‘IANFU’ ada dan berlipat ganda

Salah satu karya seniman Indonesia di pameran Kitab Visual Ianfu.

Suara denyut jantung menggema di sudut-sudut ruangan Galeri Cemara 6. Dig, dug, dig, dug. Jika diresapi, serasa sedang berada di ruang operasi.

Tapi tidak, ini bukan ruang operasi, melainkan ruang pameran berjudul Kitab Visual Ianfu yang diinisiasi oleh seniman kawakan Dolorosa Sinaga. Bu Dolo, begitu sapaan akrabnya, mengajak seniman-seniman muda lainnya untuk bergabung dan memamerkan karya mereka tentang sejarah perempuan-perempuan yang menjadi budak seks militer Jepang pada masa perang dunia ke II atau Asia Pasifik pada 1931–1945.

Informasi mengenai siapa itu Ianfu sudah dipampang jelas di depan ruang pameran, sebelum anda menelusuri satu persatu karya seni para seniman tersebut.

Dituturkan di sebuah papan, praktik Ianfu bermula dari upaya Jepang melaklukkan daratan Cina yang luas. Dalam penaklukkan tersebut, tentara Jepang telah membantai warga sipil di luar batas kemanusiaan, hingga memerkosa sekitar 20.000 perempuan.

Bahkan perempuan-perempuan itu bukan hanya diperkosa, melainkan disiksa, seperti dikeluarkan isi perutnya, dipotong payudaranya hingga tubuhnya dipaku di dinding.

Praktik biadab ini berlanjut, tentara Jepang memaksa ayah memerkosa anak-anak perempuannya, dan anak laki-laki dipaksa memerkosa ibunya.

Sedangkan keluarga lainnya dipaksa menonton di bawah todongan senjata dan samurai.

Dalam sebuah penelitian yang dibuat oleh Eka Hindra, tentara-tentara Jepang akhirnya terjangkit penyakit menular seksual alias PMS. Gejala PMS ini membuat tentara Jepang yang gagah menjadi loyo. Pasukan melemah.

Akhirnya markas besar Angkatan Darat di Tokyo memutuskan untuk mengirim Dokter Aso Tetsuo. Dokter ini kemudian menuliskan pengalamannya menangani sejumlah penyakit menular seksual tentara Jepang. Tulisannya itu diterbitkan di Shanghai kara Shanghai he pada 1939 dengan judul Pencegahan Positif Penyakit Menular Seksual.

Tetsuo dalam penelitiannya akhirnya mengusulkan agar Angkatan Darat menyediakan “perempuan bersih” artinya bebas dari PMS.

Rekomendasi Tetsuo menandai dimulainya perekrutan sistematis secara besar-besaran terhadap perempuan-perempuan di kawasan Asia Pasifik.

Jumlahnya beragam. Ada yang menyebut jumlahnya 20.000 hingga 410.000. Jumlah pasti korban tak pernah diketahui.

Siapa saja yang masuk kategori sebagai perempuan bersih yang kelak disebut Ianfu itu? Mereka yang berusia 14–25 tahun (Tak peduli sudah menstruasi atau belum). Bahkan ada yang masih berusia 9 dan 13 tahun.

Perempuan-perempuan budak seks ini direkrut secara diam-diam dari desa-desa yang pendidikanya rendah, terutama mereka yang tidak bisa baca tulis. Perekrutan dibantu oleh aparat birokrat lokal. (Bajingan gak sih?)

Untuk perempuan-perempuan muda yang sudah dianggap berpendidikan, mereka diiming-imingi pekerjaan dan sekolah.

Perempuan-perempuan yang direkrut ini kemudian dikumpulkan di sebuah tempat khusus bernama Ianjo, atau rumah perempuan dalam Bahasa Jepang.

Ianjo-ianjo itu juga didirikan di Indonesia, yang menyebar dari Aceh hingga Papua. Mereka yang dipenjara di Ianjo berasal dari berbagai suku dan negara. Ada juga perempuan-perempuan keturunan Belanda dan Indo Belanda, Korea, Taiwan, Singapura, Birma, dan Filipina.

Ianfu dari Indonesia

Salah satu karya seniman Indonesia di pameran Kitab Visual Ianfu.

Setelah perang usai, praktik Ianfu pun mulai terbongkar. Mantan budak-budak seks angkat bicara. Sejauh yang saya telusuri di pameran ini, ada nama-nama mantan Ianfu yang kerap muncul. Salah satunya adalah Mardiyem dari Yogyakarta, yang saat menjadi Ianfu diganti namanya menjadi Momoye.

Kisahnya pernah ditulis oleh media. Mardiyem mengisahkan kembali kisah pilu yang ia alami saat masih berusia 15 tahun. Saat itu, ayah Mardiyem dipanggil oleh Pal Lurah. http://daerah.sindonews.com/read/1079647/29/kisah-mardiyem-pemain-sandiwara-yang-dipaksa-menjadi-jugun-ianfu-1453561311/1

Menurut Pak Lurah kepada ayahnya, Mardiyem akan disekolahkan di Balikpapan oleh Jepang, dan setelah lulus akan dipekerjakan di kantor. Ternyata ia malah dijadikan budak seks selama enam bulan.

