, sering mendengarkan cerita si B. Terkadang aku dan mantanku membicarakan mereka dari 2 belah sisi, dan menyimpulkan apa sebenarnya masalah yang terjadi dan bagaimana seharusnya. (Padahal masalah hubungan sendiri juga belum kelar!)

Malam itu kebetulan aku makan bersama si A dan si B. Agar tidak bingung, aku ceritakan berdasarkan lini masanya. Mereka menikah, ada masalah hingga memutuskan berpisah, si A punya pacar lagi (si C) namun ternyata tidak cukup baik namun si A dan B masih berhubungan, si A putus dengan si C, dan mereka kembali bersama (tanpa sepengetahuan orang tua-probation). Aku tidak membela siapapun. Hanya pendengar yang baik dan memberi masukan bila diperlukan.

Masalah rumah tangga apa yang terjadi? Sudut pandang A:

  • “Dia tidak bertanggung jawab” Si B saat itu masih tinggal bersama orang tuanya dan belum struggle mencari pekerjaan.
  • “Dia kalau disuruh sholat males-malesan, ga denger kata-kata A. Padahal A pengen punya suami yang bisa membimbing ke arah yang baik dan benar.” Pemintaan sangat wajar dari seorang istri.
  • “Dia itu kalau ngomong tidak pernah lembut, bisa dong dia menyampaikan dengan cara baik-baik!”
  • “Dia ga bisa jadi teman ngobrol, ada masalah dalam berkomunikasi.”
  • “Dia tempramen. Kasar. Mecahin kaca dsb. Pernah mukul juga. Fatal ga sih?” Jujur, ini fatal.
  • “Image dia di mata orang tua A sudah jelek.” Allah maha membolak-balikan hati, masih bisa diperbaiki dengan doa dan usaha.

Sudut pandang B:

  • “B salah, dulu belum bisa mencari nafkah. Tapi sekarang sudah bekerja dan bisa memberi nafkah terutama untuk anak.” Salah satu hal yang sangat baik.
  • “Alhamdulillah sekarang sudah mulai berubah untuk sholat. Berubah menjadi lebih baik, pelan-pelan. Kadang ngeliat A kelakukan juga ga baik.” (nanti di poin akhir akan kujelaskan)
  • “B orangnya tegas, demi kebaikan. Kalau A selalu dibaikin, nanti bisa tambah egois. Anggap ada guru, kalau guru killer muridnya pintar, kalau guru asik baik, muridnya santai dan ga belajar.” Tegas itu perlu disampaikan dengan cara yang baik agar pesan dapat tersampaikan dengan baik dan tidak menambah masalah-sakit hati karena nada bicara, dsb- tetapi menurutku kalau sudah kelewatan, agak keras juga perlu.
  • “Udah dijelasin tadi, kalau ada cerita A yang ga bener langsung aja kasih tau.” Mungkin A ngerasa ga nyaman, berasa ga didengerin malah diceramahin padahal maksudnya baik. Perlu pemahaman dari masing-masing pihak. A harus berpikir maksud B baik, dan B berusaha menyampaikan dengan baik.
  • “B emang tempramen. Tapi selalu berusaha ditahan. B ga mau marah-marah terus. Kalau mukul itu ketika sudah berpisah, bukan dalam masa pernikahan.” Memukul kepada perempuan memang salah, sebesar apapun masalahnya menurutku, kepada siapapun baik itu istri, teman, pacar dll. Tetapi solusinya B dapat meminta maaf kepada A dan berusaha untuk tidak mengulanginya. Kalau terjadi untuk kali kedua, silakan buat kesepakatan saja.
  • “Sekarang berusaha perbaiki agar bisa diterima orang tua si A. Berusaha tanggung jawab.” Semoga selalu dipermudah oleh Allah.
  • “Si A selingkuh. Check in dengan cowok lain dengan bawa anak walaupun ga ngapa-ngapain, salah kan?. Selain itu pernah pacaran dengan pengusaha yang udah beristri sampai minta dia ceraiin istri demi sama A. Fatal ga tuh?” Jujur ini sangat fatal. Menurutku pribadi, selingkuh adalah hal yang salah dengan siapapun itu. Walaupun sekadar mencari rasa aman dan nyaman, tetapi sebaiknya kembali pada-Nya (walau tidak semudah kelihatannya, ya).
  • “Si A selalu memikirkan dirinya sendiri. Semua dipadakan dengan dirinya. “ Padahal pemikiran dan perasaan orang berbeda-beda, kan? Menurutmu biasa aja, belum tentu bagi orang lain begitu, dan sebaliknya. Manusia memang selalu merasa paling benar, tetapi alangkah baiknya mendengar pendapat atau pemikiran dari berbagai pihak lalu dianalisis sehingga menjadi suatu hal yang lebih baik daripada hanya pemikiran diri sendiri.

