Betapa sadarnya aku bahwa umur ini sudah 25 tahun. Aku yang sudah dewasa, tidak akan lagi bercita-cita naik pesawat terbang. Memang, kadang rasanya aku masih suka membayangkan bagaimana terbang di langit-langit Indonesia. Apalagi langit-langit Eropa dan Amerika.Tetapi cita-cita itu sekarang kebanyakan menjadi milik anak-anak kecil, Bukan orang dewasa sepertiku.

Kata temanku, naik pesawat terbang itu memang 'begitu-begitu' saja. Hanya pemandangan putih berseni pada pagi hari nya. Lalu hitam pekat yang membosankan di malam harinya. Kata temanku lagi, yang paling indah dari pesawat terbang pun hanya lah pramugari nya saja. Selebihnya, tergantung pandangan masing-masing orang.

Entah kenapa, meski temanku berkata seperti itu, aku yang tidak pernah naik pesawat terbang, masih saja berfikir : 'naik pesawat itu asyik, seru dan bangga'. Maklum lah aku tinggal di Jawa. Dan jawa sudah berlimpah rupah akan keindahannya.

Daratan seringkali tak menguras banyak kantong uangku. Daratan juga pandai mengajarkan kesabaran hidup seseorang. Tetapi aku juga mengerti bahwa udara itu paling dicintai oleh jantung hati manusia.

Seperti cita-cita ku naik pesawat terbang yang sekarang tergantikan dengan kepastian beberapa menit lagi. Ya, setelah menikah dengan Vina kemarin sabtu, kuputuskan aku akan terbang pertama kalinya. Ya, berbulan madu, tanpa resah dengan kantong uangku. Segala hal memang banyak berubah kalau sudah bersama kekasih baru. Aku menyukai nya sejak pertama kali bertemu di kampus Airlangga. Sama-sama penyuka sastra, adalah wujud dari awal benih-benih cinta kami berdua. Apalagi cinta nya semakin dalam sejak Ia membaca cerpenku berjudul, "Aku, Istriku Terbang ke Maldives."


Belum Pernah Naik Pesawat Terbang

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Fariz Aulia Rifqi’s story.