Cinta itu Buta dan Kita Tak Pernah Mampu Melihat
Sering sekali saya mendengar curhatan kawan-kawan dekat saya. Tentang mereka yang ditolak berkali-kali, diselingkuhi, sekadar dijadikan tukang antar jemput, atau lainnya. Ragam curhatan itu saya serap dan dengan saksama berusaha memahami tiap katanya.
Mencintai dan dicintai memang perkara yang tak pernah habis sebab perasaan manusia tak kenal musim. Ia ikut tumbuh di setiap masa tumbuh dari generasi ke generasi. Di dada sebelah kiri manusia, perasaan sakit dan sembuh bergantian datang. Seolah ada rumah di sana, tempat perasaan berwujud.
Mencintai dan dicintai punya bentuk khas di setiap tempatnya bertumbuh. Siapa bisa sangkal, misalnya, ketika anak kecil saling suka, mereka biasanya menyatakannya dengan cara yang “keras”. Mereka mengintimidasi, bahkan memukul. Tetapi itu cuma konteks paling kecil dari pertumbuhan cinta, yang pada kasus anak kecil tadi, dilihat dari usia dan pengalaman hidup mereka.
Ada konteks yang mengikat imajinasi kita tentang cinta. Konteks itu diikat lagi oleh fenomena lokal, nasional, dan global yang tumpah dalam fragmen kebudayaan: dari sosio-psikologis, komunikasi, mitos, ritus, dan lainnya. Cinta kemudian jadi teks yang ditulis dengan tafsir individu atas kebudayaan yang ia jalani.
Ambil contoh, di salah satu suku Amazon, perempuannya akan merasa diperhatikan dan dicintai ketika mereka dipukuli (baca kisahnya di buku “Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir”). Cinta pada konteks ini tumbuh bersama peperangan. Hingga materialnya pun dibentuk dengan “cara” yang keras. Bisa dibayangkan, bagaimana peperangan antar kubu itu selalu mengambil perempuan yang komunenya dikalahkan. Hingga laki-laki yang ikut berperang memperistri mereka lagi. Mungkin di titik ini dapat dipahami mengapa perempuan di suku itu merasa dicintai ketika dipukuli.
Di peradaban kita, cinta dibentuk oleh ragam definisi. Sudah sering kita dengar istilah yang cantik itu putih, yang tampan itu tinggi, atau atletis, dan bla… bla… bla… hingga imajinasi dan tafsir kita pada cinta kadung materialis. Kita menyukai sesuatu sesuai definisi yang dipasok oleh obrolan kawanan kita, televisi, internet, dan lainnya.
Di titik ini, mari kita baca ulang dengan saksama judul dari tulisan ini: “Cinta itu Buta dan Kita Tak Pernah Mampu Melihat”. Cinta pada fitrahnya memang buta. Ia seperti abstraksi dalam hidup yang mesti kita telaah berkali-kali. Ia netral sebelum mencari wujud dan bertemu dengan konteks.
“… Kita Tak Pernah Mampu Melihat” lantaran konteks membalut cinta dengan sangat materialis. Padahal, jika ingin digugat, cinta karena material adalah hal yang rentan. Fisik manusia, misalnya, atau di kasus ekstrem hartanya, akan selalu berubah bentuk dan tidak stabil. Tetapi bukan berarti konteks tidak penting. Justru kontekslah yang mewujudkan cinta. Tetapi, konteks itu mesti dibarengi dengan motif dan kesadaran individu menafsir pilihan-pilihannya.
Pada akhirnya, teman-teman saya yang curhat itu menjadi “orang-orang kalah”. Mereka dikalahkan oleh definisi-definisi yang mengisi dan membentuk konteks secara dominan, lantaran masih banyak juga yang memahami cinta dengan konteks yang lain, yang diisi oleh definisi-definisi alternatif. Mungkin saja teman-teman saya belum menemukan mereka yang punya konteks minor itu.
Tetapi hidup terus berlanjut dan hanya itu yang kita tahu.
