Singkap Egoritme

Berangkat dari revolusi tempat tidur. Bergerak samar-samar, mengaburkan diri bersama hitam ego — sebagai lakon — di tengah moral yang longgar dan minornya kepekaan. Sebagai penolakan sadar kepada sekitar, bahkan untuk merenung dan memaknai penuh arti : Adalah diri sendiri.

Penghayatan lakonnya membawa ke titik moralis serendah-rendahnya. Memejam kehidupan dalam ketiadaan: dunia hampa tanpa rasa. Seolah menentang kreator semesta, menghapus langit yang membiru dan indahnya senja kemerah-merahan. Karena ditelan spirit bayangan, yang gelapnya menjuru dan membabi buta.

Di persinggasanaannya, jumawa membusung dada. Menyekati dengan menertawai diri sendiri saat sudut sekat lainnya menjadi ruang sedu sedan akan cerita fiktif yang dikejar. Hakikat objek sama. Perihal bodoh.

Kehampaannya menuruni permukaaan dengan membawa pesan. Menggonggongkan lapisan berdusta berikut ranah pribadi yang tidak bertitik di negeri tanpa telinga. Menjadi momen klimaks bagi penonton, sebagai adegan menelanjangi kepribadian diri sendiri yang sekejap luluh lantah dalam sekata-sekalimat. Bahkan wajah buruk yang hanya disimpan untuk dirinya sekalipun.

Tuan-Puan pun bertepuk tangan atas pertunjukan ini. Karena telah pupusnya harga diri, yang digeret dan dilucuti diri sendiri.

Bandung Selatan,
November 2016

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.