Kewajaran-kewajaran yang tidak wajar tapi sudah wajar.

(Flying by Andreas Englund)

Di bulan yang penuh hikmah ini aku nggak mau ngomongin orang, aku mau ngomongin benda mati saja. Benda mati kok diajak ngomong? Nggak apa-apa, biar rasanya plong, biar nggak dibantah-bantah, biar nggak dituduh-tuduh plagiat. Belum nanti kalau salah-salah bisa dipersekusi.

Jadi gini, dari dulu aku selalu gelisah tiap kali melihat dia. Makin sering berpapasan, makin sering aku kepikiran. Memang nggak tiap hari, tapi aku sering ketemu. Mungkin ini perasaanku saja yang berlebihan, tapi debaran jantungku ini selalu mendorongku untuk bertanya, apa sebenarnya fungsi dari papan-papan yang bertuliskan: BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA!

Aku sering bingung, ini bentuk sindiran atau sebuah olok-olok? Eh, nggak ada bedanya ya? maksudku, ini sebuah sindiran atau memang sebuah bentuk keseriusan? Mana mungkin ada orang yang buang sampah tidak pada tempatnya? Kebingunganku makin kebingungan dengan papan-papan informasi yang membingungkan lainnya, misal:

- DILARANG MENYEROBOT ANTRIAN

- DILARANG MELINTAS DI JALUR TRANSJAKARTA

- DILARANG BUANG SAMPAH DI SUNGAI

- UTAMAKAN LANSIA, IBU HAMIL DAN DIFABEL

- DILARANG PARKIR DI DEPAN PINTU

- DILARANG PIPIS SEMBARANGAN

- KUTUNGGU JANDAMU

Maaf, kalau yang terakhir itu bikin aku nunggu bukan bikin aku mikir.

Ada banyak hal di Indonesia ini yang sifatnya nggak perlu. Hal-hal yang seharusnya sudah bersifat common sense. Mungkin aku berharap terlalu berlebihn. Ini langkah mundur atau mundur banget? Pola pikir macam apa sebenarnya ini? Apa mungkin ini alasan negara kita ini susah untuk maju, paling tidak berprogres secara signifikan. Astagfirullah, malah jadi ngomongin orang se-Indonesia.

Beberapa waktu lalu (lama banget mungkin) beredar video tentang seorang anak kecil yang setiap pulang sekolah dia ‘bekerja’ sebagai ‘polisi trotoar’. Dengan tegas dia menyuruh semua pengendara motor yang naik ke trotoar untuk putar balik atau turun karena itu menyalahi aturan. Bahkan dia tak segan ambil ancang-ancang dan lari untuk menendang ban motor pengendara-pengendara begajulan itu. Juga ibu-ibu yang dengan kekuatan verbal kosa kata maksimalnya (baca: bawel) meluluhlantakkan niat seorang pemuda untuk melajukan motornya di atas trotoar. Rasa-rasanya ada yang janggal ketika kita mengkategorikan hal-hal tersebut sebagai sebuah bentuk heroisme. Mereka hanya melakukan hal yang sudah sewajarnya, sudah seharusnya. Tidak ada yang istimewa.

Nilai rata-rata dalam kelas memang bisa kita jadikan sebagai acuan, tapi bukan patokan dalam pencapaian nilai maksimal. Kita seakan menganggap normal pejabat yang korupsi, dan mengistimewakan yang tidak korupsi, alih-alih kita kritisi terobosan program kerja dan manuver-manuver politiknya. Padahal sudah seharusnya seorang pejabat itu tidak korupsi. Kita terjebak satu langkah di belakang. Pula tidak perlu kita membuat papan bertuliskan; DILARANG MELINTAS DI JALUR TRANSJAKARTA, bahkan sampai dibuat palang khusus di setiap jalur transjakarta guna menghalau para pengendara yang rebel tidak pada tempatnya. Kita sudah menganggap wajar, saat berhenti di lampu merah, banyak kendaraan yang bebas ‘berserakan’ di area zebra cross, mengkorupsi hak orang-orang yang hendak menyebrang jalan. Dan ketika mulai muncul sebuah rasa bangga saat kita mampu membuang sampah pada tempatnya, saat itu jugalah bisa dipastikan ada yang salah dengan cara berpikir di lingkungan sekitar kita.

Secara tidak langsung kita dilatih untuk mengkerdilkan standar apresiasi kita sendiri akan kemajuan. Tanpa sadar kita dikondisikan untuk membiasakan kesalahan, mengamini kemunduran. Dan parahnya berbuat wajar sesuai aturan mulai kita rayakan sebagai sebuah prestasi. Sedih, memang. Pada akhirnya masyarakat kita mulai bias membedakan mana yang memenuhi aturan dan mana yang merupakan sebuah pencapaian. Kita semakin rancu dengan arti dari sebuah kemajuan. Jika yang kita anggap prestasi adalah melakukan hal-hal yang sudah sewajarnya, maka inovasi adalah sebuah kemewahan.

