Menilik Penyebab Inflasi Venezuela, Negara dengan Cadangan Minyak Mentah Terbesar di Dunia
Dulu, Venezuela dikenal sebagai salah satu negara yang sangat makmur dari negara-negara lain yang ada di sekitar Amerika Latin. Negara berkembang yang satu ini kaya oleh kekayaan minyak yang ada di bawah permukaan negara ini. Bahkan Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Namun, searah dengan harga minyak yang anjlok beberapa tahun belakangan dan minimnya investasi di sektor negeri, berkah itu sekarang malah menjadi petaka bagi Venezuela.
Ketika sedang dalam masa jaya-jayanya, pemerintah Venezuela sangat memanjakan masyarakatnya. Mulai dari subsidi pangan, biaya pendidikan, beasiswa mudah ke perguruan tinggi, hingga jaminan kesehatan yang sangat cukup bagi warganya. Ada beberapa hal yang patut diperhatikan mengenai krisis yang dialami Venezuala ini.
Menurut data OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) pada tahun 2015, Venezuela terbukti memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia, yaitu mencapai 300 milliar barrel. Angka ini melampaui negara-negara kilang minyak lainnya, Arab Saudi (266 milliar barrel), Iran (166 milliar barrel), dan Irak (142 milliar barrel). Namun, ketika harga minyak dunia yang anjlok dari 115 dollar AS per barrel hingga setengahnya pada tahun 2014, pertumbuhan ekonomi Venezuela anjlok hingga 10 persen. Yang dipertanyakan dari hal ini adalah, kenapa hanya Venezuela saja yang mengalami inflasi sedang negara-negara penghasil minyak lain tidak demikian?.
Yang harus dibahas di sini adalah kebijakan presiden Venezuela periode 1999–2013, Hugo Chavez. Chavez adalah mantan tentara, memenangkan pemilu tahun 1999 dengan kampanye besar-besaran menjanjikan keadilan sosial dan pemberantasan kemiskinan. Chavez sangat memanjakan rakyatnya. Harga bensin diturunkan hingga 1 sen US Dollar, yang bahkan lebih murah dari harga air mineral. Dia juga membangun klinik-klinik kesehatan, mengimpor dokter-dokter dari luar negri, hingga menggratiskan biaya pengobatan bagi warga-warganya.
Niat utama Hugo Chavez adalah memberantas kemiskinan. Untuk mengurangi pengangguran, ribuan orang direkrut menjadi pegawai dari perusahaan minyak milik Venezuela bernama PDVSA tanpa ada proses seleksi yang jelas, dan dengan gaji yang sangat besar pula. Hal ini dimaksudkan agar pengangguran-pengangguran keluar dari kemiskinan.
Chavez juga menjadikan semua perusahaan swasta menjadi milik negara, sehingga orang-orang yang bekerja di sana menjadi pekerja pemerintahan dan digaji negara dari APBN. Sehingga perusahaan swasta semakin jarang adanya.
Semua kebijakan itu terlihat bagus. Efek jangka pendeknya memang bisa dibilang sangat bagus. Angka kemiskinan menurun dari 60% hingga 30%. Jaminan kesehatan, bensin murah yang membuat semua murah. Sayang semua itu hanya sementara.
Kebijakan Chavez, membuat semua pembiayaan dibebankan dari APBN. Sementara itu, penghasilan negara sebesar apapun tetap ada batasnya. Dan masalahnya, Venezuela hanya memiliki ‘Satu’ tumpuan penghasilan negara, minyak. Sebesar 90% ekspor Venezuela adalah minyak. Ketika harga minyak turun pada 2014, Venezuela benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa untuk meningkatkan ekonomi mereka.
Hampir semua perusahaan swasta sudah dibeli oleh pemerintah. Padahal, perusahaan swasta merupakan salah satu sektor penghasilan negara yang besar, yaitu dari penarikan pajak. Sehingga, ketika Venezuela mengalami krisis karena harga minyak yang turun, masalah semakin membesar ketika perusahaan yang seharusnya menjadi penghasilan negara malah menjadi beban untuk menggaji karyawannya.
Saat Venezuela dalam masa jayanya, sebenarnya Venezuela masih terus menambah hutang negaranya, yaitu ke Rusia dan China. Saat itu mereka memperkirakan harga minyak akan terus naik, sehingga mereka berani memberi hutang ke Venezuela. Sekarang, ketika Venezuela sedang krisis, tidak ada lagi negara yang mau membantu, karena takut Venezuela tidak bisa melunasi hutangnya. Hal ini semakin menambah keterpurukan Venezuela.
Sebenarnya pemerintah Venezuela memiliki niat yang baik untuk rakyatnya. Bahkan Chavez, dengan kebijakan-kebijakannya dianggap sebagai ‘Pahlawan Masyarakat’ pada saat itu. Masalahnya sekarang, apakah niat yang baik cukup untuk menentukan kebijakan untuk rakyat?. Perencanaan dan perkiraan yang matang dengan memikirkan segala sisi adalah kewajiban pembuat kebijakan, untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi di masa yang akan datang. Presiden Venezuela saat ini, Nicolas Maduro bersikeras ingin mengikuti jejak pendahulunya. Harga minyak dunia turun yang membuat Venezuela mengalami inflasi. Maduro harus menentukan sikapnya untuk mengatasi krisis yang besar ini.
Daftar Pustaka
Susanto, Marcel. (2018). Bagaimana Kebijakan Subsidi Bisa Menghancurkan Negara?. From https://www.zenius.net/blog/18773/bahaya-subsidi-memicu-krisis-ekonomi
Rakhma, Sakina. (2017). 3 Penyebab Krisis Parah di Venezuela, Masalah Minyak hingga Utang Luar Negeri. From https://ekonomi.kompas.com/read/2017/08/04/110000126/3-penyebab-krisis-parah-di-venezuela-masalah-minyak-hingga-utang-luar-negeri.
Desshania, Riva. (2018). Mencalang Penyebab Kritisnya Ekonomi Venezuela. From https://www.cnnindonesia.com/internasional/20180313043920-134-282482/mencalang-penyebab-kritisnya-ekonomi-venezuela