Tidak Ada yang Pernah Siap untuk Sebuah Kehilangan

Kehilangan barang kesayangan. Ditinggalkan pertama kali, saat sedang cinta-cintanya. Ditinggalkan tanpa kejelasan. Ditinggalkan untuk selamanya, kembali pada Pencipta.

Begitu banyak kehilangan yang begitu tiba-tiba. Yang walau sudah berulang kita rasa, tetap saja tidak ada kata siap untuk menyambutnya, untuk melaluinya.

Di kaki Pulau Sulawesi, seorang perempuan baru saja meninggalkan lelaki yang bersamanya enam tahun belakangan, dalam sebuah hubungan yang sudah kandas dan terjalin kembali berulang-ulang. Mereka sudah saling tahu terlalu banyak, sebanyak rencana masa depan yang sudah tersusun rapi.

Di kaki Pulau Sulawesi, perempuan lain baru saja kehilangan wanita yang kurang dari sebulan lagi genap dua puluh empat tahun ia sebut Mama. Kepergian itu begitu tiba-tiba, seperti kehilangan lainnya. Tuhan begitu menyayangi ibunya, hingga perempuan itu, saudara, dan bapaknya harus mengikhlaskannya kembali pada Yang Maha Memiliki.

Dua perempuan ini sama-sama kehilangan sesuatu, yang sama pentingnya, yang sama menyakitkannya.

Tidak ada yang ‘lebih baik’ untuk kehilangan. Lebih baik kehilangan Bapak daripada Mama. Lebih baik kehilangan barang kesayangan sejak lahir daripada calon suami. Lebih baik kehilangan seseorang yang belum memberi kejelasan daripada ia pergi saat kita sedang cinta-cintanya.

Kehilangan, bagaimana pun prosesnya, tidak ada yang ‘lebih baik’. Tidak ada yang siap melaluinya.

Yang bisa kita lakukan untuk menghadapinya adalah menerima. Menerima kehilangan sebagai bagian dari kepunyaan. Bahwa pada dasarnya, kita tak memiliki apa-apa. Bahwa segalanya sudah Ada Yang Mengatur. Bahwa menyusul kehilangan, akan ada yang menggantikan. Entah itu orang baru, atau perasaan yang lebih lega untuk menerima kehilangan itu sendiri, menerima bahwa yang pergi memang sudah seharusnya begitu.

Jadi perempuan yang kehilangan seorang lelaki itu memilih menghibur perempuan yang kehilangan Mama. Ia tidak merasa lebih baik karena ibunya sendiri baik-baik saja saat ini, tapi ia merasa dengan menghibur perempuan lain, ia ikut menghibur dirinya sendiri. Bahwa semua akan baik-baik saja jika kita bersabar dan berdoa. Bahwa yang pergi menghadap Sang Pemilik pasti mendapatkan tempat terindah. Bahwa dirinya pasti mendapat ganti seseorang yang jauh lebih baik jika ia pun menerima kehilangannya.

Perempuan yang kehilangan Mama menghibur perempuan yang kehilangan seorang lelaki dengan lebih realistis. Bahwa akan ada ganti yang lebih baik, untuk perempuan baik pula. Bahwa bukan ia yang merasa kehilangan, tapi si lelaki itu. Bahwa ia tidak kehilangan apa-apa kecuali lelaki yang tak pantas diratapi perginya.

Tidak ada yang pernah siap untuk sebuah kehilangan.
Yang bisa kita lakukan untuk menghadapinya adalah menerima kehilangan itu sendiri.

*picture by @mutiaafam on IG