Potret Negeri Ini : Pasar Andir

Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan orang lain untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Salah satunya adalah dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, manusia akan melakukan kegiatan jual beli dan yang menjadi tokoh utama dalam kegiatan ini pastinya adalah pedagang sebagai supplier dan pembeli sebagai consumer. Tempat yang cukup identik dengan jual beli ini adalah pasar, pasar umumnya terbagi menjadi pasar tradisional dan pasar modern. Pasar tradisional di Indonesia sendiri memiliki stigma negatif di kalangan masyarakat yaitu kurang nyaman dan bersih serta aman.

Kenyamanan dan keamanan inilah yang menjadi faktor penting saat pembeli ingin melakukan transaksi jual beli. Lingkungan yang nyaman dan aman dapat menyebabkan berlangsungnya kegiatan secara optimal. Penulis sendiri kemudian mengunjungi salah satu pasar yang ada di Kota Bandung ini, yaitu Pasar Andir.

Penulis melihat adanya permasalahan utama yang terjadi di Pasar Andir saat penulis melakukan observasi dan juga berbincang-bincang kecil dengan pedagang yang ada di Pasar Andir, yaitu rendahnya kenyamanan dan keamanan pedagang berjualan di Pasar Andir. Penulis pun kembali mencoba mencari akar permasalahan apa yang menyebabkan masalah utama ini terjadi, dengan meninjau beberapa aspek melalui Fishbone Diagram.

Aspek pertama yang penulis tinjau adalah mengenai pengelolaan. Sistem pengelolaan di pasar Andir ini dapat penulis katakan jauh dari kata baik. Hal ini dapat dilihat dari sistem pengambilan sampah, sistem saluran air, dan elektrifikasi yang tidak memadai. Hal ini teramati ketika penulis melihat berbagai kotoran yang menyumbat saluran air, yang menimbulkan genangan hitam yang berbau busuk khas pasar tradisional yang berada di luar ruangan. Hal ini sangatlah tidak baik untuk kesehatan dan juga cukup berpotensi untuk menyebabkan banjir jika intensitas hujan yang cukup tinggi. Sumber listrik yang digunakan pun memakai cara sambung-menyambung terminal listrik yang cukup berpotensi menyebabkan kebakaran apabila terjadi hubungan arus pendek atau konsleting. Selain itu, walaupun diwajibkan untuk membayar retribusi sampah yang sebenernya kotamadya tidak mengatur tentang hal ini, namun kenyataannya sampah masih menumpuk di setiap sudut pasar. Hal ini semakin mengurangi kenyamanan saat transaksi jual beli berlangsung karena aroma yang tidak sedap tersebut. Hal lain yang membuat heran penulis adalah adanya biaya keamanan yang dibebankan kepada para pedagang tetapi tidak ada pihak yang menjaga keamanan di kawasan Pasar Andir ini, justru para pedagang sendiri lah yang mengurus masalah keamanannya masing-masing. Pasar tradisional juga identik dengan menimbulkan kemacetan karena unload barang dilakukan di depan lapak pedagang dan mengisi ruas jalan yang sebenarnya tidak cukup luas, saat penulis tanyakan kepada salah satu pedagang mengapa dilakukan seperti itu, pedagang hanya menjawab agar tidak memakai jasa kuli angkut.

Aspek kedua ialah regulasi. Pada kenyataannya, pemerintah kota tidak mengatur mengenai pelaksanaan kegiatan usaha di Pasar Andir ini. Hal ini tentu saja tidak ideal, karena Pasar Andir ini perlu diatur oleh regulasi yang jelas agar kondisi pasar ini dapat lebih nyaman dan teratur. Tidak adanya regulasi resmi inilah yang menyebabkan oknum-oknum yang memanfaatkan kondisi ini untuk meraup keuntungan. Saat penulis bertanya kepada salah satu pedagang mengenai pembelian lapak, pedagang itu menjawab bahwa untuk lapak yang berwujud meja dia membayar biaya 4,5 juta rupiah yang membuat penulis cukup terkejut.

Aspek yang terakhir penulis akan bahas adalah aspek eksternal. Maraknya pungutan liar yang dilakukan oleh preman-preman pasar yang berkeliling di kawasan pasar juga turut serta memberatkan pedagang. Uang yang pedagang keluarkan ini tidak menghasilkan sesuatu yang membantu pedagang berjualan di kawasan pasar ini. Adanya mindset dari para pedagang mengenai berjualan di trotoar atau dapat dibilang tumpah ke jalan ini akan lebih menghasilkan keuntungan yang banyak bagi pedagang. Hal inilah yang juga berperan dalam menyebabkan ketidaknyamanan di Pasar Andir karena memang lokasinya yang tidak memadai untuk didirikannya kawasan pasar.

Dari beberapa aspek yang ditinjau, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa akar permasalahan dari masalah utama mengenai kenyamanan dan keamanan di kawasan Pasar Andir adalah tidak adanya regulasi yang resmi dan jelas serta tidak adanya aparat penegak aturan.

Dari permasalahan di atas yang seharusnya coba diselesaikan oleh pihak-pihak yang berwenang, penulis mencoba untuk menawarkan sebuah solusi untuk membantu penyelesaian permasalahan ini, yaitu dengan dikuatkan dan diperjelas kembali peran regulator pasar dari pemerintah, sehingga oknum-oknum yang mengaku perwakilan dari pihak pengelola pasar tidak meraup keuntungan sendiri dengan membebani pedagang. Regulasi yang jelas juga dapat membantu peningkatan fasilitas di kawasan Pasar Andir ini agar dapat memberi kenyamanan saat melakukan jual beli. Selain itu, perlu adanya aparat penegak aturan yang siap siaga untuk mengontrol jalannya kegiatan jual beli di pasar yang sesuai dengan aturan yang berlaku. Hal ini bertujuan agar Pasar Andir ini dapat berjalan dengan lebih terstruktur dan terjamin keamanannya.

Sekian cerita singkat mengenai kondisi Pasar Andir yang penulis amati dari observasi yang dilakukan oleh penulis dan beberapa kawan dari penulis.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.