Atas Nama Dangdut dan Cinta

Farouq Rayhan
Nov 2 · 1 min read

”Satu dua... Satu dua.... Mainkaaann..."

Begitulah komando dari sang vokalis, yang kemudian langsung disambut dengan meriah para penonton. Bagaimana tidak, alunan musik "semi dangdut" yang asik, lirik yang terdengar menggelitik, serta penampilan personilnya yang unik, OSD HMT ITB sukses membuat seluruh penonton bergoyang.

Semakin lama, penonton pun makin larut dalam alunan musik yang dimainkan. Hebatnya, penonton tidak semakin lelah, justru goyangan mereka makin meriah. Diselingi oleh penampilan "sulap" dan gombalan-gombalan, kelompok musik yang didirikan pada tahun 70-an ini berhasil mengundang tawa para penonton.

Hingga tiba lah akhirnya di penghujung acara, di mana justru ini adalah titik klimaks dari aksi panggung mereka. Membawakan lagu andalan mereka "Erika", OSD HMT ITB berhasil membuat semua berjoget dan bergoyang. Mungkin, untuk yang baru pertama kali mendengar lagu ini rasanya agak "aneh" mendengarnya. Bagaimana tidak, liriknya menceritakan tentang pengalaman nakal seorang mahasiswa dengan janda muda.

Usut punya usut, ternyata liriknya pun tak hanya sekadar bercerita tentang nakalnya seorang mahasiswa yang bermain dengan janda muda, di balik itu lagu ini berisi kritik terhadap pemerintah orde baru tentang kebijakan pemerintah untuk me-lokalisasi prostitusi di Gang Dolly, Surabaya. Jenius bukan? Mungkin kalau kritik langsung ke pemerintahan orde baru, mahasiswa pada waktu itu sudah hilang di telan rezim. Alhasil, dengan membawakan lagu yang berisi kritik namun tetap asik, tentara yang berjaga saat mereka pentas pun juga ikut bergoyang dalam dendang.

Mau tidak mau, suka tidak suka, badanmu pasti akan berjoget ketika mendengar dangdut. Memang benar ternyata, dangdut bukan hanya sekadar seni musik, tapi juga seni menyatukan.

Ditulis atas nama dangdut dan cinta.

Bandung, 2 November 2019