Mungkin sekilas itu poin-poin masalah dan beberapa alasan mereka rujuk karena ada perubahan untuk saling menjadi lebih baik. (Setelah tanda kutip “” merupakan opini pribadiku (IMHO and CMIIW)).

Sedikit melompat ke cerita si C. Si A merasa sangat nyaman dengan si C karena sebetulnya secara tidak langsung, si A dan si C memiliki karakter yang sama. Si C selalu mendengar cerita si A tanpa “menceramahi” dan dapat dikatakan sebagai pendengar yang sangat baik. Mereka dapat berbincang 8 jam lamanya tanpa henti membahas berbagai hal. Si C memiliki usaha walaupun bukan berasal dari keluarga berada. Semua cerita si C indah pada awalnya. Bahkan A dapat melupakan B dan bahagia dengan si C. Tetapi rupanya indah-indah hanya sebentar saja. 9 bulan perjalanan cerita mereka usai. Kenapa?

  • Si C DO dari kuliahnya dan belum melanjutkan. Sedangkan A sekarang sedang kuliah S2 di UI? bagaimana nanti kata orang tua A?
  • Si C kerapkali berbohong, mengaku si X (model cantik) sebagai mantannya dan ternyata bukan, mengaku beli motor atas usahanya sendiri padahal pinjam dari adiknya, mengaku mau mulai usaha dan sedang desain logo ternyata hanya mengambil gambar dari instagram, dan berbagai kebohongan yang pelan-pelan terkuak oleh A. Dulu, A juga pernah berbohong sok kaya pada saat SMA namun ketika berusia remaja dan saat ini sudah tidak ia lakukan. Sedangkan si C masih berbohong dengan tujuan entah apa, di usia yang sudah menginjak kepala 3. Lalu bagaimana mungkin A dapat mempercayai C akan berubah tidak akan berbohong lagi?
  • Si C belum mapan di usia tersebut. Belum mencicil rumah (sudah seharusnya lelaki umur 30) atau setidaknya berpikir ke arah sana.
  • Si A tidak yakin si C akan menjadi ayah yang baik untuk anaknya. Karena apabila A dan C melanjutkan hubungan ke arah serius (pernikahan) tentu C akan langsung menjadi ayah anaknya A. Menurut A, C belum terlalu dewasa dan dapat diandalkan apabila menjadi ayah. Karena menjadi ayah secara langsung bukan perkara mudah, meskipun C tidak ada masalah dengan hal tersebut.

Kandasnya hubungan A dan C hanya ditanggapi senyuman oleh B (dan aku tentunya). Sampai akhirnya 18–08–2018 mereka kembali rujuk walau tanpa restu kedua belah pihak orang tua dengan beberapa alasan bahwa pernikahan resmi mungkin dilakukan ketika si A sudah lulus S2 (sekitar 2 tahun dari sekarang, karena baru mulai kuliah). Dapat dikatakan ini adalah masa “percobaan”. Teman-teman A selain aku ada yang pro dan kontra dengan keputusan ini. Teman yang kontra mengatakan hubungan tanpa restu keluarga memang tidak akan baik. Aku salah satu teman yang pro walau memang dengan pertimbangan. Alasannya:

  • Pacaran memang tidak lebih baik daripada menikah menurutku. Daripada terus dosa karena pacaran.
  • “Masa percobaan” akan menjadi masa monitoring dan evaluasi bagi masing-masing mereka. Apakah benar-benar sudah berubah menjadi lebih baik? apakah mulai bisa mendiskusikan dengan baik apabila terdapat masalah.
  • Hal ini berdampak kepada anak mereka yang masih kecil, tentu bahagia melihat mama dan papa dekat kembali dan utuh menjadi keluarga.
  • Mereka sama-sama berusaha untuk menjaga diri karena A memiliki suami dan B memiliki istri. Hal ini baik untuk diri mereka masing-masing.

