Biasakan untuk Tanya Kenapa… Gak Merugikan Kita Kok!

“Emang napa sih sampai dirimu melakukannya?”

“Karena si A bilang harus gitu. Ya udah… saya gitu.”

Pernah mengalami hal yang serupa? Saya beberapa kali seperti itu. Ada beberapa orang yang saya kenal, melakukan hal tertentu karena orang yang menjadi idolanya mengatakan untuk melakukannya.

Hanya karena dibilang harusnya gitu… that’s it. Dan dia pun melakukannya. Tanpa tanya kenapa lebih dulu. Gak mencari tahu apa alasan dibalik ucapannya itu.

Ibaratnya, yang sempet kepikir sama saya adalah:

Kalau si idola nyuruh terjun — ya dia akan terjun ke jurang. Tanpa tahu alasannya kenapa dia harus terjun ke jurang.

Kenapa sih enggan “Tanya Kenapa”?

Apa sedemikian hebatnya si idola ini hingga apapun yang dikatakan langsung diamini dan dilakukan gitu aja?

We are born with logic in our head — use it.

Secara logika saya yang kecil ini, saya selalu mempertanyakan semua yang diminta. Mungkin karena itu juga jadi banyak yang sebel sama saya — termasuk mantan bos, hehehe.

Ya tapi gimana lagi… saya ya gitu orangnya. Kalau ada yang bilang A, saya akan tanya kenapa harus A? Alasannya apa? Masuk di akal saya gak itu?

Kalau sudah masuk akal baru deh saya lakukan — jika ternyata memang itu bagus untuk saya.

Kalau gak tanya alasannya dan memahami dengan logika saya pribadi, saya ngerasa:

Bagaikan domba yang sedang diarak gembala ke sana ke sini.

Mungkin kalau saya domba beneran sih gak akan tanya kenapa dan lakukan langsung. Tapi kan saya bukan domba.

Saya mohon maaf — karena saya bukan domba, ya saya akan tanya kenapa sebelum melakukannya…

Mencari Tahu — Jangan Hanya Karena Idola

Saya kasih tahu rahasia ya…

Idola kita itu juga manusia… bisa buat salah.

Masih mending kalau dia salah mau ngaku salah. Kalau gak mau gimana? Terus kita sudah melakukan apa yang dia “suruh” lakukan gitu aja tanpa tanya kenapa lebih dulu.

Kalau sudah kayak gitu, siapa yang mau tanggung jawab? Idola kita itu mau tanggung jawab gak?

Mencari tahu lebih dalam tentang apa yang dikatakan idola kita itu gak dosa kok. Bahkan — saya pribadi sangat menganjurkannya.

Misalnya nih, kalau ada yang mengidolakan saya (langsung pada muntah), dan pas suatu hari saya bilang A. Boleh banget nanya ke saya, kenapa harus A. Alasannya apa. Ada informasi yang bisa dipercaya gak bahwa harus A?

Saya malah lebih suka yang seperti itu. Kenapa? Artinya orang itu menggunakan logikanya. Orang itu bener-bener orang. Hehehe.

Saya pribadi melakukannya kok. Bahkan terhadap apa yang dikatakan pakar junjungan saya dalam ngeblog. Kayak untuk masalah https yang katanya wajib untuk blog.

Sebelum saya mengaktifkan https untuk blog saya, saya cek dan ricek dulu. Saya mencari informasi sebanyak-banyaknya soal ini. Gak hanya karena itu salah satu trend SEO yang wajib dilakukan (sejak 2017) kemarin, kemudian saya aktifkan.

Kalau setelah mencari tahu kemudian saya teryakinkan, baru saya lakukan. Ya.. itu sih saya ya.

Namun… ini juga berlaku untuk masalah nyebar berita kok….

Karena yang menyebar berita adalah idola, kita langsung percaya. Jangan kayak gini.

Sekarang ini gampang kok untuk memastikan sebuah berita itu benar apa gak.

Kita ini jangan mau dibodohi hanya karena melihat sosok idolanya kita itu. Apalagi buat blogger nih….

WAJIB hukumnya untuk cek dan ricek informasi yang didapat.

Itu menjadikan kamu sebagai blogger yang baik.

Menjadi Lebih Baik — Selalu Bertanya

Satu hal lagi yang sebenarnya saya dapatkan dengan terus tanya kenapa — bahkan ke diri sendiri.

Saya selalu belajar dan belajar. Selalu berusaha mendapatkan informasi yang baru dan lebih baru lagi.

Dan akhirnya … itu juga yang menjadikan kita lebih baik lagi.

Selalu tanya kenapa — bahkan ke saya sekalipun — sebelum memutuskan melakukan apa yang dikatakan idola. Jangan mau jadi kambing hitam kalau nanti ada masalah akibat ucapannya itu. Jangan sampai dapat jawaban:

“Kirain sudah pada tahu semuanya…”

NB: kalau ada yang tanya kenapa saya menulis ini… jawaban saya: karena saya jengah sama ketidakpedulian orang pada logika diri sendiri. Hanya karena seseorang jadi idola, bukan berarti harus mati bareng idola.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.