Negeri Seribu Topeng
Perkenalkan, aku seorang aktivis! Harapan bangsa ini, wajah dari rakyat susah yang ingin berjuang! Bukan! Dia hanya seorang penjilat, berteriak sana-sini tentang kemelaratan dan ketidakadilan. Apalagi dia, si pemecah belah yang katanya nasionalis. Antara yang katanya makar, atau si pemikir perut sendiri. Wahai yang setanah air denganku, yang katanya saudaraku. Tolong aku! Sungguh aku bingung harus apa.
-Sebuah renungan sesaat di atas motor vixion, di bawah tangisan langit Bandung yang dingin-
2019 semoga negeri ini damai. Siapapun beritahu saya mana yang namanya teman ataupun lawan. Semuanya begitu membingungkan, 2009 Megawati menggandeng Prabowo. Mereka berteman menjanjikan Indonesia yang lebih baik. Kalah, berganti teman selanjutnya dan menyerang Prabowo dengan isu kemanusiaan di pilpres selanjutnya. Jelasnya bukan mereka, tapi relawan. Padahal menyebut mereka relawan yang berarti pendukung partainya, tapi dijadikan kambing hitam.
Tolong, bertengkar di pusat namun berteman di daerah. PKS dan PDI-P kalah dalam pilkada Jawa Timur. Garis besar gerakan partai berbeda, tapi tidak masalah. Visinya sama-sama membangun Indonesia. Masalah perbedaan dipikirkan nanti, yang penting menang dulu. Lalu bagaimana dengan pusat? Atau Bapak Jusuf Kalla. Saya kira berteman dan seide dengan Pak SBY, namun begitu gajinya mau habis pindah sisi. Maafkan saya yang naif ini, tapi jika memang benar untuk Indonesia kenapa tidak tetap bersama. Jika hal-hal ideal yang diharapkan lalu mengapa tidak hidup dengan ideal? Sekali lagi maafkan saya yang naif ini.
Sumpah saya bingung! Buat apa banyak partai politik dan bahkan dibentuk yang baru lagi. Bertambah dengan gerakan dan ide yang lebih segar. Bukankah begitu tujuan dibentuknya partai politik? Supaya pikiran serupa yang berbeda dengan sebelumnya berhimpun. Berangkat dengan ide Indonesia yang lebih baik. Namun apa daya di panggung utama, sebelum pertunjukan utama semuanya sibuk berkelompok mencari teman, urusan belakang cek kesamaan visi dan pemikiran. Fokus dengan probabilitas kemenangan dengan ide yang dibawa. Visi dan misi disusun dari awal pembentukan partai tapi mengapa kawan dan lawan terus berganti?
Tapi mungkin tidak untuk tahun 2019. Tokoh utama tidak berganti teman ataupun lawan. Pakdhe dengan capaiannya serta kesalahanya di mata rakyat. Pak jendral Teriakan atas nama rakyat serta bekas luka kekalahannya di panggung yang sama dua kali berturut-turut. Abaikan bawahnya! Cebong ataupun bani onta. Topeng mereka berlapis, bukan hal yang perlu dibingungkan. Karena dari awal tidak ada kejelasan diantaranya. Kita bukan rakyat jelata yang jaya karena rajanya, kita juga harus bergerak jika ingin presiden memajukan bangsa. Lepas topeng anda dari kebusukan dan kebingungan. Mari arahkan wajah kita pada Indonesia Jaya karena rakyatnya.
Saya hanya bingung. Tolong jangan disalahkan, tapi benarkan saya. Terima kasih.
Sumber :
http://pks.id/content/visi-dan-misi
https://www.pdiperjuangan.id/article/category/child/27/Partai/Visi-dan-Misi
https://www.liputan6.com/news/read/746232/penyebab-mega-prabowo-2009-kalah-versi-gerindra
https://nasional.kompas.com/read/2014/05/10/1129026/PDI-P.Terpaksa.Gaet.Prabowo.pada.Pilpres.2009