Tetapi masih ada sedikit perdebatan diantara A dan C. Jujur, aku senang mereka membahasnya saat ini sebagai bahan evaluasi bagi kedua belah pihak agar ke depannya masalah dapat terselesaikan dengan kepala dingin.

  • Si A adalah orang yang tidak bisa melupakan masa lalu (terutama kesalahan) dan kebayang (flashback), sedangkan B dapat memaafkan karena yang berlalu tidak dapat diubah. “Ini bukan barang yang sudah dibeli lalu dapat dikembalikan” kata B. B lebih positif untuk melihat ke masa depan. Kurasa A perlu berpikir ke depan layaknya B.
  • Salah satu mindset A bahwa laki-laki kaya dan banyak uang akan selingkuh (pendapat dia hasil generalisir dari lingkungan di sekitarnya atau pendapat bahwa B belum selingkuh aja karena belum banyak uang?). Dalam hal ini aku setuju dengan B bahwa selingkuh bukan perkara uang. Masih banyak orang yang kaya raya dan setia dengan istrinya. Banyak pula orang yang kurang mampu tetapi selingkuh. Tergantung pribadi masing-masing.
  • Si A selalu berpikir tentang orang tuanya, B harus baik, romantis, bertanggung jawab dan sempurna terutama depan orang tua A. Padahal tidak ada yang sempurna. B selalu berusaha. Tetapi sebaliknya A seperti tidak ada usaha untuk memberikan kesan baik pada orang tua B yang memang kurang suka dengan A juga. A mengatakan “yakin milih A, ga nyesel nanti?” Padahal B sudah yakin. Seharusnya A juga bisa meyakinkan orang tua B agar hubungan A B diusahakan bersama.
  • Pendapat B, suami itu mengikuti pendapat istrinya dalam hal apapun terutama keluarga (anak). Apabila disuruh memilih, B lebih memilih A dibandingkan orang tuanya karena A adalah orang yang akan bersamanya sampai akhir hayat. B yakin akan hal tersebut.
  • Lalu soal anak. Beberapa kali A menyalahkan B ketika anaknya bersikap kurang baik (mencontoh B). Padahal B sangat jarang bertemu, sikap dan perilaku tentu mencontoh A yang sehari-hari bersamanya. Kalau menurutku, saling bersikaplah baik dan bukan menyalahkan satu sama lain. Anak kalian masih kecil dan masih ada kesempatan untuk menjadikannya lebih baik. Kalau terkait anak kalian mengadu kepada orang tua A ketika B bercanda-bercanda sampai orang tua A marah kepada B, hal tersebut perlu didiskusikan antara A, B, dan orang tua A agar tidak menimbulkan masalah berkepanjangan. Gaya pengasuhan anak memang berbeda antarzaman, sehingga bercanda-bercanda yang dianggap berlebihan oleh orang tua, mungkin biasa saja di zaman sekarang.

Konlusi dari aku, pendapat pribadi:

Sudah banyak pendapat yang kujabarkan dalam tulisan ini, aku, bukannya sok bijak, tetapi memberi pendapat yang seimbang kepada A dan B dan netral. Aku bilang A salah bila memang ia salah walau ia temanku. Aku bilang A benar kalau memang benar bukan karena ia temanku. Begitu pula sebaliknya. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa kalian sama-sama saling sayang sebetulnya. Dengan debat dan adu pendapat (atau diskusi ya bahasa halusnya) yang menjadi pelik, kalian masih bersama. Harapanku sebagai teman, semoga rujuk kalian ini bukan main-main. Kalau kalian sampai berpisah (berarti mengulang kesalahan yang sama 2x), mungkin aku akan benar-benar kecewa. Kalian harus saling mendengarkan, saling jujur, saling memberi pendapat dengan cara yang baik, saling menurunkan ego bahwa diri kita belum selalu benar, saling memaafkan dan tidak menjadikan kesalahan masa lalu sebagai senjata ketika bertengkar, saling menjaga satu sama lainnya, dan menjadi orang tua yang baik untuk anak kalian.

Terima kasih sudah membaca! aku memang belum menikah, aku belum tahu masalah yang sesungguhnya karena aku hanya mendengar dan berpendapat tanpa merasakannya. Mungkin aku lebih tenang menghadapi berbagai macam permasalahan ini karena itu tadi, aku tidak terlibat langsung di dalamnya, aku tidak terbawa perasaan dan lebih tenang dengan logika. Masalah A ya solusinya B.

Semoga bisa dijadikan bahan pelajaran untuk kita semua.