Tangisan, Kesedihan

Febrian Ariya
Jul 30, 2017 · 1 min read

Dan isak tangis pun pecah di akhir nyanyian kidung perpisahan. Sanak keluarga yang ditinggalkan tak lagi bisa menahan air mata yang memuara di ujung mata. Tak hanya istri, anak-anak mendiang pun menangis sejadi-jadinya. Meraung-raung. Kudengar suara-suara pilu nan menyayat hati saling bersahutan.

Aku yang sedari dulu benci isak tangis, seketika muncul jengkel dalam hati. Ingin rasanya kubuat telingaku tak bisa mendengar suara. Tapi inilah realita. Kematian, dan tangisan, adalah hal tak terpisahkan. Pesan-pesanku tadi malam tak membuat efek apa-apa, kurasa.

Memang tak mudah ditinggal sosok tercinta. Merasa kehilangan, sudah pasti. Merasa dunia berlaku tidak adil, bisa jadi. Merasa hidup jadi tak lengkap lagi, itulah yang terjadi. Hidup memberi kita kebahagiaan, pun juga kesedihan. Kehidupan mempertemukan, pun juga memisahkan. Dualisme kehidupan tak bisa terelakkan.

Lalu apa yang bisa kuberikan selain dari kehadiran dan senyuman. Nasihat kehidupan telah disampaikan, namun aku pun sadar. Dalam keadaan terguncang, kadang amat sulit menerima pesan. Jadi, kubiarkan waktu menyapu kesedihan sanak keluarga itu. Kubiarkan hati mereka membuka matanya sendiri. Aku hanya pembawa pesan. Bukan penentu takdir kehidupan.

    Febrian Ariya

    Written by

    Learning by doing