Teman Hidup

Kita kemungkinan gak akan pernah bisa tahu siapa jodoh kita kalo belum ketemu. Dalam visiku, jodoh adalah seseorang yang perfectly fit dengan diri kita sendiri, dan dalam proses menunggu jodoh, sebagian besar kita adalah makhluk-makhluk kesepian.

Di luar sana ada banyak manusia, yang katanya sekitar 7 milyar (nggak, aku nggak akan saklek bilang dari sekian banyak, senyummu yang paling manis.), dan dalam seumur hidup mungkin hanya bertemu satu per sekian dari mereka, tapi entahlah kalau kamu presiden Amerika. Hal yang ketika didalami sangat sulit dipercaya dari fakta tersebut adalah, bertemu dengan jodohmu. Katakanlah kenal dengan satu per sekian, maka bertemu dengan jodoh adalah kemungkinan yang sangat kecil. Kita ini hanya debu dari bintang, tau.

Tapi ajaibnya dia ada di sana, ada dan sedang menghirup udara yang sama, ada di tanah yang sama, memandang langit yang sama. Bulan di matanya adalah bulan yang sama yang kamu lihat. Mungkin saat ini ia sedang berjalan, atau makan dengan teman-temannya, bercanda dengan seseorang yang sedang ia sukai, bertengkar dengan saudarinya, makan cronut, memakai baju terbaik, terlihat sangat lucu atau mungkin sedang sakit.

Ada hal yang menyakitkan dari kemungkinan-kemungkinan tersebut adalah jika kita bertemu dengan orang yang salah. Ia dalam keadaan yang pantas untuk kita, tertunda takdirnya untuk bertemu kita. Plot twist terburuk.

Tapi ada keyakinan bahwa suatu saat kita akan bertemu dengan orang yang selama ini disebut jodoh. Jika kamu muslim, maka kamu akan takjub. Orang yang memanggilmu sayang, memberi senyuman terbaiknya, yang membenarkan selimutmu, yang menua bersamamu, adalah orang yang sama yang telah ditulis oleh Tuhan, 50.000 tahun yang lalu. Ajaib, sejak 50.000 tahun yang lalu, ia bahkan memang dimaksudkan untuk menemanimu, bukan orang lain. Maka, jika memang dia orang yang diyakini telah tepat, yang akan aku lakukan adalah memberinya banyak-banyak afeksi, menemani setiap langkah dan berjalan bersama. Mendukungnya ketika senang dan membantunya ketika terpuruk. Jika ada hal yang mendistraksi, maka semoga aku bisa meyakinkan diri ini, bahwa dia adalah satu takdir yang berjalan bersama dengan takdirku sendiri, selama 50.000 tahun dengan lancar. Janganlah masalah sepele membuat perjalanan selama itu punya tanda merah dan terhenti sejenak.

Tulisan ini didedikasikan untukmu. Bayangkan betapa kerennya jika kamu membaca ini! Kita belum bertemu, tapi aku udah sedih sendiri di sini, karena kamu hidup tapi aku belum bisa bersaksi apa-apa atas hidup kamu, but still, you’re in every part of me! :)