Febrianti Pratiwi
Jul 22, 2017 · 3 min read

Kepada Siapa pun yang Membaca Ini, Hiduplah dengan Baik

Marni kecil pernah menangis sambil memegang pisau dapur ibunya. Semalam ia menonton sinetron kesukaan Ibu, dan tokoh utamanya mencoba menghilangkan diri bersama masalah-masalahnya yang tak pernah tandas lewat bantuan benda mengilap itu. Tapi kemudian ia ingat pernah bersinggungan dengan sisi tajam benda tersebut, dan rasanya begitu perih. Marni kecil lalu melanjutkan tangis, setelah mengembalikan pisau Ibu ke tempatnya.

Belasan tahun kemudian, Marni tumbuh, menjadi perempuan yang—tampak—baik-baik saja. Ia menjalani hari-hari, bertukar cerita, seperti teman-temannya yang hidup lebih baik dari apa yang sudah ia lewati di masa lalu.

Tapi seperti juga Marni kecil, Marni belasan tahun kemudian masih merasa tidak akan ada orang yang mengerti apa saja yang pernah terjadi padanya. Cerita Marni hanya berkisar soal-soal remeh atau masalah lelaki yang ia suka. Jika ada yang menyinggung masalah keluarga, ia akan melengser, diam-diam menyibukkan diri agar tak ada yang menagih gilirannya bercerita. Karena bagi Marni, tidak akan ada yang mengerti.

Marni tidak tumbuh menjadi gadis yang membenci satu atau dua orang, apalagi Tuhan yang mengatur jalan hidupnya. Tidak juga teman-temannya yang punya cerita hidup yang lebih baik, atau malah sempurna. Marni menerima semuanya seorang diri, karena ia yakin bisa menyimpannya sendiri saja, seperti si Marni kecil.

Beberapa tahun selanjutnya, Marni yang sudah matang lalu merasa kehilangan arah. Tak ada satupun hal yang berjalan sesuai rencana, sesuai keinginannya, sekeras apa pun ia berusaha dan berdoa. Ia menunggu sampai Tuhan memberi apa yang ia butuh, menyampingkan inginnya, tapi tak jua tiba. Tuhan menutup telinga dan mata-Nya rapat-rapat dari Marni yang sudah matang.

Ibu yang masih memiliki pisau dapur dari masa kecil Marni itu sama sulitnya dengan Tuhan.

Teman-teman Marni juga punya masalah sendiri-sendiri, dan Marni tak ingin menambah masalah mereka. Marni tiba-tiba merasa jauh dari dunia mereka, yang dulu dengan bebasnya bercerita tentang apa saja.

Kekasih Marni sibuk dengan urusan dan masalahnya pula. Hanya dukungan singkat yang diterima Marni dari keluh-kesahnya yang panjang. Tapi kekasihnya tak pernah ada.

Marni merasa sendirian, seperti Marni kecil dulu.

Lalu dunia mendadak bising. Salah satu artis kenamaan yang sudah mendunia meninggalkan tempat namanya tak berhenti dielukan, bersama tali yang tergantung di salah satu bagian rumahnya, benda terakhir yang mengantar kepergiannya menyusul sahabat yang pergi dengan cara yang sama.

Sebelumnya, seorang suami meninggalkan istri dan anak-anaknya pun seperti artis kenamaan tadi.

Jauh sebelum itu, seorang anak SMP pun melakukan hal serupa.

Marni ikut menikmati pemberitaan tersebut, melihat video detik-detik orang gantung diri, dan memutuskan ia tidak akan mencoba hal itu.

Marni ingin pergi tanpa merasakan sakit. Pisau dapur dan tali bukan pilihan tepat.

Menjatuhkan diri dari atap gedung, ia takut hanya akan mengalami gegar otak dan kelumpuhan. Begitu pula dengan menabrakkan diri ke truk.

Akhirnya, Marni memilih hidup.

Sampai Tuhan mendengar doa-doa dan menghargai usaha-usahanya.

Sampai Ibu mengerti segala yang harus ia mengerti sejak belasan tahun lalu.

Sampai teman-temannya berhenti mencibir ceritanya.

Sampai sahabatnya berhenti balik bercerita sebelum ia selesai menumpahkan masalah-masalahnya.

Sampai kekasihnya memerhatikan ia pada akhirnya.

Marni tak ingin pergi meninggalkan sesal pada diri orang-orang yang pernah bersinggungan di kehidupannya.

Marni tak akan pergi meninggalkan sesal pada diri mereka yang mencintai dan ia cintai.

Marni ingin di hari kepergiannya, orang-orang menangis sedikit saja, dan lebih banyak leganya.

Kepada siapa pun yang membaca ini, hiduplah dengan baik.

Mungkin kau Marni yang cerita-ceritanya ia pendam dalam hati dan tak pernah kau tahu, atau orang-orang terdekat Marni yang juga punya masalah sendiri-sendiri,

hiduplah dengan baik.

Kata Marni,

jika jalan hidupmu kandas, kau bisa berhenti sejenak. Menarik napas, boleh juga mundur satu-dua langkah, tapi jangan menghilang.

Karena bahkan saat kau merasa sendirian, masih ada yang mencintaimu. Jadi kenapa tidak kaucintai diri sendiri dengan membiarkannya terus hidup?

    Febrianti Pratiwi

    Written by

    aku ingin kita bertemu di dua halaman yang bersisian, lalu bersatu setiap mereka selesai membaca.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade