Perjuangan Seorang Kondektur Bis

Terminal Leuwi Panjang

Pada ceritaku sebelumnya, aku mengunjungi Pasar Andir untuk mengetahui keadaan disana seperti apa. Lalu pada perjalanan yang sama, aku sempat mampir ke Terminal Leuwi Panjang. Didalam pikiranku, kebanyakan terminal terminal yang ada sangatlah tidak rapih, memiliki banyak sampah, serta penuh dengan bis bis atau angkot yang parkir tidak karuan. Tetapi setelah saya ngopi bareng bersama salah satu penjaga warung disana, pandangan saya berubah. Terminal ini sudah cukup bersih karena ada petugas kebersihan yang siap untuk membersihkan tempat ini, lalu pedagang kaki lima semuanya tertata rapi di samping terminal dan bahkan pedagang asongan juga diletakkan terpusat sehingga tidak mengganggu jalannya kendaraan yang lalu lalang. Bis bis tertata rapi dan waktu berhentinya cukup cepat sehingga tidak menimbulkan kemacetan yang berlama lama. Akupun terkagum kagum pada terminal ini dan memang terlihat dari sisi pengelolaan, terminal ini dikelola dengan cukup baik.

Lalu akupun pamit kepada penjaga warung yang saya ajak berbincang tadi dan mulai mencari objek baru lagi sebagai sumber informasi baru. Setelah beberapa saat mencari, aku menemukan sebuah bis sedang terparkir. Aku mendatangi bis tersebut dan mulai melihat kedalam bis tersebut. Aku mendapati ada orang didalamnya. Aku menghampiri orang tersebut dan memulai perbincangan. Dia adalah seorang kondektur bis dan telah bekerja sangat lama. Dia mengeluhkan menjadi kondektur bis saat ini sangat memprihatinkan kesejahteraannya. Lalu aku mulai mendengarkan ceritanya dan mulai mencatat hal hal penting yang bisa digunakan untuk mencari akar permasalahannya. Seperti biasa saya akan menggunakan metode Fish Bone untuk kebutuhan analisisnya.

Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah faktor eksternal, dimana menjamurnya travel menjadi opsi tersendiri bagi konsumen sehingga penumpang bus terbagi dengan penumpang travel yang menyebabkan penumpang bus menurun. Padahal, kondektur bis mendapatkan sebagian penghasilan dari jumlah penumpang yang dia dapatkan. Lalu ada faktor kondisi bus, dimana perawatan yang kurang akibat kurangnya pemasukan. Kondisi ini juga menyebabkan kurangnya penumpang yang naik karena pertimbangan keamanan.

Lalu adanya regulasi yang merugikan kondektur, serta supir bis. Banyak uang uang yang harus dibayarkan seperti uang jalan, yaitu uang ketika mereka meninggalkan terminal karena sudah parkir di daerah terminal, lalu aturan dilarang menurunkan penumpang di tol karena kebanyakan penumpang turun disitu agar mempersingkat waktu mereka pulang. Serta yang terakhir dibungkamnya sopir dan kondektur dimana mereka pernah berdemonstrasi tetapi malah dipecat dari pekerjaannya membuat posisi sopir dan kondektur semakin terpojok. Sopir dan kondektur bis ini sangat tereksploitasi jam kerjanya, jam kerja yang mereka punya tidak sebanding dengan penghasilan yang mereka dapat. Padahal gaji yang mereka dapat hanya 7.5% dari total pemasukan penumpang sekali jalan. Mereka bahkan hampir tidak pernah pulang hanya karena bekerja. Dengan demikian waktu istirahat yang mereka miliki sangatlah kurang

Yang terakhir, kurangnya kepedulian pengelola kepada sopir dan kondektur. Tidak ada tunjangan dari pengelola bis diluar jam kerja, padahal tunjangan tunjangan sangat mereka perlukan pada hari hari tertentu misalnya seperti lebaran karena pengeluaran pasti akan melonjak tajam. Mereka hanya mendapat tunjangan lebaran dari pengelola terminal, itupun jumlahnya tidaklah banyak. Mereka tidak mendapat fasilitas untuk tidur di terminal, padahal terkadang mereka menginapkan bus mereka sehingga mereka terpaksa tidur didalam bus yang mana menurut saya itu sangatlah tidak nyaman.

Dari fenomena ini, sangat terlihat kekuatan pengelola bus sudah mulai berkurang dan dapat dilihat dari kurang mampunya pengelola bus memberikan penghasilan yang layak bagi sopir dan kondektur bus. Travel travel baru yang menjamur menawarkan kemudahan dan kepraktisan kepada konsumen sehingga konsumen lebih tertarik memakai travel ketimbang memakai bus. Konsumen bus pun berkurang dan membuat operasional bus dikurangi yang berarti mengurangi pendapatan dari sopir ataupun kondektur. Hal ini wajar terjadi karena model ekonomi baru yang mudah diterima masyarakat akan mengalahkan model ekonomi yang sudah lama sehingga pada kasus ini, travel dapat mengalahkan bus bus yang ada. Menurut saya agar kedua belah pihak mendapat kesempatan yang sama dalam mengambil penumpang adalah dengan adanya intervensi pemerintah dimana pemerintah mengatur tarif dari travel sehingga target konsumen bus berbeda dengan travel

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.