Saya Sudah Mencintaimu dengan Cukup, untuk Akhirnya Melepasmu Pergi

Saya sudah kehabisan alasan mengapa kita berpisah lagi, setelah sekian kali, selama sekian tahun belakangan ini.

Karena dengan alasan-alasan yang saya punya, saya bahkan masih memilih untuk tidak membuat orang-orang memandangmu dengan buruk. Lalu mereka menyebut saya korban, dan kau dijauhi. Saya bahkan masih tidak pernah bisa setega itu.

Beberapa tahun selama kita bersama, saya selalu bisa memaafkan. Saya selalu bisa menerima alasan-alasan, dan berpikir bahwa segala masalah yang kaubuat ada saya sebagai sumbernya. Saya selalu saja berpikir positif untuk hal-hal ganjil pada dirimu, bahwa semuanya baik-baik saja, menepis kemungkinan-kemungkinan dari intuisi saya sebagai perempuan.

Kau, membuat saya percaya.

Setelah disakiti berulang-ulang, sebanyak saya memaafkan, saya masih saja percaya. Berusaha bertahan. Kau tahu cara untuk tegak di tengah gulungan ombak? Saya merasa sesulit itu, tapi sampai saat ini, saya tetap tidak goyah. Karena kau selalu berhasil membuat saya percaya.

Saya mencintaimu, adalah alasan mengapa saya bertahan. Mungkin pula alasan pada akhirnya, saya melepaskan.

Saya mencintaimu, yang selalu bersabar menghadapi saya, dengan sifat dan sikap buruk yang hanya bisa saya tumpahkan pada orang-orang yang saya cinta.

Saya mencintaimu, yang selalu bisa saya andalkan di setiap situasi.

Saya mencintaimu, orang pertama yang setia mendengarkan rahasia-rahasia yang saya sembunyikan dari siapapun.

Saya mencintaimu, yang bisa membuat saya menangis dengan mudahnya, baik lewat tatap mata atau sambungan telepon.

Saya mencintaimu, yang selalu penuh kejutan.

Saya mencintaimu, yang selalu terlihat tulus dan jujur.

Saya mencintaimu, yang juga memercayakan rahasia-rahasia pada saya.

Saya mencintaimu, yang selalu mendukung saya dalam hal apapun.

Saya mencintaimu, yang setia menjadi telinga untuk mendengar cerita saya yang tak ada habisnya.

Saya mencintaimu, sumber senyum lebar dan tawa saya.

Saya mencintaimu, yang bisa membuat saya begitu bodohnya.

Lihat, bahkan setelah kaulukai begitu dalam, saya masih menulis begitu banyak kata cinta untukmu, dan masih banyak lagi jika saya ingin.

Saya memiliki begitu banyak alasan mengapa saya bisa terus memaafkan, bertahan, disakiti, memaafkan, bertahan, disakiti, berulang-ulang, asal itu adalah kamu.

Jika dulu saya selalu memintamu menetap setelah kau menyakiti, sekarang bahkan kau hilang sendiri. Kau hilang bersama alasan-alasan yang tak lagi bisa kauurai, setelah saya tahu lebih banyak dari yang kau kira. Kau hilang bersama gambaran-gambaran masa depan, sementara kau ternyata tak semanis rencana-rencana indah.

Saya sudah terlalu sering memaafkan, sekian tahun ini.

Saya tidak ingin kamu berbohong lagi.

Jadi, sebaiknya sekarang kita benar-benar berhenti. Dan kamu menghilang bersama seluruh maaf juga janji-janji untuk tak mengulang salah lagi.

Saya sudah mencintaimu dengan cukup, untuk akhirnya melepasmu pergi.

Tenang saja. Saya baik-baik saja.

Setidaknya, tanpa kau dan apa saja di dirimu, saya mencoba baik-baik saja, seperti di tahun-tahun sebelum pertemuan pertama kita.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.