Ada sawit di antara Kopi, Ben, dan Jody
Review film Filkop II dari sudut pandang wartawan yang gak pernah liputan gak serius, whatever :/

SAAT pertama kali ‘berjumpa’ dengan Ben di kumpulan cerita pendek oleh Dewi “Dee” Lestari, saya sudah membayangkan bahwa dia orang yang sangat idealis dan berambut gondrong. Puji Tuhan, Sutradara Filosofi Kopi Angga Dwimas Sasongko tidak memilih Reza Rahardian atau Nicholas Saputra untuk menjadi Ben, tapi Chico Jericho. Anti mainstream! Chico memang pas banget memerankan Ben.
Kenyamanan atas pemilihan pemeran itu berlanjut saat saya menyimak dialog antara Ben dan Jody, hampir mirip dengan di cerpen. Bukannya membandingkan, tapi dialog itu memang susah digantikan, karena itu terlampau filosofis.
Ingat ketika Ben menjelaskan tentang kopi tubruk kesukaan saya:
Lugu, sederhana, tapi sangar memikat kalau kita mengenalnya lebih dalam. Kopi tubruk tidak peduli penampilan, kasar, membuatnya pun sangat cepat. Seolah-olah tidak membutuhkan skill khusus. Tapi, tunggu sampai Anda mencium aromanya. Kedahsyatan kopi tubruk terletak pada temperatur, tekanan, dan urutan langkah pembuatan yang tepat. Semua itu akan sia-sia kalau Anda kehilangan tujuan sebenarnya: aroma.
Sebagai penikmat kopi tubruk, saya akan mencak-mencak jika dialog itu diganti dengan kalimat yang biasa-biasa saja.
Namun, tanpa bermaksud membandingkan, pembaca setia novel Dee pasti menyadari ada bumbu-bumbu tambahan dalam film ini, yang bagi sebagian orang mungkin tak berkenan. Saya termasuk yang tak keberatan, karena Angga menuliskan kembali latar belakang Ben, anak seorang petani kopi yang juga pejuang melawan pencaplokan lahan oleh perusahaan sawit.

Cerita mengenai pencaplokan lahan ini nyata dan sudah akrab di telinga saya sebagai wartawan. Contohnya, pada 2012, perwakilan masyarakat Buol, Sulawesi Tengah (Sulteng) datang ke Jakarta, untuk menuntut kepastian pengembalian lahan masyarakat setelah hampir 20 tahun dikuasai perusahaan sawit milik pebisnis papan atas di Indonesia, Sri Hartati Murdaya: PT Hardaya Inti Plantations (PT HIP). Hartati saat itu mendekam dalam tahanan KPK karena menjadi tersangka kasus suap izin perluasan kebun sawit di kabupaten yang sama.
Kepemilikan lahan sawit oleh HIP disinyalir diperoleh dengan cara-cara curang, intimidasi dan kekerasan. Kala itu, lahan warga direbut paksa, diturunkan alat berat dikawal militer. Ini untuk mematahkan perlawanan warga yang sebagian besar adalah petani kakao, kelapa, durian, padi, sagu, kopi, mangga, langsat dan lain-lain, dilibas terganti sawit.
Filkop I sudah memberikan sedikit bocoran bahwa Ben punya masa lalu yang pahit bersama ayahnya, si petani kopi. Ia benci sekali pebisnis sawit.
Sawit belakangan adalah komoditas paling seksi di dunia terutama Indonesia. Karena hampir semua produk cemilan yang disukai manusia di bumi ini, selalu memakai minyak sawit. Contohnya Indomie Goreng yang buat kalian keranjingan itu.
Dari segi bisnis, menurut Indonesia Investment, produksi minyak sawit dunia didominasi oleh Indonesia dan Malaysia. Kedua negara ini menghasilkan sekitar 85–90% dari total produksi minyak sawit dunia. Indonesia adalah produsen dan eksportir minyak sawit yang terbesar di dunia, dengan total produksi 36 juta ton metrik per tahun.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat ekspor minyak sawit sebanyak 25,1 juta ton. Amerika paling banyak membeli minyak sawit dari Indonesia, selanjutnya Eropa. GAPKI menargetkan perluasan pasar hingga ke Timur Tengah tahun ini.
Di balik gemerlapnya industri sawit ini, praktik gelap bisnis mencoreng nama baik perusahaan-perusahaan minyak nabati ini. Pada pertengahan 2016, saya pernah menulis tentang perusahaan produksi makanan raksasa Indonesia Indofood, yang didera isu perburuhan.
Dalam laporan berjudul Korban Minyak Sawit yang Bermasalah: Indofood, Peran Terselubung PepsiCo Terhadap Eksploitasi Buruh di Indonesia, Rainforest Action Network (RAN), organisasi Penguatan dan Pengembangan Usaha-usaha Kerakyatan (OPPUK), dan Internasional Labor Rights Forum (ILRF) terungkap beberapa temuan. Mulai dari pola kerja yang berbahaya sampai upah yang tidak layak.

