Minum Obat
“Sakit apa? Jangan lupa minum obat.”
Selalu seperti itu yang akan kaudengar setiap kau harus memberitakan sakit kau (karena itu kau memilih memilikinya sendiri saja jika perlu.)
Tidak semua orang memerlukan obat atau penawar apa pun itu untuk sembuh.
Kadang ada perasaan bahwa kau sebenarnya baik-baik saja, dan akan sembuh pada waktunya.
Jadi untuk apa obat yang sebesar ujung telunjuk (yang kadang mengganjal di tenggorokan hingga menyebar pahit saat kaupaksa turun dengan bantuan air)?
Tapi masa itu juga ada; masa di mana kau wajib menelannya tiga kali sehari, lima jenis yang berbeda bentuk dan warna, karena Ibu atau Ayah sudah telanjur menemani kau meminta surat keterangan sakit untuk sekolah, kampus, atau tempat kau bekerja, yang disusul dengan resep dokter.
Padahal yang kau butuh hanya izin dari guru, dosen, dan atasan, untuk istirahat yang lebih lama dari segala rutinitas yang mencekik.
Lihat, menjadi dewasa adalah perihal meminta izin untuk tubuh kau yang menuntut haknya mengambil jeda dari seluruh yang membuatnya lelah; interaksi, tumpukan tugas, waktu makan yang dibatasi, peraturan tak masuk akal, suara-suara yang tumpang-tindih di sekitar, dan perdebatan yang kau yakin bisa kaumenangkan tapi kau sadar dirimu tidak dibayar untuk itu.
“Sudah pukul lima. Minum obatmu.”
Ibu atau Ayah selalu mengingatkan.
“Istirahatlah. Kalau perlu apa-apa bilang saja. Kalau tak sanggup bicara, ketiklah di ponselmu. Kau cuma demam, kan? Nanti kubuatkan teh hangat. Tetap dalam selimutmu. Kau diberi obat apa dari dokter? Oh, obat generik yang selalu ada di kotak P3K kita? Ada perubahan bagus yang kaurasa? Tidak? Kau mau ke dokter spesialis saja? Tidak? Kau mau di tempat tidurmu saja? Baiklah. Ingat, kalau perlu apa-apa bilang saja,” adalah yang sesungguhnya ingin kaudengar.
Tapi lalu kau sadar kau tak sanggup mendengar kalimat sepanjang itu tanpa berdecak atau membelakangi lawan bicaramu. Kau tak memiliki energi untuk segala sesuatu yang panjang.
“Kenapa kau tak suka minum obat? Tak suka aromanya? Tak tahan dengan pahitnya? Atau ada masalah lain?”
Tidak semua orang memerlukan obat atau penawar apa pun itu untuk sembuh.
Kadang ada perasaan bahwa kau sebenarnya baik-baik saja, dan akan sembuh pada waktunya.
Tapi banyak yang tak percaya dan menganggapmu mengada saja.
Padahal yang seharusnya mereka tak percaya dan yang sesungguhnya kaukarang adalah siapa pun itu yang menghidupkan diri dalam tanda petik tulisan ini.
Makassar, 7 November 2019, pukul 01.41 dinihari.
