Jeritan Pedagang Pasar Andir

Pada suatu malam, aku memutuskan untuk pergi ke suatu tempat. Dalam perjalanan, aku melihat sesuatu yang unik. Aku melihat sebuah pasar tumpah yang memenuhi sisi kanan kiri jalan dan baru dibuka pada saat malam hari saja. Aku melihat mobil dan motor banyak yang melewati jalur tengah diantara pasar pasar yang dibuka, antara mereka mengirimkan barang dagangan, ataupun hanya sekedar lewat. Lalu kupinggirkan dan kuparkirkan sepeda motorku di samping jalan, dan kemudian aku mulai memasuki pasar tersebut. Banyak sekali jenis barang jualan yang dijajakan disana, mulai dari sayur-mayur, buah-buahan, hingga daging pun ada. Tetapi hal yang sangat disayangkan bagiku adalah tempat jualan mereka yang sangat tidak nyaman. Sampah banyak berceceran dimana-mana, tempat berjualan yang hanya beralaskan kayu dan terpal dan tidak tertata rapih, serta padatnya lalu lintas di depan lapak mereka dikarenakan ada mobil pick-up yang berhenti untuk mengantarkan barang, ataupun karena ada pengendara motor yang melawan arus. “Pasar apa ini pak namanya?” tanyaku kepada salah satu penjual disana. “Pasar Andir ak” jawab penjual tersebut. Lalu akupun memulai perbincangan dengan salah satu penjual disana dan mendapatkan beberapa informasi terkait kondisi Pasar Andir untuk saya buatkan analisis Fishbone

Analisis Fishbone

Dari perbincangan tersebut, aku mendapati bahwa pedagang disana sebenarnya resah akan keadaan yang sekarang mereka alami. Dengan melakukan analisis fishbone, aku menemukan bahwa permasalahan utama yang ada di Pasar Andir ini adalah rendahnya kenyamanan dan keamanan pedagang untuk berjualan di Pasar Andir. Dari permasalahan utama ini, aku memecah jadi tiga bagian permasalahan yaitu faktor eksternal, faktor pengelolaan, dan faktor regulasi.

Didalam faktor eksternal, aku mendapati banyak pungutan pungutan kepada pedagang disana. Pungutan yang mereka(pedagang) bayarkan tidaklah jelas peruntukannya. Beberapa bilang pungutan ini untuk uang keamanan, uang kebersihan, dan uang perawatan meja yang pada kenyataannya pedagang sendirilah yang menjaga keamanan mereka sendiri, membersihkan sampah mereka sendiri, serta meja yang diberi pun adalah meja yang kualitasnya sangat buruk. Mungkin mereka membayar uang kemanan agar mereka “aman” dari si penagih pungutan. Lalu yang kedua adanya anggapan bahwa berjualan di trotoar lebih menguntungkan dibanding tempat lain. Hal itulah yang membuat para pedagang tetap betah untuk berjualan disitu sehingga sangat sulit untuk direlokasi.

Faktor pengelolaan pasar tersebut sangatlah buruk bagiku. Tidak adanya tempat khusus untuk menaikan dan menurunkan barang membuat jalanan menjadi macet hanya khusus untuk mengirimkan barang ke tempat berjualan, sehingga pembeli merasa tidak nyaman ketika berbelanja disana. Lalu tidak adanya aparat keamanan yang jelas untuk menjaga ketertiban dan keamanan walaupun mereka sudah membayarkan uang keamanan. Ini jelas sangat mengganggu penjual penjual disana karena uang mereka terambil tanpa alasan yang jelas. Kemudian sistem pelistrikan yang buruk akan menyebabkan kebakaran. Tidaklah aman ketika mereka hanya memiliki satu sumber listrik dan menyalurkannya dengan mencolokkan stop kontak satu sama lain dan terhubung sampai toko ke sekian dapat membuat arus pendek listrik dan kebakaran. Kemudian sistem aliran air pembuangan dibawah lapak yang buruk. Got tidak pernah dibersihkan dan dalam keadaan terbuka sehingga ketika sedang hujan, air pembuangan atau got akan meluap dan menyebabkan bau bau yang tidak sedap dan sangat mengganggu pedagang dan pembeli disana. Lalu sistem pembuangan sampah yang buruk membuat keadaan pasar semakin tidak nyaman.

Yang terakhir adalah faktor regulasi. Perizinan menjadi hal yang mahal disini, karena mereka harus membayar 4,5 juta rupiah untuk membuka lapak dan ditandai dengan sebuah meja. Sangatlah memberatkan menurut saya ketika hanya membuka lapak yang tidak didalam kios dan tempat jualan yang dibuat sendiri oleh pedagang diwajibkan membayar uang sebesar itu. Tidak adanya pengelola pasar yang jelas. Pada umumnya pasar tradisional di jakarta akan tergabung dalam PD Pasar Jaya. Tetapi karena pengelola disini juga tidak jelas kekuatan hukumnya mengakibatkan regulasi yang ada disini juga tidak jelas.

Dari hal hal yang sudah aku jelaskan diatas, dapat aku simpulkan bahwa akar permasalahan adalah pengelolaan pasar yang buruk sehingga menyebabkan masalah masalah tersebut terjadi. Tindakan semena-mena serta ketidak-pedulian pengelola pasar kepada pedagang membuat pedagang disini tidak nyaman dalam berjualan serta menurunkan potensi pendapatan yang seharusnya mereka dapatkan bila tidak membayar uang uang pungutan tersebut. Salah satu solusi yang aku tawarkan adalah meminta pasar ini dikelola oleh PD Pasar Bandung karena dengan begitu, pengelolaan akan menjadi tanggung jawab pemerintah serta terdapat kejelasan di setiap kebijakan yang dibuat.

Mungkin Pasar Andir ini merupakan pasar tradisional dimana dalam pandangan masyarakat selalu identik dengan kotor dan tidak tertata rapih. Tapi bagiku pasar tradisional merupakan identitas Bangsa Indonesia dan merupakan sebuah budaya yang harus dilestarikan. Kita bisa membuat perbaikan sistem dan penataan yang baik tanpa harus meninggalkan kesan tradisional dimana didalamnya terjadi tawar-menawar barang. Untuk itu saya mengajak pembaca untuk dapat membuka pandangannya tentang keberlangsungan pasar tradisional serta menyuarakan suatu perubahan untuk membuat pasar tradisional menjadi lebih baik.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Fateh Prasandha’s story.