Tapi Pakdheku, yang dulunya jualan mebel itu, dalam pidato kenegaraannya kemaren dia menyebut-nyebut Mas Elon Musk. Paling tidak orang jadi mulai googling tentang siapa Mas Elon itu, dan yang paling penting adalah tentang pencapaian-pencapaiannya. Bukan aku ingin mengkerucutkan kemajuan hanya terbatas di bidang teknologi, tapi menyelidiki misteri benda-benda langit masih jauh lebih berfaedah daripada menyelidiki kemungkinan sebuah bom bunuh diri adalah suatu rekayasa atau akal-akalan belaka. Dan menuduh-nuduh orang kafir, padahal kafir itu ada di dalam hatinya, adalah efek dari terlalu seringnya kita mampu mendengar suara hati seseorang di sinetron-sinetron tak layak tayang di televisi.

Pernah dalam suatu diskusi antar cendikiawan Asia di Jepang, Prof. Koentjaraningrat, antropolog kenamaan Indonesia, mendapat sebuah kritikan dari seorang Prof. dari Jepang. Dalam konteks moral, dia bilang orang Indonesia itu tidak loyal. Wah, apa pula maksudnya itu? Seketika Prof. Koentjaraningrat naik pitam. Dia merangsek ke depan sambil teriak-teriak kemudian menggebrak-gebrak meja, dan segera saja seisi ruangan riuh oleh ulahnya. Tentu saja, adegan itu hanya imajinasiku belaka. Mana mungkin orang-orang terpelajar berkelakuan macam rapat anggota-anggota parlemen.

Dengan santun dan penasaran Prof. Koentjaraningrat meminta penjelasan lebih lanjut tentang kritikan tersebut. Loyalitas yang dimaksudkan adalah loyalitas ke sesama manusia dalam kehidupan bernegara. Loyal terhadap bentuk persatuan yang sudah disepakati bersama. Melanggar aturan itu berati kita melanggar kesepakatan dengan sesama warga negara.

Misal kita naik motor mau puter balik. Karena tempat puter balik itu jaraknya 200 tahun cahaya, kita pilih langsung aja puter balik, dan mripit pelan-pelan melawan arus dengan memasang muka sopan dan senyum-senyum hangat tai kebo. Aksi hagat-hangat tai kebo kita ini adalah sebuah bentuk pelanggaran terhadap kesepakatan sesama pengguna jalan raya seluruh Indonesia. Mencederai kebhinekaan yang manunggal ika. Ya tukang bakso, ya tukang becak, tukang parkir, artis sinetron, penyanyi dangdut kecamatan, ketua RT, ketua kelas, ketua paguyuban pecinta reptil beserta wakil, fotografer nikahan, joki ujian TOEFL, Chelsea Islan, Raisa, Budhe Edi penjual Guded, Habib Rizieq, Ahok, Es Campur, tahu isi, gule daging, sate kambing…duh jadi laper, pokoknya semua yang tinggal di Indonesia ini. Bahkan bisa dikatakan kita korupsi. Wong kita mengambil hak orang lain. Teriak anti korupsi memang nggak semudah kenyataannya. Tapi loyal kepada sesama warga negara juga bisa diartikan kita loyal kepada Raisa. Camkan itu.

Persepsi di benak kita saat berhadapan dengan hukum atau aturan adalah berhadap-hadapan langsung dengan negara dan aparaturnya. Tidak salah. Tapi, jika kata negara terlalu ‘dingin’ dan berjarak, bolehlah mulai kita biasakan pola pikir bahwa mematuhi aturan adalah sebuah bentuk penghormatan dan kasih sayang ke orang –orang di sekitar kita. Toh itu juga inti dari di setiap ajaran agama dan kepercayaan manapun yang kita anut dalam kehidupan sehari-hari. Loyalitas itu setia, setia itu menjaga. Dan ketika masing-masing kita sudah merasa aman dan nyaman dalam hidupnya, niscaya ide-ide inovasi akan muncul dalam percakapan ringan di atas trotoar atau sembari menyebrang di zebra cross jalanan.

Jadi begitulah kira-kira ke’geli’sahanku. Isu ini memang tidak kekinian, tapi aku yakin isu ini akan terus relevan sampai yang kekinian itu tidak kekinian lagi. Aku harap kalau kamu lain kali melanggar lampu merah, atau berencana buang sampah sembarangan, kamu pandang orang-orang di sekelilingmu, dan coba tanya lagi ke dirimu sendiri dalam adegan slow motion; apa iya kamu rela menyakiti hati mereka? Dan, kapan kita bisa maju?

Adiputra, 2017.

#indonesia #jakarta #sosial

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Febrian Adi Putra’s story.