Di Titik “Down”
Namanya juga manusia, up and down itu sangat wajar. Tapi, salah satu kesalahan ketika kita memiliki masalah pada diri kita sendiri, terutama pikiran kita, kita cenderung menyalahkan keadaan dan orang lain. Ketidakstabilan kita mempengaruhi orang-orang di sekeliling kita, terlebih lagi orang yang terdekat. Orang-orang yang seharusnya kita jaga dan sayangi, karena mereka selalu ada untuk kita.
Sayang, kita malah menyakiti mereka dan berpura-pura baik di depan orang lain yang justru tidak terlalu dekat. Bahasa umumnya “pencitraan” kepada orang lain, kita tidak benar-benar menunjukkan apa yang kita rasa, dan itu hanya bisa kita lakukan pada orang terdekat kita. Aku mengerti.
Kalau boleh kubilang, itu wajar. Kalau aku berkaca pada diriku sendiri, akupun kerap kali seperti itu. Aku cenderung marah, diam, dan menunjukkan ekspresi ketidakbahagiaanku hanya di depan orang-orang terdekat, yang malah mungkin membuat mereka kepikiran “kenapa ya.. harus gimana ya..” aku sadar memiliki duri-duri tak terlihat yang menyakiti orang terdekat. Dan rasanya dengan rasa sadar ini aku ingin meminta maaf dan berterima kasih dalam 1 waktu.
Jadi, ketika ada orang terdekatku sedang down mungkin seharusnya aku melakukan hal yang dapat kulakukan, berdoa dan menemaninya jika ia minta dan tidak mengganggunya bila ia memang ingin sendiri. Bukan malah sebaliknya, menuntut ia untuk menjadi baik di tengah peliknya situasinya. Merasa dicuekin, diabaikan memang menyedihkan, tapi mari kita lihat dari sisi ia yang sedang rumit. Tidak perlulah menambah rumit.
Sekarang, kendalikan diri dan pikiran saja. Berhenti menuntut berlebihan. Berikan yang terbaik semampumu. Katanya, ingin menjadi orang yang bijaksana?