Zebra cross. Malam ini saya melewati beberapa di antaranya. Sepanjang jalan di kota Makassar, zebra cross yang seharusnya berfungsi sebagai tempat penyebrangan, kini lebih mirip garis-garis yang di gambarkan seniman yang kehilangan akal — menyerah pada kesulitan bentuk, dan nilai yang akan melekat padanya — dan mimpi-mimpinya. Tidak ada kaki lagi yang berani berlama-lama di atasnya. Semua berlari, bahkan terkadang tidak meperdulikan mana zebra cross mana yang bukan. Kecuali orang dari desa. Mereka belum mengerti bagaimana kendaraan di kota Makassar, lalu-lalang seperti dikejar hantu, dan seperti pembangunan yang tiada henti-hentinya. Jika pagi tiba, kendaraan seakan berubah menjadi sekumpulan massa yang datang dari segala arah. Saling kejar-mengejar dan bertambah banyak. Saat itu zebra cross hanya punya sedikit waktu untuk dilewati. Kota yang semakin sesak, pertambahan jumlah penduduk yang entah dari mana asalnya, dan biaya hidup yang semakin mahal. Mungkin itu hanya beberapa di antaranya. Membuat zebra cross hanya punya waktu di malam hari untuk dilewati. Seperti malam ini, ketika saya melewatinya dengan sangat lambat. Mengamati catnya yang mulai pudar dan beberapa orang yang sudah siap menyebranginya.

Hanya anak kecil yang mengerti fungsi zebra cross. Beberapa bulan lalu, saya sempat melihat fungsi zebra cross difungsikan secara utuh di kota Bantaeng. Mereka berbaris dengan rapi, seolah-olah zebra cross telah mendapatkan kepercayaan di dada mereka. Mereka percaya bahwa keselamatan masih dijanjikan oleh garis hitam-putih itu. Mungkin juga karena kendaraan yang masih jarang di sana.

Zebra cross. Ia tidak punya tempat lagi di kota makassar. Kendaraan tidak lagi dapat dipercaya. Ia tidak punya waktu untuk berhenti sejenak membiarkan beberapa orang memanfaatkan zebra cross sebagaimana fungsinya. Hanya ada beberapa jam di malam hari. Itupun, ketika tidak ada lagi aktifitas yang mendesak dari kedua belah pihak: penyebarang dan pengendara. Nasib Zebra cross seperti perjalananku melewati jalan abdesir malam tadi: Antara hidup dan mati.