Untuk Lifestyle Blogger, Jadilah yang Menonjol Biar Dilirik

Blog kamu apa temanya?
Ah saya mah lifestyle blog.
Ooo… jadi bahas soal gaya hidup orang ya? Gaya hidup urban?
Hahh? Bukan… itu loh, semua topik dibahas. Lifestyle blogger kan istilahnya.

Beberapa waktu lalu, saya baca komentar di salah satu blog. Isinya betapa lifestyle blog itu sudah overrated. Memang… untuk yang tidak terlalu kenal dengan dirinya, komen seperti itu akan dianggap pujian. Tapi kalau sudah paham dikit, sebenarnya dia sedang sarkas.

Memang kenyataannya seperti itu. Kategori yang so-called lifestyle blog itu sudah sangat overrated. Terlalu dianggap wow. Dari sisi konten ataupun dari sisi uang yang bisa didapatnya.

Di sini, saya hanya ingin menuliskan apa sebenarnya yang overrated dari kategori blog yang itu. Gimana biar bisa keluar dari sana?

Apa sih Lifestyle Blog itu?

Saya pernah menemukan satu blogger luar yang tergolong sukses karena bisa menopang keluarganya dari blog. Dia mengatakan kalau dia adalah lifestyle blog.

Karena penasaran, saya pun membukanya dan baca.

Well… isinya sih tentang kehidupan dia sehari-hari sebagai seorang ibu dan bagaimana dia menghabiskan harinya. Gaya hidup seorang ibu rumah tangga. Itu yang ditulisnya.

Kemudian, saya melihat lagi ke beberapa waktu silam (lupa tepatnya) di mana seorang blogger senior mengatakan:

Jadi lifestyle blogger aja, bahas apapun. Jadi semua event blogger bisa datang dapat sesuatu walau kecil.

Oooo… pikir saya saat itu. Mungkin beda ya pemahaman di sini. Memang sekarang ini, lifestyle blog itu telah bergeser menjadi blog yang membahas apapun alias blog gado-gado.

Saya pun sempat terseret dalam term yang seperti itu. Tapi kalau ditanya sebenarnya lifestyle blog itu adalah…

“A lifestyle blogger writes, creates, and publishes (multi)media content on various aspects of their daily lives.” Taken from Mediakix

Various aspect of their daily lives… Mungkin ya di sini ya kata kuncinya. Kehidupan sehari hari. Terus pas cari info lagi, saya juga menemukan ini:

Perbedaan antara Personal Blog dan Lifestyle Blog…

Maksudnya, lifestyle blog itu majalah (magazine) gitu? Well… tunggu dulu. Artian magazine di sini adalah dalam arti mengambil sisi personal interests — topik yang disuka seperti layaknya majalah dibandingkan personal stories. Seperti dijelaskan lebih di bawah ini.

Personal blogs will rely heavily on personal narrative, essay, opinion. Lifestyle blogs include personal elements but often give you some really tangible things to take away. Taken from Write, Laugh, Dream.

Dan sepertinya, konsep yang berlaku di sini itu ya… masalah personal interest.

Kenapa Lifestyle Blog itu Overrated?

Overrated di sini dalam konsep…

Karena saya gak masuk niche manapun, ya saya lifestyle blog. Dan biar dapat uang dari blog lebih gampang, saya masuk lifestyle blog.

Ya kan, itu juga yang dianjurkan oleh para bloger senior dulu. Kalau ingin monetasi blog, daripada bingung, mending bikin lifestyle blog. Jadi event apapun bisa diikuti.

Sedikit demi sedikit akan jadi bukit. Sedikit dapat dari event A, tapi kalau ikut event A — Z kan jadinya banyak.

Terutama blogger yang terkena sindrom kilau emas, akhirnya pun mengambil jenis blog yang satu ini. Hingga akhirnya semakin banyak dan semakin banyak lifestyle blogger Indonesia.

Namun… apakah kenyataannya sebagus atau seindah yang dikatakan senior-senior itu?

Inilah yang overrated.

Karena dianggap paling mudah mendatangkan uang — acara apapun bisa diikuti, banyak yang memilihnya.

Reality Check! Hasilnya tidaklah memukau seperti yang dikatakan para senior itu.

Jadi tanyakan kenapa dong sekarang….

Kenapa ketika sudah mengikuti kata para senior itu, penghasilan dari lifestyle blog gak seperti yang dikatakan? Kenapa penghasilannya masih di bawah yang ditunjukkan para senior itu yang bisa puluhan juta?

Berapa sih fee sebagai lifestyle blogger itu? Coba deh bandingkan dengan rate blogger lain yang fokus, seperti travel blogger dan lainnya. Bisa baca tulisan Vicky sebagai bahan.

Terlalu banyak lifestyle blog itu… hingga akhirnya, kita sendiri pun tenggelam dalam lautan itu. Buat yang mengambil kategori itu, akhirnya pun menghilang dalam banyaknya lifestyle blog itu sendiri.

Who Are You? Serius Nih, Siapa Dirimu di Antara Ribuan Lainnya?

Karena semua boleh dibilang mirip, jadi tidak ada yang menonjol di antara semua itu. Bahkan, tidak jarang juga saya menemukan the so-called lifestyle blog isinya hanyalah pemindahan tulisan press release ke dalam blog mereka. So… apa bedanya dengan majalah kalau gitu?

Saingan sebagai lifestyle blogger itu jadi semakin luas, yaitu termasuk melawan media online — majalah/koran dan lainnya. Apalagi kalau tidak ada sisi personal touchnya sama sekali dari si empunya blog.

Kalau kata mantan atasan saya dulu adalah gini:

Kita haruslah menjadi mutiara yang bahkan bersinar di dalam lumpur.

Kita harus diingat dengan apa yang kita lakukan, yang kita tulis — sebagai blogger — di antara semua blog lainnya. Inilah yang perlu ditekankan sebenarnya.

Coba deh perhatikan para senior yang menganjurkan membuat lifestyle blog selama ini. Apakah mereka menuliskan semua dalam blog mereka? Mereka tetap menjaga blog gado-gado mereka dengan konsisten loh.

Gak semua topik dimasukkan di sana. Beberapa punya blog lebih dari satu yang event-event related akan dimasukkan di sana, bukan di blog utama mereka.

Itu sebenarnya sudah jadi pertanda, menurut saya, bahwa lifestyle blog itu overrated. Lah wong yang menyarankan saja tidak melakukan apa yang disarankannya.

Karena memang kenyataannya, blog mereka tetap ramai sekalipun lifestyle itu dikarenakan nama mereka. Orang sudah kenal mereka. Lah kita gimana??? No wonder kan kalau fee kita tetap kecil sebagai lifestyle blogger?

Gimana caranya jadi lebih dengan lifestyle blog kalau gitu?

Tips untuk Lifestyle Blogger: Menjadi Yang Dikenal dengan…

Kalau kata mbak Carra sih dengan menemukan ciri khas ngeblog kita sendiri. Dengan ciri khas itu, kita akan lebih mudah dikenal di antara sekian banyak blog di luar sana.

Contoh paling saya suka dan juga dimasukkan dalam tulisan mbak Carra itu adalah Dani.

Dani itu punya ciri khas tersendiri dalam tulisannya. Gayanya itu kayak gaya emak-emak, termasuk saat menulis tentang personal finance, yang mana jadi topik utama dalam blog lifestyle-nya itu (peace Dan).

Gaya tulisannya itu justru membuat topik yang sulit dipahami menjadi lebih mudah dimengerti. Makanya, cocoklah kalau Dani itu disebut finance blogger Indonesia (untuk pemula terutama…).

Apa yang ditulis mbak Carra pun juga pernah saya bahas dalam Cara Menjadi Blogger Indonesia yang Menonjol. Bukan menonjol karena sifat yang buruk ya, tapi menonjol dalam beberapa aspek blog, seperti:

Tetap Fokus pada 1 atau 2 Topik, Sekalipun Lifestyle Blog

Ini yang saya dapatkan dalam perjalanan ngeblog dari seorang teman. Apalagi saat itu ingin mendaftar Adsense untuk blog. Namun, prakteknya, fokus dengan topik ini tidak saya lakukan. Hasilnya?

Ya gagallah dapat approval adsense itu. Sedangkan ketika memberitahu ke Dani, dia lakukan dan berhasil. Fokus pada personal finance — itu yang dilakukannya saat itu.

Itu salah satu kesalahan dalam ngeblog yang saya lakukan dan sesali hingga saat ini. Makanya, setiap ada pelatihan SEO, saya selalu mengatakan:

Sekalipun kita mengambil lifestyle blog, kita tetap harus punya titik fokusnya. Entah fokusnya di travel ataupun di topik manapun yang kita suka (passionate).
Blog Lia, lifestyle tapi fokus pada beauty.

Itu pun dilakukan oleh Lia — si beauty blogger Indonesia itu menerapkan dalam blognya yang juga tergolong lifestyle. Dan berhasil!! Bahkan dia mendapatkan traffic lebih tinggi dari saya sekarang ini.

Tonjolkan Diri melalui Tampilan Blog

Tampilan blog — itu ibaratnya adalah etalase di sebuah toko di mall. Di antara puluhan etalase toko yang ada di mall yang sama, kita harus membuat etalase yang menarik. Yang bisa membuat orang berhenti sejenak dan penasaran melihat isi dalam toko.

Kalau “etalase” blog kita sudah menarik, orang akan dengan senang hati melirik kan. Moga-moga sih melihat ke dalam dan betah di sana.

Terus gimana cara membuat etalase toko jadi menarik? Ya sudah pasti dengan theme atau template blog yang memang menarik. Tapi jangan lupa juga untuk mengatur tampilannya yang mencerminkan isi.

Ibaratnya nih… etalase tokonya serba wah — barang branded semua. Tapi pas masuk ke dalam, ternyata isinya barang KW. Ini kan gak banget ya. Jadi ya… haruslah sesuaikan dengan apa yang ada dalam blog kita.

Balik ke blognya Lia, tampilan etalasenya menarik sejak membaca tagline blognya. “Magnify Beauty through Attitude & Confidence”. Dari tagline blognya itu sendiri, kita sudah bisa menebak kalau dia akan banyak bahas soal beauty.

Kombinasikan juga dengan pilihan warna yang kamu pakai untuk blog. Pink untuk blog wanita atau targetnya ke wanita. Hijau untuk masalah uang seperti blog Dani juga cocok.

Biar mudah, saran saya sih pakai theme yang premium, jadi bisa kita otak-atik semau kita. Jangan lupakan juga SEO Friendly Theme ya…

Temukan Gaya Tulisan yang KAMU BANGET

Nah yang ini sejalan dengan tulisannya mbak Carra yang saya sebut di atas. Ini menurut saya sih wajib untuk yang mengambil lifestyle blog. Kenapa? Biar orang itu ingat!

Blog danirachmat — di mana duit diobrolin santai kakkk.

Mau ambil seperti Dani yang gaya tulisannya itu mudah dipahami ala-ala ngobrol ke emak-emak? Boleh banget. Atau seperti Raditya Dika, beliau ini gaya tulisnya itu khas loh, dengan guyonannya. Itu kan yang membuat penerbit saat itu melirik blognya.

Eh tapi… harus inget ya:

Be YOU… itu sih intinya. Jangan karena ingin seperti Dani, akhirnya menjadi Dani…. harus tetap jadi diri sendiri.

Boleh kok tetep Lifestyle Blogger

Asal kita tahu fokus utama topik blog gado-gado kita itu apa. Dan tetap kembangkan di sana. Walaupun kita bahas semua yang bisa kita bahas, selalu hubungkan kembali ke topik fokus kita. Selain itu:

Tetap cantumkan pikiranmu dalam tulisan. Jangan hanya sebatas copas press release. It’s a blog, not magazine.

Jadilah lifestyle blogger yang menonjol dan diingat orang. Jangan jadi yang medioker saja. Boleh baca lebih lengkap soal menjadi yang menonjolnya di blog personal saya ya.