Menanggapi Kasus Pelecehan Seksual di KKN UGM

Tulisan ini dibuat untuk menanggapi artikelnya Balairung Press, “Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan”.

-

Pertama, apresiasi buat Balairung Press karena berhasil mengemas isu yang sensitif ini ke dalam tulisan yang enak dibaca, dan berhasil mengaduk-ngaduk emosi pembacanya.

Nggak banyak lho, media di jaman sekarang ini yang tulisannya bagus dan nggak clickbait.

-

Kedua, tentang substansi tulisannya.

Terus terang, aku kesal ketika membaca artikel ini.

Kesal dengan reaksi pejabat-pejabat LPPM yang ikut menyalahkan korban (Agni). Apalagi sampai menganalogikan korban dengan ikan asin. Sangat tidak pantas mengingat para pejabat LPPM memiliki tingkat pendidikan yang tinggi.

-

Ketiga, tentang netizen.

Meskipun HS melakukan sebuah kesalahan, menurutku, kita nggak berhak mempersekusi dan menelanjangi hak-haknya beliau.

Everybody makes mistake, everybody deserves a second chance.

Tentu saja pelaku harus dibikin jera. Supaya tidak mengulangi kesalahannya.

Tapi bukan kita, yang berhak melakukan itu. Bukan kita yang berhak menghakimi. Bukan kita yang berhak menghujat. Apalagi menyebarkan identitas HS ke mana-mana supaya di-blacklist perusahaan.

-

Keempat,

Memberikan nilai C kepada korban bukanlah prosedur yang bijak untuk menjaga nama baik almamater.

Semoga UGM bisa membenahi diri, membuat prosedur baru jika kejadian ini terulang lagi di masa depan.