Menunda dan Memulai

Berapa lama waktu yang bisa “dibuang” seseorang ketika menunda? Satu hari? Satu minggu? Satu bulan? Satu tahun?

Semua jawaban itu benar, bahkan kita bisa “membuang” waktu seumur hidup dengan menunda.

Kita, Saya, selalu mempunyai alasan yang bagus dibalik sebuah penundaan. Sebuah alasan menarik. Bahkan alasan yang bisa membuat orang lain bahwa penundaan ini dalah keputusan terbaik.

Namun sebenarnya semua itu hanyalah sebuah kebohongan belaka. Sebuah kebohongan yang kita lakukan kepada sendiri untuk membenarkan penundaan tersebut.

Dibalik segala penundaan itu terdapat berbagai macam alasan. Alasan yang nyata tanpa kosmetik untuk menampilkannya dengan cantik.

Kita, Saya, Kamu mengetahuinya, namun enggan untuk mengakuinya.

Kita, Saya, Kamu mengetahuinya, namun enggan untuk mengakuinya. Bukan karena kita nyaman dalam penundaan, namun pikiran kita terlampau sibuk memikirkan hal lain dan alasan menunda daripada mengerjakannya.

Yang perlu disadari dalam sebuah penundaan adalah kerugian utamanya, yaitu kehilangan waktu. Waktu kita sendiri. Waktu hidup kita. Waktu yang tidak bisa kita dapatkan kembali. Sedetikpun.

Ada yang perlu “ditampar” keras untuk menyadari segala kebodohan dalam penundaan ini, ada pula yang perlu dicambuk. Entah “ditampar” oleh perkataan orang lain ataupun “dicambuk” oleh kehidupan itu sendiri.

Sebuah cambuk dan tamparan sayang yang mungkin bisa membangunkan kita dari segala mimpi penundaan ini. Mimpi yang melumpuhkan ini.

Kamu selalu mempunyai pilihan, untuk mulai mengerjakannya atau menundanya kembali. Keduanya bukan jadi masalah, setidaknya untuk orang lain.

Mulai memaksakan diri untuk mengerjakan sesuatu dengan batin yang merasa terpaksa juga akan menyiksa diri sendiri.

Kadang kita harus mengenal diri sendiri, merayu diri sendiri agar diri kita nyaman untuk memulai. Karena mungkin apa yang kita mulai akan terus kita kerjakan seumur hidup.

Semuanya bisa dimulai dari kesadaran. Kesadaran bahwa penundaan ini sebenarnya tidak perlu ada. Kesadaran bahwa keinginan itu masih ada. Kesadaran bahwa tujuan itu masih di sana.

Yang perlu kita lakukan sekarang adalah memulai. Dengan segera, ataupun perlahan.