Menjadi Dewasa


Seberapa sulit menjadi orang dewasa lahir batin jaman sekarang?

Pemikiran ini terlintas begitu saja saat tengah mengantre salaman di kondangan hari ini. Kenapa? Karena ada beberapa orang yang sudah terlihat dewasa lahirnya tapi jiwanya masih belum upgrade. Bagi saya, menjadi dewasa jaman sekarang hanya ada dua hal. Pertama, bagaimana cara kita memperlakukan orang lain dengan baik dan benar. Kedua, bagaimana cara kita mengantre (dimanapun sikonnya) dengan baik dan benar.

Ceritanya berawal segerombolan keluarga entah dari manten pria atau wanita yang tiba-tiba masuk antrean di depan saya. Kita yang sudah antre seperempat jam lebih bingung dan kesal melihatnya, dan parahnya lagi adalah ada beberapa anak muda lainnya yang ikut-ikutan main ambil antrean seperti gerombolan keluarga tersebut. Disindir banyak orang tetap saja tidak ambil peduli. Kita bisa apa? Bisa pasrah dan kesal.

Mengapa sulit berprilaku baik kepada orang lain?

Tolonglah wahai manusia-manusia dewasa, berkelakuan baik kepada orang lain tidak akan mengurangi tingginya derajat kalian. Tidak akan membuat harta kalian kurang, tidak akan mencoreng nama baik kalian, tidak akan ada kerugian apapun untuk kalian. Kenapa tidak mencoba untuk menjadi manusia dewasa di era yang sudah dewasa ini?. Mengapa tidak mencoba lebih baik di tengah jaman yang rapuh akan kebaikan hati?. Bukankah menjadi lebih baik dari hari kemarin adalah satu langkah kecil menuju kedewasaan itu sendiri?.

Memiliki rasa malu juga bagian dari pendewasaan. Jangan kalah sama Mimosa Pudica.

Memiliki rasa malu juga bagian dari langkah menuju dewasa. Selalu siapkan stok malu kepada orang lain, atau minimal jangan sampai kehabisan stok malu kepada diri sendiri. Jangan kalah sama tanaman putri malu yang sedari kecil memiliki naluri akan “rasa malu”. Kenapa? Karena jika kita memiliki rasa malu, maka kita akan sungkan bahkan enggan melakukan hal buruk dan merugikan orang lain. Rasa malu juga membedakan bagaimana anak-anak bersikap dan orang dewasa bersikap.

Menjadi dewasa tidak perlu pura-pura kuat, pura-pura bahagia, pura-pura baik. Menjadi dewasa tidak perlu kepura-puraan.

Cukup menjadi baik adalah kedewasaan itu sendiri. Tidak perlu drama dan ribuan quotes bahasa asing yang kadang kalian sendiri tidak mengerti. Menjadi baik tidak akan membuatmu rugi, sebab semua akan kembali kepada diri sendiri. Selalu kembali.

Menjadi dewasa bukan dengan cara menyingkirkan “anak kecil” dalam diri. Menjadi dewasa memang tidak mudah, ditambah jaman sekarang dengan tata krama yang hampir punah.


Cerita diatas hanyalah beropini, sebab menjadi dewasa bukanlah ilmu pasti.
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.