Perjalanan Menemukan Cahaya
Saya mulai bertanya-tanya kembali alasan kenapa saya belajar meditasi. Saya ingin membuang semua kebencian saya akan segala sesuatu, setiap hari dan setiap saat. Kadang hal-hal kecil yang saya lihat atau rasakan begitu mempengaruhi emosi saya.
Saya benci bos di kantor yang suka tidak masuk akal, saya benci nonton TV karena banyak acara-acara yang tidak sejalan dengan pikiran saya. Saya benci Jakarta, kota yang menjebak saya dan membuang banyak waktu berharga saya. Saya benci teman-teman saya, saya merasa tidak butuh mereka. Bahkan kadang saya benci keluarga saya.
Namun saat pikiran saya yang lainnya datang, saya memaksa untuk berpikir positif. Pekerjaan inilah yang menjadi cita-cita saya sejak kecil, kreatif, dan tidak monoton. Jakarta yang begitu memuakkan ini juga masih bisa saya nikmati sesimple lari pagi atau berenang di komplek rumah saat weekend. Saya sering merasa bosan, tapi saya masih bisa merencanakan traveling ke beberapa negara setiap tahun, dalam rangka bagian mengejar mimpi untuk keliling dunia. Saya punya 2 kucing yang lucu, yang membuat saya memiliki project untuk membuat mereka dikenal banyak orang di sosial media dengan video-video lucunya. Saya masih punya kesempatnya mengejar apa yang saya suka. Dan dibalik semua keinginan-keinginan impulsif dan kegagalan saya ini itu, ada keluarga tempat saya pulang yang menerima apapun bentuknya saya. Bahkan saya punya suami yang berpikiran terbuka dan selalu memberi ruang dialog antara saya dan dia.
Namun apakah saya bahagia? Dengan semua urusan berpikir positif itu, yang namanya tidak bahagia ya tidak bahagia. Saya mulai mengutuki diri saya sendiri. Kemudian saya terlahir menjadi sosok pembenci yang makin kuat. Saya berangkat bekerja dengan tidak bersemangat, dengan tidak mengerti arti tujuan hidup saya. Saya mengerjakan hal-hal yang saya suka, namun kebahagiaan itu ternyata tidak akan berlangsung lama. Banyak pikiran hilir mudik dan beputar-putar di kepala saya. Yang saya inginkan pertama kali adalah melarikan diri, entah mencari penyembuh, mencari ketenangan hati, atau sekedar mencoba hal baru yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Meditasi.
Kita bisa menjadi manusia tumpul yang tersesat dan tidak peka terhadap konflik dalam diri kita sendiri. Saya hidup dalam sebuah ketidaksadaran. Perlahan-lahan saya mulai menyadari bahwa materi berada untuk sesaat saja. Jiwalah yang akan bersifat abadi. Selama ini saya melakukan apa yang saya suka lalu menggantungkan kebahagiaan kepadanya. Sesungguhnya kebahagiaan itu memang tidak akan tercipta dari luar.
Pertanyaan yang sangat mengena untuk masalah saya adalah: “Bagaimana kita bisa mendapatkan kebahagiaan yang abadi dari benda-benda yang tidak abadi?”
Selama ini saya memaksa pikiran saya untuk berpikir positif. Semakin saya sibuk melabeli pikiran-pikiran saya sendiri dengan positif negatif, saya semakin kacau. Padahal pikiran adalah pikiran, perasaan adalah perasaan. Tanpa perlawanan, tak perlu melawan tak perlu juga melayaninya.
Ini cuma cerita tentang cahaya lampu dan saya yang merasa sedikit tercerahkan sambil terus berlajar membaca “Kitap Jiwa” saya. Hal-hal yang membuat saya bahagia atau sedih itu harus saya lampaui dari pikiran saya dan tidak ada keterlibatan emosional di dalamnya. Saya masih belajar agar mendapatkan terang yang utuh dari keseluruhan lampu itu.