Mardiyem sempat memberikan kesaksian, namun kini ia telah meninggal dunia.

Dalam situs http://ianfuindonesia.webs.com juga dituturkan bagaimana perempuan-perempuan muda Indonesia yang menjadi budak seks, dituturkan harus melayani 10–20 laki-laki pada siang dan malam dalam keadaan lapar. Jika mereka hamil, harus menjalankan aborsi. Banyak di antara mereka mati karena sakit, disiksa sampai meregang nyawa, hingga bunuh diri.

Jika selamat, mereka tak bisa hidup normal, mereka mengalami kerusakan di rahim, pendarahan, sakit jiwa, hingga dikucilkan masyarakat. Padahal apa salah budak seks sampai dikucilkan masyarakat? Menjadi budak seks kan bukan keinginannya?

Politik tubuh perempuan dari masa ke masa

Salah satu karya seniman Indonesia di pameran Kitab Visual Ianfu.

Kisah-kisah Ianfu pada perang dunia II ini pun mengingatkan kita pada kasus-kasus pemerkosaan massal (lagi-lagi tubuh perempuan jadi korban) dari masa ke masa.

Perlu diketahui, hingga saat ini, belum ada pengakuan dari Jepang terhadap para budak seks Ianfu ini. Jepang tidak pernah jujur mencantumkan dalam buku sejarahnya tentang tragedi kemanusiaan ini. Mungkinkah Jepang malu atau karena kasus yang terkait tubuh perempuan memang selalu dilupakan dalam dunia yang serba maskulin ini?

Jika dirunut, kasus kekerasan seksual yang melibatkan perempuan-perempuan muda Indonesia ini pun terulang di masa-masa mendatang.

Sebut saja kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual yang menimpa aktivis-aktivis perempuan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Puluhan ribu aktivis perempuan pada zaman setelah kemerdekaan dibungkam dengan dipenjara, diperkosa, sampai dibunuh oleh rezim Soeharto.

Mereka bahkan difitnah telah menyilet-nyilet kemaluan enam jenderal yang disebut telah dieksekusi oleh Partai Komunis Indonesia, walaupun tuduhan itu tak pernah dibuktikan, hingga hari ini juga tak pernah digelar pengadilan.

Propaganda-propaganda palsu terkait Gerwani ini bisa kamu baca di situs IPT 1965. Dunia internasional pun mengakuinya dan menyatakan bahwa Indonesia telah bersalah dan harus mempertanggungjawabkan genosida yang terjadi saat masa transisi pergantian pimpinan dari Sukarno ke Soeharto tersebut.

Kasus Gerwani ini tidak pernah diakui negara, disidangkan, malah dibelokkan di buku sejarah yang disebar di sekolah-sekolah pada masa orde baru.

Belum selesai, dan kasusnya masih diingkari oleh pemerintah saat ini, muncul lagi tragedi kemanusiaan yang melibatkan tubuh perempuan. Yakni pemerkosaan massal pada perempuan Thionghoa pada saat kerusuhan Mei 1998 pecah. Ratusan perempuan Thionghoa diperkosa secara massal dan secara sistematis, dan mirisnya hingga hari ini juga tak pernah diakui oleh negara atau bahkan ditulis dalam sejarah buku-buku sekolah.

Saya pernah menulis tentang kisah mereka ini. Baca di sini. http://www.rappler.com/indonesia/133617-cerita-pemerkosaan-mei-1998

Lalu belakangan Indonesia dihebohkan dengan kasus pemerkosaan anak-anak perempuan di bawah umur seperti YY, 14 tahun, yang diperkosa oleh 14 laki-laki. Kasus ini mendapat perhatian media nasional maupun internasional. Menyusul kasus YY, tiba-tiba kasus serupa marak terjadi. Hingga hari ini tak ada yang menemukan motif dibalik pemerkosaan massal ini.

Apa penyebab kasus pemerkosaan massal terus berulang? Menurut salah satu aktivis perempuan Nursyahbani Katjasungkana, kasus pemerkosaan tidak pernah diakui dan diselesaikan oleh negara itu sendiri. Akibatnya, repetisi terjadi. Karena hukum tidak pernah ditegakkan.

Pemerkosaan dianggap barang sepele, bukan hanya oleh laki-laki, tapi juga oleh perempuan. Dan selama berabad-abad lamanya, korban kekerasan seksual dan pemerkosaan mirisnya selalu dikucilkan oleh masyarakat.

Karena itu juga mungkin, negara merasa memiliki legitimasi untuk mengabaikan kasus-kasus ini. Masyarakat saja mengucilkan apalagi negara? Karena itu, ianfu-ianfu ini terus menghantui, bakal berlipat ganda. Mereka menjadi budak seks politik di negeri, mereka sekali lagi menjadi alat untuk menteror, merongrong pejuang-pejuang hak asasi manusia agar ciut nyalinya, dan sekali mengukuhkan bahwa tubuh perempuan tidak pernah dihargai.

Tapi sampai kapan? (*)

Buat yang belum nonton pameran Ianfu, pameran ini digelar sampai akhir Agustus nanti. Jangan lewatkan!