Seribu Surat Untuk Galih

Hari ini hujan deras kembali turun. Membasahi seluruh halaman rumahku tanpa ampun. Sesekali angin berhembus kencang. Menggoyangkan dahan-dahan ringkih itu, sambil menerbangkan helai-helai daun yang jatuh.

Bagi kebanyakan orang hujan adalah penitip rindu. Menghempaskan kenangan dari satu hati ke hati yang lain. Banyak yang membenci hujan karena itu (termasuk aku). Namun, tetap saja ada orang aneh yang mencintai hujan, seperti kamu.

Hal yang tidak kau tahu adalah belakangan ini hujan membawa kesan yang berbeda untukku, dan sepertinya aku mulai menyukainya. Bukan, bukan karena kamu, tetapi karena perahu kertas yang selalu terdampar di halaman rumahku setiap kali hujan deras turun. Entah siapa pengirimnya, yang pasti sudah genap tujuh bulan sejak pertama kali perahu kertas tersebut ku temukan. Perahu kertas tersebut bukanlah perahu kertas biasa. Didalamnya terdapat surat yang entah bagaimana caranya tidak luntur terkena air hujan. Tulisannya rapi, tanpa coretan sedikitpun, dalam balutan huruf sambung dan tinta hitam. Mungkin memang penulisnya sudah menyusun kata-kata sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi kesalahan dalam penulisannya.

Surat tersebut kebanyakan berisi curahan hati. Sempat juga beberapakali menanyakan dan memberi kabar. Kadang-kadang kabar baik, kadang-kadang kabar buruk. Sisanya, hanya berisi sajak dan syair cinta yang 70% membahas tentang rindu. Surat itu dikirim tanpa nama pengirim, dan selalu ditujukkan untuk orang yang sama; Galih. Seingatku, tidak ada tetangga disekitar rumahku yang bernama Galih. Ibu juga mengatakan hal serupa. Ibu bilang mungkin itu nama pena, yang hanya digunakan untuk menulis surat. Bukan nama sebenarnya. Ibu selalu marah ketika memergokiku sedang membaca surat-surat tersebut. Katanya tidak sopan, membaca surat orang lain tanpa meminta izin terlebih dahulu. Jadi, kuputuskan untuk selalu membacanya diam-diam. Seluruh surat yang telah selesai ku baca selalu ku lipat kembali dan ku layarkan di jalanan, berombakan air hujan, menuju Galih si pemilik sejati surat-surat tersebut.

Sudah lusinan surat yang kubaca dan ku layarkan menuju Galih. Jika surat itu kembali datang hari ini, maka surat tersebut akan menjadi surat ke tujuh puluh tiga yang kubaca. Ternyata dugaanku tepat. Perahu kertas tersebut kembali muncul di halaman rumahku. Sekarang, genaplah tujuh puluh tiga buah perahu kertas yang (pernah) terdampar di halaman rumahku.

Bergegas ku ambil payung di belakang pintu dan keluar menuju halaman untuk mengambil perahu kertas tersebut. Aku pun setengah berlari melintasi halaman rumah karena takut basah terkena rembesan air hujan yang tertiup angin. Setelah memastikan bahwa perahu kertas itu berada untuh ditanganku, aku segera berlari menuju kamar. Tak lupa ku kunci rapat pintu kamarku karena takut ibu tiba-tiba masuk dan memergokiku sedang membaca surat-tanpa-nama itu lagi. Sesudah memastikan keadaan aman terkendali, aku mulai membuka lipatan demi lipatan perahu kertas tersebut dan mulai membaca isi suratnya di sofa favoritku. Entah ada apa hari ini, surat tersebut tidak seperti biasanya. Kali ini tulisannya berwarna biru dengan coretan dimana-mana. Bukan hanya itu, kali ini tintanya luntur. Enggan membuang lebih banyak waktu, aku mulai membaca surat itu.

