Lalu Pilu Hitam Kelam

Menanti, saat yang lainnya dihunus bayonet.

“Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”
Menyeru, tidak menggema — sama rata.
Semua mengunyah, sedikitnya menelan.

Polarisasi meruncing dan beradu
Pelbagai premis berlalu
Semarak doktrin propaganda
Stigmatisasi makin mengental betul
Memaksa pembersihan “siapa mereka yang berhaluan kiri”

Kelabu, di setengah abad yang lalu
Tumbuh Orde baru
di tengah tragedi berdarah
yang tak sekalipun disinggung di sekolah.
Ditutupi, disembunyikan, dimana?

Para kroni rezim,
menunggangi dan menari;
di atas kuburan massal — korban genosida tanpa peradilan
dalam sebuah tanya penghilangan paksa — tak tentu rimbanya
memecah sunyi teriakan di kamp — tanpa dakwaan.

Keterlibatan, prasangka dan tuduhan “salah arah”
oleh saudara sebangsa yang sensitif,
kala bersuara dan berbeda dianggap subversif.

Melangkahi proses yang sah
Cuci tangan di kemudian hari
Menciderai Pancasila dan mengotori Agama.

Kebenaran kian samar menabuh debar
Menghela setiap toleransi dan kemanusiaan
Menebar ketakutan meneror para pencari
Semarak titel heroik bela pertiwi dan impunitas — bagi mereka; barisan pelanggar dan pencaci.

Berkutat dengan ideologi semata yang memuakan
lantas mengangkangi rasa kemanusiaan.

Bungkam,
Sembunyi,
Membutakan diri,
Mematikan kepekaan, itu pilihan
Tuk menjadi takut, atau sebaliknya.

Kami bukan produk propaganda.

Bandung Selatan,
2 Oktober 2016