Sudahkah anda bersyukur?

Sepenggal kisah yang membuatku terdiam dan terpaku sepersekian detik hingga akhirnya aku sadar bahwa betapa berlebihnya hidupku, hingga tak pernah terlintas dalam benak ini untuk mengucap kata syukur.

Alkisah siang hari aku sedang mengkuti serangkaian kegiatan di kampus biru, kampus perjuangan, kampus tercinta Universitas Brawijaya Malang. Singkat cerita ketika aku sedang mendengarkan materi yang sedang disampaikan, pemateri memberikan intruksi untuk mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan impian juga mimpi kalian dalam secarik kertas tersebut. Lantas aku berfikir sejenak, apa yang akan aku tuliskan dalam secarik kertas tersebut. Aku pun terdiam cukup lama hingga pada akhirnya ada seorang kawan yang menyapa dari belakang dan bertanya “Mas, kon nulis opo?”…
Aku pun menjawab “sek sek sek….”. Beberapa menit kemudian pemateri pun memberi tanda bahwa waktu penulisan mimpi tersebut telah berakhir, padahal aku belum menuliskan sedikitpun keinginanku dalam secarik kertas tersebut. Hingga pada akhirnya pesertapun dipersilahkan untuk menukarkan secarik kertas tersebut kepada teman yang berdapa di depan.

Singkat cerita akupun mendapatkan kertas dari teman yang berada dibelakangku dan membaca mimpi yang ia tuliskan. Namun saat aku membaca, hati ini terasa ingin menangis karena tersentuh dari tulisan yang ia tuliskan dalam secarik kertas tersebut. Betapa tidak, mimpi yang ia tuliskan membuatku terdiam dan berfikir betapa beruntungnya menjadi seorang “Faris” yang sudah merasakan apa yang ingin dia rasakan. Padahal mimpi yang ia tuliskanpun tidak setinggi yang pembaca bayangkan atau bahkan mungkin pembacapun sudah merasakan hal tersebut. Lalu akupun melihat raut wajah sang teman tersebut lalu ia bertanya “lapo?” Yang berarti “kenapa?” dan aku tidak menjawab pertanyaan terbut hingga pada akhirnya aku mengembalikan mimpi yang ia tuliskan tersebut. Akupun mulai berfikir sejenak, terpenuhinya kebutuhan panganku yang selalu tercukupi dengan berbagai hidangan yang nikmat, juga sandang yang layak, hingga materil yang selalu berlebih namun dihambur-hamburkan membuatku lupa akan bersyukur.

Sungguh suatu siang yang sangat tak terduga namun berarti sangat besar bagi seseorang pribadi yang lupa untuk bersyukur seperti pribadi ini.

Hakikat syukur sebenarnya hanya ungkapan iman menyambut dengan penuh ridha akan segala karuniaNya -Salim A. Fillah

Pribadi ini yang selalu melihat akan silaunya dunia, namun tak pernah ingat akan karunia.
Pribadi ini yang terpatri untuk selalu terpenuhi namun tak pernah tahu cara untuk mengasihi.

“Maka, nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang engkau dustakan?” (QS Ar-Rahmaan:13)

Segala puji bagi Allah, sungguh kita milikNya juga akan kembali kepadaNya.

Semoga pembaca dapat memetik hikmah dari kisah yang saya dapatkan tersebut.

Mohon maaf apabila ada kesalahan kata, kesempurnaan hanya milik-Nya.
Terimakasih