NEGERI 70 JUTA PEMBUNUH

Apakah Anda adalah si pemain catur atau hanya lah boneka yang digerakkan oleh dalang yang tidak Anda ketahui?

Mungkin ada yang spesial dengan kombinasi tiga angka.

Kristiani mengenal 777 sebagai angka atau penanda Juruselamat, 666 sebagai penanda Iblis dan 70x7 sebagai metafora seberapa sering kita harus memaafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita. Baru-baru ini, Indonesia dihebohkan dengan kombinasi tiga angka yang lain. 411 dan 212 merupakan hits paling terbaru. 411 merupakan Aksi Bela Islam Jilid I pada tanggal 4 November 2016 dengan suksesornya 212 pada tanggal 2 Desember 2016. Baru-baru ini, terdapat isu bahwa akan ada Aksi Bela Rakyat 121 yang “katanya” akan didukung oleh seluruh BEM Indonesia.

Ketiga aksi ini didukung oleh banyak orang. Bahkan tidak sedikit anggota almamater Penulis yang mendukung dan mungkin akan ikut serta dalam Aksi 121 ini. Dalam aksi 411 dan 212 pun, bahkan tidak sedikit guru-guru Penulis di RSCM-FKUI yang ikut berpartisipasi. Tidak ada yang salah dengan menyampaikan pendapat; itu adalah hak setiap elemen masyarakat yang dijamin undang-undang. Yang lebih menarik dan mendidik untuk disimak ialah momen diadakannya aksi ini.

Aksi 411 diadakan setelah postingan Buni Yani yang mengambil cuplikan pidato Plt Gubernur DKI Ahok di Kepulauan Seribu menjadi viral di media sosial. Postingan yang diberi embel-embel “Penistaan Agama?” itu segera dijadikan casus belli oleh organisasi masyarakat garis keras, Front Pembela Islam (FPI) untuk melayangkan serangan kepada Plt Gubernur DKI Kristen pertama. Pesan yang dibawa satu: penjarakan si Penista Agama. Implikasinya? DKI tidak mungkin dimpimpin oleh Ahok lagi.

Mudah-mudahan bukan sawah satu-satunya yang dijual.

Sebuah kemenangan bagi masyarakat Muslim yang merasa “tertindas” dibawah kepemimpinan Ahok dan mereka yang menolak dipimpin oleh pemimpin Non-Muslim. Sebuah kemenangan juga bagi lawan politik pemerintah sekarang mengingat bukan rahasia umum bahwa Ahok adalah sekutu politik Presiden Jokowi.

Sebagai ibu kota Indonesia, pusat administratif dan bisnis serta tempat berputarnya 70% uang negeri ini, siapa yang tidak mau mengontrol permata DKI Jakarta?

Ketika keinginan tidak dipenuhi, aksi susulan dirancang. Aksi 212 tergolong sukses dan “ramah” dibanding aksi 411 dimana ribuan orang berdoa dan berdzikir di halaman Monas. Presiden Jokowi pun menghadiri acara tersebut ditemani dengan Jenderal Pol Tito Karnavian. Kehadiran Presiden setidaknya memberikan pesan bahwa pemerintah menjamin penyampaian aspirasi dan kebebasan berpendapat.

Awal tahun 2017 dikejutkan dengan “kado dari pemerintah.” Terjadi kenaikan harga pengurusan STNK, TNKB dan BPKB yang melambung tinggi. Lebih parah lagi, setiap institusi saling lempar tanggung jawab atas lolosnya kebijakan ini. Momentum ini digunakan oleh KM-ITB untuk merencanakan Aksi yang “katanya” akan diikuti BEM seluruh Indonesia. Pesannya satu: pemerintah berhenti serampangan mengurus negeri. Ancamannya cukup bergigi. “Ramaikan jalanan dan buatlah parlemen jalanan.”

Dan ya, tanah air tercinta kita tengah dilanda goncangan besar politik. Tiga aksi besar dalam tiga bulan bukanlah hal yang remeh. Mengumpulkan dan mengkoordinasikan ribuan orang untuk berkumpul pada satu waktu dan tempa untuk menyerukan satu aspirasi adalah pekerjaan sulit. Hal ini adalah pertanda; sebuah red flag bahwa ada gelombang besar yang akan menghempas negeri ini.

Pertanyaannya, tahukah Anda apa gelombang besar itu?

Pemenjaraan penista agama? Reformasi jilid II? Makar atau pengambilalihan kekuasaan? Atau mungkin kekacauan yang lebih parah dari tragedi 1998?

Jika Anda sekarang termasuk kedalam kelompok yang berjuang, tahukah Anda apa yang Anda perjuangkan?

Atau, lebih penting lagi, tahukah Anda untuk siapa Anda berjuang?

RAJA NEGERI PARA PEMBUNUH

Tahukah Anda konflik paling berdarah di dunia?

Perang Dunia II merupakan noda berdarah dalam sepanjang sejarah manusia. Sekitar 29 juta militer dan sipil mati di Front Perang Eropa saja. Hampir 6 juta Yahudi, terutama Yahudi Ashkenazi Polandia, dibantai dalam agenda Holocaust Jerman Nazi. Angka ini belum mencakup ras lain yang dianggap Untermenschen (bukan manusia), tawanan perang dan rakyat sipil lainnya. Diperkirakan 19,3 juta orang dihabisi oleh Jerman Nazi lewat berbagai praktik diskriminasi Holocaust dan invasi ke Eropa Barat. Negeri dengan 70 juta penduduk per tahun 1939 itu sukses membantai hampir 20 juta orang, kurang lebih 1/3 penduduknya, dalam periode berkuasanya rezim Nazi yang relatif singkat. Hanya dari tahun 1933 sejak Adolf Hitler ditunjuk sebagai Kanselir Jerman hingga 1945 saat Jerman dipukul mundur oleh Sekutu di Barat dan Uni Soviet di Timur. Hanya 12 tahun kurang.

You haven’t met space-vampire-nazi. Blitzendegen.

Dan yang lebih gilanya, naiknya Hitler menuju kekuasaan bukan lewat kudeta. Hitler sudah pernah mencoba melakukan kudeta pada 11 November 1923, sebuah aksi yang dinamai Beer Hall Putsch. Aksi itu gagal dan Hitler dilempar ke Penjara Landsberg atas pengkhianatan terhadap negara. Di penjara ini lah Hitler merencanakan ulang gerakan politiknya serta menulis manifesto fenomenalnya yang berjudul Mein Kampf.

Hitler kemudian dilepaskan pada Desember 1924 dan mengganti pendekatan politiknya. Ia dipilih oleh partainya (NSDAP sebelum lebih dikenal dengan kata Nazi) murni karena kemampuan orasi dan karisma yang dimilikinya. Hitler yang bahkan tidak pernah menyelesaikan pendidikan menengah berhasil menggiring opini publik hingga Nazi mendapat suara mayoritas dalam Pemilu secara demokratis. Lewat negosiasinya dengan Kanselir Franz von Papen dan Presiden Hindenburg, Hitler diangkat menjadi Kanselir Jerman yang baru sebelum akhirnya mengkonsolidasi kekuasaanya lewat pembunuhan lawan-lawan politiknya. Sebuah peristiwa berdarah yang disebut Night of the Long Knives dimana polisi rahasia Gestapo dan SS membantai target-target politik Hitler.

Dan buah tindakan Hitler sebenarnya sudah bisa dilihat sebelum ia berkuasa. Hitler dan partainya mengusung ideologi Social Darwism, antisemitis, dan antikomunis dimana penduduk asli Jerman merupakan keturunan Bangsa Aryan sedangkan ras lain lebih rendah dari mereka. Hitler juga mengusung paham Lebensraum yang menjadi dasar Pan-Germanism dan hak Jerman atas seluruh Eropa.

Sekali lagi, Hitler berhasil berkuasa karena ia DIPILIH secara demokratis. Rakyat Jerman dibawah kekuasaan Republik Jerman Weimar di tengah keterpurukan paska Perang Dunia I memercayakan masa depan Jerman kepada Hitler.

Ya, rakyat Jerman menaruh kepercayaannya kepada Hitler. Hitler yang kemudian menjadi diktator dan pelaku genosida terbesar pada dunia modern.

Lalu, apakah sebenarnya 70 juta rakyat Nazi Jerman setuju dengan mengizinkan rezim Hitler berkuasa? Apakah sebetulnya Nazi Jerman saat itu adalah negeri dengan, maaf, 70 juta pembunuh?

MAKAN SIANG GRATIS DI SINI

Kemarin, saya dibangunkan dengan kejutan.

Sedikit cerita background, dokter internship FT tahun saya tidak mendapat insentif daerah. Insentif daerah ini diberikan per bulan kepada pendahulu-pendahulu kami dan juga dinjanjikan kepada kami. Namun, kami hanya mendapat insentif itu satu kali, itu pun lewat prosedur yang mencurigakan. Uang diberikan atas nama 7 orang di lembar tertulis, namun uang itu dibagi untuk 14 orang. Darimana ilmu hitam akuntansi seperti itu berasal? Yang lebih anehnya, kami tidak pernah menerima insentif daerah lagi setelahnya. Alasannya karena tidak ada pos insentif untuk dokter internship pada APBD, sehingga tidak ada dana yang dialokasikan untuk kami. Jika kami tetap menerimanya, maka besar kemungkinan kami bisa ditangkap BPK.

Saya hanya tertawa pahit. Orang dengan setidaknya satu neuron otak yang berfungsi tentu bisa melihat kejanggalannya.

Awalnya beberapa dari kami ingin mencoba memperjuangkan hak kami ini. Namun suara terdapat perpecahan di kelompok dokter internship sendiri sehingga perjuangan itu sudah pasti gagal sebelum dimulai. Dan saya bukan fans dari melakukan tindakan sia-sia.

Kami pun akhirnya menerima “kebijakan baru” itu.

Ternyata, kejadian seperti ini juga terjadi di lain tempat. Teman-teman di daerah lain juga mengalami kejanggalan serupa. Sebagai anak bau kencur dalam dinamika manajemen pemerintahan, tentu hal ini merupakan shock therapy bagi banyak dari teman saya. Kami dididik untuk menjadi dokter yang melayani, tidak untuk memimpin organisasi apalagi memainkan catur perpolitikan.

Flash forward ke beberapa hari yang lalu. Saya mendapat telepon dari salah seorang teman saya yang bertugas di daerah lain, sebut saja AA. Dengan sedikit bangga, AA bercerita bahwa mungkin mereka bisa mendapatkan hak mereka kembali.

AA bertemu dengan seorang yang tidak dekenal saat sedang makan siang. Orang ini memperkenalkan diri sebagai JF dimana marga dirinya terkenal sebagai marga yang berpengaruh di daerah tersebut. Setelah basa-basi, JF bertanya mengenai kondisi RS tempat AA bekerja. AA pun menumpahkan kekesalan dan kekecewaannya terhadap RS atas hak-haknya yang tidak dipenuhi. JF kemudian menawarkan bantuan; jika AA memiliki bukti tertulis mengenai hak AA dan teman-temannya yang harusnya dibayarkan, maka JF bisa membantu menginvestigasi.

AA pun pulang dengan gembira sambil menyampaikan angin segar ini ke teman-temannya. Tidak lama, AA mendapat telepon dan segera bergegas keluar. Ternyata JF datang sendiri ke rumah AA untuk lanjut mendiskusikan masalah tadi. Dengan nada keras dan urgent, JF meminta berkas-berkas tadi segera. Alasannya karena sebentar lagi akan ada rapat Dewan. AA kemudian memberikan berkas hard copy yang ada, namun sebagian masih dalam soft copy. JF mengajak AA untuk ikut bersama dia mencetak berkas tersebut. Mereka berdua pun pergi dan mencetak berkas itu.

Rasa ngantuk saya hilang seketika setelah mendengarnya.

Shitstorm is brewing there.

Yeah, who would? *munching “free donation”*

“AA, lw sekarang dimana?”

“Ini masih ngantri mau nyetak”

“Si JF mana?”

“Di sebelah gw ini. Kenapa sih?”

“Sekarang lw keluar dulu, ambil posisi biar ga kedengeran sama si JF”

“Lah kenapa sih lw, gw ada kabar baik kok aneh lw”

“Udah cepet, ini penting banget, cito”

“Ywda, ywda gw keluar. Ada apa sih?”

“Lw kenal ga dengan si JF itu”

“Kan tadi gw udah bilang, namanya JF dan dia masih saudaraan dengan yang punya tempat makan itu.”

“Bukan, maksud gw, lw tau ga apa pekerjaan dia.”

“Oh, dia orang penting lah”

“Orang penting bisa apa aja. Lw tau ga dia kerja sebagai apa, apa jabatan, hak dan kewajiban dia. Lw tau ga kredensial dia hingga dia bisa bantu lw?”

“… gw ga nanya…”

“Dan lw mw ngasih berkas itu gitu aja?”

“… yah gw kan berharap…”

“Gini cuy, ini kalau diangkat bisa kearah penyelewengan dana atau bahkan korupsi. Udah masuk ranah hukum pidana. Lw bisa dipanggil sebagai saksi kalau beneran”

“…”

“Dan ini musimnya Pilkada. Pemda baru berarti pejabat fungsional baru. Kadis baru. Direktur RS juga mungkin baru beserta jajarannya. Still following?”

“…ya…”

“Pilkada serentak udah hitungan minggu, pasti black campaign bakal makin banyak. Bisa aja masalah ini mau di blow-up buat amunisi salah satu calon atau orang yang punya kepentingan. Ngerti?”

“….”

“Lw tau ga si JF ini untungnya apa dari ‘bantuin’ kalian?”

“…ga tau sih…”

“There is no free lunch cuy. Terserah lw peduli apa ga sama daerah lw dan RS lw, gw sih ga. Cuma jangan sampai lw orang dimanfaatin jadi batu loncatan dan dikambinghitamkan ujungnya.”

“….”

“Kalau ini masalah di blow-up dan ternyata pihak RS dan yang diserang punya amunisi balik buat counter, si JF dan pihaknya tinggal bilang ‘oh saya dapet laporan dari saudara AA sehingga saya cuma ingin mengklarifikasi hal ini’ dan dia udah bisa ngelak. Lw orang ga. Tau ga lw apa jadinya?

“….”

“Lw bakal dicap sebagai pengkhianat dan nusuk dari belakang. Hidup lw selama di sana bakal dipersulit, diomongin dari belakang, dibully oleh birokrasi dan manajemen. Mau lw begitu demi uang yang ga jelas bakal turun apa ga?”

“Aduh… terus gw harus gimana sekarang?”

“Dah sekarang lw ambil lagi berkasnya sama cetakan dan fotokopinya, lw pastikan soft copy-nya udah dihapus bersih dari komputer warnetnya terus lw berkilah minta waktu ke si JF. Bilang aja ada yang lain belum setuju mau diskusi dulu. Intinya jangan sampai berkas itu ditangan JF.”

“Oke, terus gimana nih? Duh gw ga tahu bakal jadi ribet gini”

“Itu aja dulu. Well, that’s life. Welcome to real life, my friend.”

SIHIR YANG BERKEPENTINGAN

Membangun sebuah gerakan adalah hal yang sulit. Menyatukan puluhan ribu orang yang berbeda, masing-masing dengan pikiran sendiri, untuk bekerja sama dalam satu tujuan nyaris mustahil. Namun bisa dilakukan. Jika anda tahu caranya.

Apa caranya? Magic.
Propaganda yang sukses tidak peduli akan kebenaran. Tujuan akhir propaganda sukses ialah membuat target bertindak DAN berpikir bahwa tindakan itu adalah hasil pemikiran dia sendiri.

Sihir yang digunakan para penggerak gerakan ini adalah kombinasi masalah sosioekonomi, kultur, budaya dan sejumlah besar kemujuran. Yang perlu Anda lakukan adalah menjalankan propaganda.

Propagada pada makna paling sederhananya ialah pennyebarluasan sebuah ide untuk tujuan tertentu. Hasil akhir yang ingin dicapai ialah agar para penerima propaganda ingin dengan sendirinya mengikuti call to action dari propaganda tersebut.

Menunjukkan gambar anak dengan ascariasis berat hingga cacing keluar dari hidung dan muntah cacing merupakan propaganda Kementerian Kesehatan dengan tujuan agar orang tua memberikan obat cacing secara rutin. Menunjukkan manfaat dari Tax Amnesty bagi pemilik modal serta mencantumkan rancangan hukum yang lebih keras bagi pengemplang pajak setelahnya merupaka propaganda Kementerian Keuangan dengan tujuan agar pemilik modal tergerak untuk melaporkan hartanya.

Mengutip sebagian kecil video Ahok dan menambahinya dengan tag yang provokatif merupakan propaganda untuk menggiring opini masyarakat ke kesimpulan tertentu. Serangkaian aksi yang dilakukan, lengkap dengan perang berita hoax dari masing-masing kubu sebenarnya merupakan perang propaganda besar.

Target akhirnya adalah menggiring opini publik. Dan benar, sekarang banyak yang tidak sudi lagi menyebut nama Ahok dan lebih senang menghujatnya dengan si Penista Agama. Hoax tentang masuknya jutaan tenaga asing dari Tiongkok serta meningkatnya kebutuhan hidup sukses menggiring opini publik yang memang anti-rezim saat ini. Tidak heran jika kedepannya sentimen anti-Cina, anti-komunis dan anti-non muslim bisa berkobar lagi.

Dan jangan menyepelekan masalah ini.

Trump berhasil menarik dirinya dari calon lawakan dan lelucon akhir pekan menjadi calon kuat Republik lewat propaganda yang tiada habisnya dan diserukan terus-menerus. Bahwa imigran Meksiko dan Hispanic merebut pekerjaan rakyat Amerika. Bahwa Obamacare adalah kesalahan besar yang membuat akses layanan kesehatan menjadi mahal. Bahwa Cina adalah musuh perdaganan AS yang akan dia taklukan. Tembok Meksiko. Crooked Hillary. Dan puluhan propaganda yang terus diulangi Trump semasa kampanye.

Apakah propaganda itu benar? Tidak tahu. Propaganda yang sukses tidak peduli akan kebenaran. Tujuan akhir propaganda sukses ialah membuat target bertindak DAN berpikir bahwa tindakan itu adalah hasil pemikiran dia sendiri. Lihat saja, Ahok belum terbukti bersalah di pengadilan namun propaganda yang disampaikan telah sukses membuat target propaganda mengecap Ahok sebagai si Penista Agama.

Namun yang lebih mengerikan dari propaganda bukanlah isinya, tapi siapa yang merancang sihir ini.

Berkuasanya Nazi serta pembantaian yang mereka lakukan bukan karena haus darahnya masyarakat Jerman saat itu, tapi karena kemampuan Hitler dan partainya untuk menggunakan sihir propaganda. Kondisi ekonomi yang hancur lebur akibat kekalahan di Perang Dunia I tahun 1998 membuat Jerman harus menanggung malu dan hutang yang besar. Perjanjian Versailles memaksa Jerman untuk menyerahkan daerah barat yang kaya akan bijih besi dan tembaga, mengurangi militernya menjadi hanya 100.000 orang, serta membayar biaya reparasi perang.

Republik Jerman Weimar yang dibangun setelah runtuhnya Kekaisaran Jerman tidak mampu mengatasi beban ekonomi dan rasa malu yang ditanggung setiap rakyat Jerman. Ketika Depresi Besar 1929 melanda, Amerika menarik semua hutang luar negerinya untuk menyelamatkan ekonominya. Depresi Besar merebak hingga seluruh dunia dan Jerman semakin terpukul. Biaya hidup meningkat hingga 12 kali lipat (sedangkan hal serupa hanya meningkat 3x di AS) dan kurs Marks ke dollar meningkat menjadi 4.200.000.000.000 Marks banding 1 dollar AS, sebuah hiperinflasi terbesar sepanjang sejarah manusia yang diakibatkan kegilaan Republik Jerman Weimar dengan mencetak uang sebanyak mungkin untuk membayar reparasi perang.

Kombinasi kehancuran ekonomi dan harga diri rakyat Jerman ini menjadi dasar yang empuk bagi Hitler untuk menyusun jalannya ke kekuasaan. Propaganda anti-semit dan anti-komunisme memberikan casus belli dan kambing hitam empuk bagi masyarakat Jerman yang terpuruk, marah, dan menderita saat itu untuk menumpahkan kebenciannya. Propaganda racial purity dan Aryan master race-nya memberikan harapan bahwa masyarakat Jerman merupakan orang yang terpilih dan penderitaan ini hanya bersifat sementara. Propaganda Lebensraum-nya membakar semangat masyarakat Jerman untuk berperang “merebut kembali” hak milik mereka atas Eropa dan masa depan yang lebih baik.

Hal yang sama juga terjadi di Indonesia.

Gelombang anti-komunis tahun 1965 berujung pada G30S PKI, murka nasional kepada PKI, serta pembantaian siapa saja yang setitik pun dicurigai berafiliasi dengan PKI. Di belakang layar, Presiden Soekarno “ditumbangkan” dan lewat Supersemar “dilanjutkan” oleh suksesornya Jenderal Soeharto.

Gelombang anti-Cina dan kapitalis tahun 1998 berhasil memporak-porandakan ibu kota lewat tragedi Kerusuhan Mei 1998. Penjarahan, pembunuhan dan pemerkosaan terhadap etnis tertentu. Ratusan menjadi korban dan lebih banyak lagi melarikan diri. Kepolisian dan militer tak berdaya menahan kekacauan; sebuah kelumpuhan yang sebenarnya aneh dan membingungkan. Pelaku-pelaku pelanggaran HAM tersebut juga tidak semuanya diketahui, apalagi diadili. Di belakang layar, Presiden Soeharto akhirnya mengundurukan diri dalam peristiwa yang dinamai Reformasi.

Dan sekarang gelombang besar baru akan muncul.

Intoleransi, friksi antar agama, masuknya jaringan ISIS ke jaringan teroris Indonesia, serta gelombang ketidakpercayaan kepada pemerintah berdaulat mulai merebak. Kehadiran media sosial membuat penyampaian propaganda dan berita, baik yang benar maupun omong kosong belaka, menjadi semakin mudah dan mampu mencakup lebih banyak orang. Peningkatan jumlah kelas menengah dan akses ke informasi membuat masyarakat semakin ingin untuk memiliki pandangan dan posisi politik. Dan benar saja, semua orang beserta anjing peliharaan nenek mereka sudah memiliki smartphone, akses internet, dan mulai berkomentar mengenai isu yang ada.

Dan masalah ini bukan hanya di dalam negeri. Hubungan aliansi ASEAN mulai renggang karena kejadian politik dalam negeri. Junta Militer Myanmar dituduh membantai Muslim Rohingya sementara mereka masih harus mengatasi terorisme radikal ISIS di perbatasan mereka. Duterte dalam perang besarnya melawan sindikat narkoban dituduh melanggar HAM. Filipina dibawah Duterte sendiri mulai menjauhi diri dari AS dan mendekatkan diri dengan China. Sebaliknya Presiden Xi Jinping menegaskan dalam pidato awal tahunnya bahwa pemerintahannya akan mempertahankan hal atas wilayah RRC, sebuah pidato yang merujuk pada wilayah Laut China Selatan yang diperebutkan China dengan ASEAN.

Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak memperkeruh suasana dengan meminta Indonesia ikut melakukan intervensi terhadap masalah dalam negeri Myanmar, sebuah langkah yang populer dengan pemilih Muslim di Malaysia mengingat masa Pemilu Malaysia sudah semakin dekat. Turki baru saja selamat dari usaha kudeta. Suriah masih dilanda perang sipil yang memanas dimana Rusia menunjukkan dukungannya dalam melawan ISIS. Sementara itu, Dubes Rusia untuk Turki dibunuh oleh assassin yang disinyalir terkait ISIS yang mengecam aksi Rusia di Timur Tengah. Amerika Serikat dalam pemerintahan Trump dengan keras mengancam produsen teknologi dan otomotif untuk memindahkan pabriknya ke Amerika Serikat, sebuah ancaman yang membuat Jepang mungkin akan melunak mengingat Ameriksa Serikat masih memegang pangsa pasar besar atas produk otomotifnya.

Dunia terus berputar dan setiap orang berkepentingan bekerja siang dan malam untuk merealisasikan tujuannya. Sangat naif jika Anda tidak melihat lebih jauh terhadap gelombang opini yang berusaha dibangun saat ini. Saring lah informasi yang Anda terima dan cross-check kebenarannya. Berpikirlah lebih kritis dan rasional. Terdapat lebih dari 1 alasan mengapa sebuah peristiwa dapat terjadi.

So… Reformasi Jilid II?

Di akhir hari, berjuanglah untuk apa yang Anda percayai. Namun hati-hati lah.

Apakah Anda adalah si pemain catur atau hanya lah boneka yang digerakkan oleh dalang yang tidak Anda ketahui?

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.