Asumsi

Kamis, 20 Oktober 2016.
Aku terbangun dalam keadan deadline laporan biokimia jam 1 siang dan belum selesai, juga belum belajar untuk pretest ekologi yang dosennya mengharuskan untuk membaca literatur. Akhirnya aku memutuskan untuk membaca literatur mengenai konsep hukum termodinamika dua yang berkaitan dengan perpindahan energi di ekosistem yang menjadi bahan kajian hari ini dengan melupakan laporan biokimia. Singkat cerita kelas selesai jam set 11 dan panik laporan biokimia belum beres, tapi akhirnya selesai jam set 1 dan lanjut kelas biologi sel jam 1 dalam keadaan belum sarapan.

*curhat*

Singkat cerita mata kuliah biologi sel ini yang biasa diisi sama pak Sofy digantikan oleh guru besar biologi ub Prof. Sutiman B. Sumitro yang terkenal sama penemuan rokok sehat penyembuh kanker itu a.k.a devine kretek. Jam 1 siang belum makan ngantuk diceramahin masalah biologi sel yang kajiannya itu ngawang dan filosofis ala ala prof. Sutiman. Dalam keadaan ngantuk aku dengerin ceritanya beliau. Beliau bercerita mengenai gelar doktor yang didapatkannya 34 tahun silam dengan gelar yang mentereng pada jamannya dengan kajian biologi sel, biologi molekuler, dan nano biologi beliau salah satu orang yang bertanggung jawab atas keberadaan ilmu terkait di Indonesia.

Prof. Sutiman bercerita mengenai penelitian yang beliau lakukan di tahun 1994 mengenai obat untuk penderita Alzheimer dan parkinson yang diderita petinju muhammad ali kala itu. Cerita dimulai dengan teori mahluk hidup adalah mahluk kompleks yang tidak dapat dimengerti oleh siapapun. Seperti manusia yang sejatinya sesama manusia tidak dapat saling mengerti satu sama lain. Problem tersebut menimbulkan masalah bagaimana kita dapat mengerti satu sama lain? maka jawabannya adalah dengan analisis atau penyederhanaan dari kompleksnya mahluk hidup atau diuraikan. Namun dalam menguraikan kita tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, maka timbulah ASUMSI untuk mengetahui masalah tersebut.

Lanjut cerita alzheimer, alzheimer yang diderita oleh lansia merupakan mati nya sel saraf dikarenakan diproduksinya TNFalfa dan NO pada sel glia didalam tubuh yang menyebabkan matinya sel saraf. Beliau mengASUMSIkan bahwa produksi TNFalfa dan NO dapat dihentikan oleh sebuah obat yang beliau teliti.
Beliau melakukan penelitian dengan seorang warga negara korea dan proposal yang dibuatnya didanai oleh departemen kesehatan amerika serikat kala itu. Penelitian yang beliau lakukan berhasil dan berniat untuk mematenkan obat tersebut dan beliau bersama temannya berASUMSI akan menjadi kaya dan terkenal karena hak paten obat tersebut pada penyakit yang belum ditemukan obatnya hingga saat ini. Beliau ter FOKUS akan hasil yang akan ia dapatkan setelah mematenkan obat tersebut dan meng ABAIKAN beberapa faktor lain.

singkat cerita, pada penelitian lanjut obat tersebut tidak bekerja pada kondisi ekstrem atau pada beberapa sel dan dinyatakan gagal. Rekan penelitian beliau mengalami stress hingga meninggal karena keGAGALannya. Namun prof. Sutiman hanya berkata “saya tidak apa apa pasti ada hikmahnya”…

ternyata eh ternyata, kegagalan tersebut dikarenakan oleh ASUMSI yang dibuat beliau. Beliau berASUMSI bahwa sel glia akan berhenti memproduksi TNFalfa dan NO yang menyebabkan kematian sel saraf, oleh senyawa yang beliau teliti. Namun ada beberapa yang beliau tidak ketahui sehingga beliau hanya ber asumsi…

ini poinnya..
tidak mengetahui, hanya berasumsi…

beliau hanya ter FOKUS pada satu sel glia, dan meng ABAI kan yang ada disekitar.. sehingga tidak sesuai..

okay fine, sebernya w dah tau ini dosen ceritanya filosofis yang nampar banyak orang dengan ceritanya..
benang merahnya, ketika kita tidak mengetahui beberapa hal dalam kehidupan kita, kita hanya bertanya dan tidak mempunyai jawab yang valid, ketidak adaan jawaban tersebut menghasilkan asumsi yang cenderung menjustifikasi beberapa hal yang ada dikehidupan sehari hari.. padahal kita gak tau apa yang terjadi…
people nowadays selalu menjudge a.k.a berasumsi pada suatu kejadian atau seseorang hanya untuk menambahkan bumbu pada gosipannya hehe.

dalam sains khususnya biologi yang secara etimologis berarti bio adalah kehidupan logi artinya logic, semua yang ada dalam kehidupan haruslah masuk akal dan dapat dibuktikan secara empiris bukanlah berasumsi, sehingga ketika kita berasumsi tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi memiliki kemungkinan salah dalam mengasumsikan sangatlah tinggi….

ya setelah senyum senyum sendiri dikelas memahami alur nalar bapak yang satu ini, akhirnya ngerasa worth it gak cabut kelas biologi sel, dan harus lanjut lagi kelas sampe magrib.

jadi…

“Dont’t judge a book, by it’s cover”

bahaya laten, dilarang berasumsi..

“If you can’t understand people, try to love them”

#pahamisendiri
#selfcure
#lelah

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.