Saya kemudian jadi berpikir, sejak kapan Sawit menjadi komoditas utama di Indonesia? Lalu menggeser kopi?
Sejak semua orang menciptakan makanan-makanan cemilan baru yang menuntut inovasi rasa, yang ternyata hanya bisa diperoleh dari minyak sawit.
Sawit dan Kopi dulu berdiri sejajar sebagai komoditas yang diperebutkan. Menurut sejarahnya, kedua tanaman ini sama-sama dibawa dari luar oleh kompeni.
Sawit berasal dari Afrika barat, pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah Belanda pada 1848. Awalnya tanaman kelapa sawit dibudidayakan sebagai tanaman hias, sedangkan pembudidayaan tanaman untuk tujuan komersial baru dimulai pada tahun 1911.
Sedangkan kopi, pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1696 dan dibawa oleh Komandan Pasukan Belanda Adrian Van Ommen dari Malabar — India. Tanaman biji kopi baru didatangkan pada tahun 1699, dan kemudian berkembang ke sekitar Jakarta dan Jawa Barat. Lambat laun, tanaman kopi pun menyebar hingga seperti Sumatera, Bali, Sulawesi dan Timor.
Tahun 1706 Kopi Jawa, atau yang dikenal dengan Java, diteliti di Amsterdam dan kemudian hasil penelitian tersebut oleh Belanda diperkenalkan ke seantero Belanda.
Menurut nenek saya yang sudah meninggal — semoga ia tenang di sana — zaman penjajahan Belanda, petani-petani lokal harus menuruti perintah kolonial, menanam komoditas sesuai permintaan mereka. Belum lagi mereka harus menyerahkan hasil panen mereka, kadang dibeli dengan harga yang sangat rendah.
Setelah merdeka, belakangan perkembangan sawit lebih pesat daripada kopi. Kopi Jawa tak lagi menjuara, melainkan sawit.
Akibatnya muncul ‘VOC-VOC’ baru alias taipan bisnis yang menanam sawit sembarangan, dengan melahap lahan petani, hutan lindung, sampai yang belakangan terjadi, mereka diduga membakar lahannya sendiri sehingga menjalar ke lahan milik pemerintah yang menjadi habitat orang utan.
Tapi, kembali ke bapaknya si Ben — ini kenapa bahasnya serius amat sih — begitulah nasib petani lokal yang ingin ikut nyemplung ke bisnis komoditas. Alih-alih mendapat tempat, mereka harus meregang nyawa mempertahankan lahannya.

Di Filkop II, konflik mengenai sawit dan petani kopi lokal ini menjadi lebih terang. Hebatnya Angga langsung punya solusi untuk itu, alih-alih menjadikan Ben hanya sebagai Barista abadi yang meracik kopi terenak se-nusantara di kedai paling mentereng di Ibukota, Angga malah menaikkan derajat Ben menjadi bagian dari petani kopi.
Sekuel Filkop II ini menjadi penanda bagi anak-anak muda bahwa menjadi barista itu memang kewl. Tapi ada yang lebih kewl dari itu semua, menjadi anak muda yang memahami bagaimana caranya menanam kopi terbaik.
Dengan menarik Ben kembali ke kebun, kalian, kelas menengah kota, diharapkan sadar bahwa dari setiap biji kopi yang kalian minum itu, ada petani lokal yang berjuang untuk mempertahankan lahannya di tengah kondisi perdagangan komoditas yang sarat politik. Pencaplokan lahan misalnya. Itu kalau kopinya dibeli dari petani lokal lho ya.
Jadi, buat yang bilang “Saya kecewa, film ini tidak sesuai dengan cerpennya,” sebaiknya berpikir ulang, bahwa tujuan dari film ini bukan untuk menerjemahkan letterlijk cerpen Dee, melainkan melengkapi latar belakang filosofi dari hadirnya secangkir kopi di meja anda.
Selamat menonton.
Ngomong-ngomong, sudah ada bocoran Filkop III, ini posternya sudah beredar via Victor Kamang:

