Jalan Raya

Pagi memisahkan kemacetan dan panen raya di desa. Jalan-jalan melapangkan dada penuh batas antara bertemu dan berpisah. Kepala adalah ibu rumah tangga yang lupa tanggal Tua. Aku masih di sini, setia menjadi payung yang kehilangan hujan. Bercumbu dengan cemburu tiap kali kendaraan melintas, serupa media tanpa berita. Kaki-kaki lupa memeluk trotoar jalan.

Kau mengenang. Kehilangan telah menjadi jas hujan yang laris di pasaran. Aku kini tahu satu hal: Manusia lebih suka menyakiti diri sendiri. Mereka menolak mencintai, sebab mencintai adalah merangkak.

Di sana, di tengah-tengah kesepian, ada sepasang kekasih berpisah. Melahirkan tanda tanya yang hanya bisa mereka jawab dengan diam. Berbicara adalah penjara, dan teriakan adalah makam-makam pejuang yang lupa pamitan. Jalan raya. Pernah aku mencoba memahami usianya. Aku mengerti satu hal: cinta telah membuat manusia menjadi serakah.

Jalan raya. Ia panjang dan lebar dalam kata-kata. Tak pernah selesai dengan kita!

Makassar, 17 April 2016

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Fauzan Al Ayyuby’s story.