Teruntuk Galih,
Sempurna sudah tujuh puluh tiga surat ini kulayarkan menuju engkau, dan sesuai keinginanmu, surat-surat ini berlayar dalam hujan yang entah mengapa kau sukai setengah mati (melebihi aku). Kupikir tuntas sudah semua janjiku kini. Kau bisa pergi, dengan tenang, mencari kebahagiaanmu ditempat lain. Begitu pula denganku, yang harus puas memandangi kota kecil berisi sejuta memori tentangmu.
Hari ini, langit lebih mendung dari biasanya. Sepertinya hujan akan turun deras sekali. Lihatlah, langit saja begitu bersemangat menurunkan hujannya untuk menyampaikan surat terakhir ini ke tanganmu. Mungkin memang hanya aku di dunia ini yang berharap hari ini tidak pernah ada. Kau, dan hujanmu itu seakan sudah tidak sabar menanti hari ini tiba.
Ku tulis surat terakhir ini dengan warna biru, warna yang mencerminkan engkau, warna yang mencerminkan aku. Biru berarti teduh, luas, dan dalam. Itu untukmu. Khusus untukku, biru berarti sedih, pilu, dan luka. Ku pikir warna ini sangat cocok untuk menghiasi surat terakhir ini, sama seperti hari-hariku yang juga dihiasi warna serupa setelah kau lebih memilih ambisimu di banding aku.
Galih, terlepas dari semua yang telah kau lakukan kepadaku, perasaanku masih tetap sama… sama… dan selalu sama untukmu. Aku merasa menjadi orang paling bodoh saat ini; terus menangisimu sementara kau sudah melangkah maju mencapai ambisimu. Maafkan aku Galih, sungguh maafkan aku. Hanya saja aku tidak dapat berhenti berdoa agar kau, suatu hari nanti, akan merasakan hal yang sama dengan yang ku rasakan.
Apa hebatnya gedung-gedung gemerlap itu? Mereka tidak bisa memberikanmu kenyamanan, Galih. Tidak seperti aku, yang selalu memberikanmu rumah ketika kau lelah dengan seluruh urusanmu. Tidak seperti aku, yang selalu memberikanmu bahu untuk menangis ketika dunia menertawai seorang lelaki dewasa sepertimu menangis. Tidak seperti aku, yang selalu memberikanmu seluruh cinta, kasih, dan hatiku tanpa meminta sedikitpun imbalan dari mu. Tapi, dengan sebegitu yakinnya, kau putuskan untuk pergi menuju gedung-gedung itu dan meninggalkanku seorang diri bersama seluruh pengorbanan yang sudah kuperuntukkan untukmu. Tidakkah bahagia itu sederhana, Galih? Kau bisa hidup bersamaku, memiliki keluarga kecil yang hangat, lalu menua bersama. Kita dapat hidup dengan penuh kesederhanaan di kota kecil ini, kota yang menjadi saksi kebersamaan kita dari dulu.
Tidakkah bahagia itu sederhana?
Tidak perlu kau jawab, keputusanmu yang lebih memilih ambisimu itu sudah menjelaskan semuanya.
Galih, tahukah kau pohon tua di dekat rumahku tumbang 3 hari yang lalu? Belah sudah ia menjadi dua, tersambar petir yang keras sore itu. Kau pasti terheran-heran karena pohon itu sangat kokoh dan sudah berdiri sedari kita kecil. Sama seperti kau, aku juga terheran-heran pada awalnya. Mungkin pohon tersebut sudah terlampau lelah berdiri kokoh dan menjadi sandaran hampir seluruh warga di kota kecil ini. Atau mungkin, hal itu adalah sebuah pertanda bahwa seluruh kenangan kita, yang sebagian besar kita habiskan dibawah pohon tua itu, harus ku relakan pergi bersama bangkai kayu tua tersebut.
Ya Galih, pohon yang begitu kokoh sekalipun dapat rubuh. Terlebih lagi aku, wanita ringkih yang hanya hidup dalam kesederhanaan.
Resmi sudah bentengku runtuh, Galih (atau mungkin dipaksa runtuh) bersamaan dengan robohnya pohon tua kenangan kita. Bersamaan dengan hujan deras yang akan turun hari ini. Bersamaan dengan surat ke tujuh puluh tiga yang akan menggenapi koleksi suratku untukmu. Bagaimanapun, aku hanyalah wanita biasa yang masih bisa merasa sakit ketika seluruh pengorbananku selama ini kau abaikan begitu saja. Aku juga ingin menemukan bahagia ku, Galih. Sama seperti dirimu yang sudah menemukan kebahagiaanmu di sela-sela gedung mewah itu. Pada awalnya kukira bahagiaku utuh ada padamu. Namun ternyata, kini aku sadar, mungkin aku harus mencari bahagiaku ditempat lain. Bukan lagi padamu.
Aku sudah ikhlas Galih, melepasmu mengejar impianmu diantara gedung-gedung mewah itu. Mungkin memang wanita sepertiku terlalu sederhana untuk dapat menemanimu disana. Semoga kau dapat menemukan bahagiamu. Akupun akan terus berusaha menemukan bahagiaku sendiri, yang tentunya tanpa dirimu, disini. Tapi, jika kau bertanya tentang perasaanku kepadamu, jawabannya masih sama, seperti surat pertama yang ku taruh di kolong mejamu saat sekolah dulu… dan mungkin akan tetap sama sampai nanti. Jadi, jangan pernah takut untuk kembali ke kota kecil ini, karena kau selalu mempunyai rumah disini. Aku.
Inilah surat ke tujuh-puluh-tiga-mu, Galih yang jika kau jumlahkan dengan seluruh surat dariku secara utuh, dari surat pertama saat kita sekolah dulu, sudah sempurna berjumlah seribu. Aku rasa seribu surat untukmu sudah lebih dari cukup. Maka, ku jadikan surat ini sebagai surat terakhir yang kutulis untukmu sebelum sama-sama kita mencari bahagia yang baru.
Selamat tinggal,
Semoga kau membaca seluruh suratku, walau aku tak tahu pasti kemana surat ini akan bermuara.
Salam Rindu,
Aku.

Mata ku tanpa sadar menitihkan air mata. Dadaku sesak. Untuk beberapa saat, aku hanya dapat duduk termenung. Mencerna seluruh kata-kata dalam surat itu, yang entah mengapa sangat membekas seolah-olah aku lah si penulisnya.

Hujan masih turun dengan deras di luar sana. Kuputuskan untuk segera melipat kertas tersebut mengikuti pola-pola sebelumnya dan membentuk kembali perahu kertas. Aku bergegas berjalan menuju halaman rumahku, menggunakan payung yang masih setengah basah bekas ku gunakan sebelumnya. Ku letakkan surat tersebut perlahan-lahan dan kubiarkan mengalir mengikuti arus di jalan depan rumahku. Surat itu berlayar mencari Galih. Mengecil dari pandangan, kemudian hilang ditelan jalan yang membelok. Dan kali ini, untuk pertama kalinya, setelah melayarkan perahu kertas itu sebanyak tujuh puluh tiga kali menuju Galih, aku berdoa agar surat itu benar-benar sampai padanya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.