#5. Bersebab Kilaumu Berbeda, Kau Begitu Istimewa

Hari ini salah satu sahabatku dipanggil lebih dulu oleh Yang Paling Mencintainya.

Namanya Iwan. Anak lelaki usia belasan tahun yang dilahirkan “berbeda” dari anak lainnya. Ia memiliki keterbelakangan mental. Iwan suka jalan-jalan. Ia anak RW 16 tapi sering bermain ke RW 19, RW ku. Anak2 kecil banyak yg takut, termasuk adik ku yang paling kecil. Beberapa lagi menjadikannya guyonan.

Hari ini Iwan dipanggil Allah. Saat melayat, sang Bunda berkata kepada aku dan para ibu2 RW 19, “Banyak ya yang kenal Iwan..” Sang Bunda cukup kaget melihat banyak yg datang melayat. Dan ibu ibu menyahuti “iya Iwan suka ngingetin,”Buu, Sampah!””. Mengingatkan untuk mengangkat sampah keluar karena truck sampah akan lewat.

Biasanya ibu ku saat pergi (mengajar) ngaji di mesjid RW 16 sering bertemu Iwan. Ia sering menyapa,”Buuu, ngaji..” “Buu, sampah udah diangkat?”
Kali pertama aku bertemu Iwan, sebelumnya adik ku sering digoda kakaknya yg laki2 “nanti diketemuin Iwan loh” dan adikku yg paling kecil ini takut. Aku penasaran dengan Iwan. Saat pulang mengantar Ibu mengaji, aku bertemu Iwan. Aku mau menyapa Iwan, ternyata ia menyapa duluan “teteh..”. Senang sekali rasanya disapa Iwan, sejak saat itu aku anggap Iwan sbg teman.

Setiap pulang ke rumah, pasti aku mengajak adikku bertemu Iwan. Kami tidak pernah berkenalan, ngobrol atau apapun. Iwan punya dunia nya sendiri, tapi dia ramah. Rindu rasanya mendapat sapaan Iwan, “teteeh.. pulaang?” “Iyaa wan”

Tapi sekarang Iwan sudah tidak ada di dunia. Allah begitu cinta pada Iwan, menjemputnya di hari dan bulan yang mulia. Sebelum meninggal Iwan kehujanan dan muntah2. Bersebab itulah, orangtuanya membawa Iwan ke dokter. Kata dokter Iwan tidak sakit apa2, hanya masuk angin. Setelah itu beberapa kali Iwan diare, dan warna tinjanya berbeda. Sang bunda sudah punya firasat. Rupanya saat itu Iwan sedang dibersihkan.
Allah terlampau rindu rupanya untuk bertemu Iwan, hingga Allah menjemput Iwan di usianya yg masih belasan.

Sungguh beruntung orangtua yang memiliki anak seperti Iwan. Lewat Iwan lah, Allah menitipkan ujian dan surga untuk orangtuanya.

“Sesungguhnya Allah akan meninggikan derajat hamba yg shalih di surga,” demikian sabda Rasulullah SAW yg dibawakan Abu Hurairah dalam riwayat Imam Ahmad,”maka dia pun berkata,’Ya Rabbi, darimanakah aku mendapat karunia ini?’ Maka Allah berfirman,”Ia bersebab doa istighfar dari anakmu bagimu”.

Jadi teringat kisah Julaibib dalam buku “Jalan Cinta Para Pejuang” nya Salim A. Fillah. Pria kerdil yg lebih dihajatkan langit meski tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yg bersikap tak terlalu bersahabat padanya. Yang hidup di dunia tidak terlalu lama karena bidadari telah terlampau lama merindukannya. Yang Rasul pun sampai berkata saat kematiannya,”Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Yakin lah bahwa Allah tak pernah menciptakan permata yang cacat, kilau nya hanya tidak sama dengan lainnya, tapi karena berbeda itulah, mereka begitu istimewa.

Selamat jalan sahabatku, Iwan!
Mungkin kami akan rindu dengan suara dan sapaanmu. Bersyukur atas pertemuan yg singkat ini dengan hamba Allah yg sangat dirindukanNya.
Semoga kami bisa menyusulmu dalam keadaan yg juga husnul khatimah.

Terimakasih Iwan, kau menjadi sebab untuk menjadikan kami manusia yang cerdas, yang kata Rasulullah “manusia paling cerdas adalah ia yang selalu mengingat kematian”. Setiap mengingat kematian mu yang indah, menjadi pemecut dan pengingat diri, “hai manusia lalai, katanya mau mati husnul khatimah!?”

Jurnal Ramadhan #5

Jum’at, 10 Juni 2016/ 5 Ramadhan 1437 H

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.